Senin, 01 Juli 2013

permasalahan penduduk dikaitkan dengan penggunaan alat kontrasepsi

TUGAS KELOMPOK
MEODE KONTRASEPSI 
 
PERMASALAHAN-PERMASALAHAN PENDUDUK DI KAITKAN DENGAN
METODE KONTRASEPSI

KELOMPOK 2
MEILINDA
MARWAH ARFIANA
HENNY.L.TAPAHA
AZHAR TONGKOLORO
SYAHRUL AWALUDDIN


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS INDONESIA TIMUR
MAKASSAR
2013

PERMASALAHAN-PERMASALAHAN KEPENDUDUK DI KAITKAN DENGAN 
METODE KONTRASEPSI

Permasalahan-permasalahan di Indonesia saat ini dari tahun  ke tahun sudah tidak asing lagi. Masalah yang cukup memprihatinkan dari 1971 jumlah penduduk mencapai 119.208.229 jumlah penduduk. Pada tahun 1980 jumlah penduduk mencapai 147.490.298 penduduk, pada tahun 1990 jumlah penduduk mencapai 179.378.446 penduduk. Pada tahun 2000 jumlah penduduk mencapai 206.264.595 penduduk dan pada tahun 2010 jumlah penduduk mencapai 237.6411.326 penduduk. Laju pertumbuhan   penduduk Indonesia dari tahun ke tahun mencapai 1,49% peningkatan dari tahun sebelumnya.
Dari peningkatan laju pertumbuhan penduduk Indonesia, semakin meningkat pula kemisikinan di Indonesia. Dari angka kemiskinan tersebut semakin menigkat pulahlah  kelaparan. Dari meningkatnya kemiskinan dan kelaparan maka pengangguran semakin meningkat pula karena tidak terjangkaunya biaya pendidikan. Ketika biaya pendidikan tidak dapat di jangkau, maka banyak anak-anak yang tidak sekolah sehingga menjadi pengangguran dan pendapatanpun tidak ada maka semakin miskinlah masyarakat tersebut. Dari hal tersebut dapat di di simpulkan kemiskinan, kelaparan dan pengangguran merupakan permasalahan yang sangat kompleks yang terjadi di Indonesia saat ini.
Adapun permasalahan-permasalahan kependudukan yang ada di Indonesia, yaitu sebagai berikut:
1.    Kemisikinan
    Kemiskinan merupakan keadaan dimana masyarakat tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan dasar, seperti makanan, pakaian, tempat berlindung dan kesehatan. Salah satu penyebab kemiskinan yaitu karena laju pertumbuhan penduduk yang sangat pesat. Dalam hal ini pertumbuhan penduduk bisa di cegah dengan pelaksanaan progran Keluarga Berencana (KB).

2.    Kelaparan
Kelaparan terjadi disebabkan oleh faktor dari kemiskinan. Semakin meningkatnya kemiskinan, maka kelaparan semakin meningkat pula. Kelaparan terjadi karena ketidakmampuan masyarakat untuk membeli kebutuhan pokok, yang merupakan kebutuhan untuk kelangsungan hidup. Dari hal ini, perlu mendapat perhatian dari pemerintah untuk menanggulangi kemiskinan, sehingga tidak terjadi kelaparan.
3.    Pengangguran
Pengangguran disebabkan oleh lebih banyaknya tenaga kerja daripada lapangan pekerjaan. Hal ini di sebabkan karena laju pertumbuhan penduduk yang semakin pesat. Semakin bertambahnya penduduk, maka tenaga kerja semakin banyak dan lapangan pekerjaan semakin sempit, sehingga pengangguran semakin banyak pula, yang dapat menyebabkan kemiskinan semakin luas karena tidak ada pendapatan masyarakat sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup, sehingga terjadilah kelaparan.
Kemiskinan, kelaparan dan pengangguran terjadi di Indonesia, karena angka kelahiran yang semakin meningkat. Masalah-masalah kependudukan yang ada, dapat di atasi dengan menekan angka kelahiran, yaitu dengan cara program keluarga berencana. Upaya ini memerlukan adanya partisipasi dari semua pihak yang terkait, seperti masyarakat, instansi kesehatan, dan pemerintah. Pada zaman Presiden Soeharto, dikeluarkan sebuah program BKKBN yang bertujuan untuk mengurangi polusi di Indonesia, meningkatkan derajat kesejahteraan masyarakat dalam keluarganya dan mengajak pasangan suami/istri untuk merencanakan hanya bisa memiliki dua anak saja, karena dua anak lebih baik. Tapi yang menjadi kendalanya, yaitu kurangnya perhatian pemerintah terhadap program keluarga berencana sehingga ledakan penduduk semakin meningkat.  Pada zaman orde baru pertumbuhan penduduk masih sangat kecil dan seandainya itu di atasi oleh pemerintah dan tetap memperhatikan program KB, maka pertumbuhan penduduk tidak akan terlalu secepat ini. Tapi kenyataan yang ada, pemerintah kurang memperhatikan program tersebut dan mereka lebih memperhatikan pembangunan ekonomi yang lebih bersifat fisik konkret dimana keuntungan bisa dihitung secara langsung. Sedangkan program Keluarga Berencana (KB) di abaikan dengan alasan keterbatasan dana. Selain pemerintah, masyarakatpun harus turut berpartisipasi dalam program Keluarga Berencana, dengan menggunakan alat kontrasepsi yang bertujuan untuk membatasi angka kelahiran anak mereka. Tetapi mereka tidak menggunakan alat kontrasepsi tersebut, dengan beberapa alasan yaitu tidak adanya pengetahuan mereka mengenai betapa pentingnya penggunaan alat kontrasepsi tersebut, tidak adanya kemauan untuk menggunakan alat kontrasepsi apakah dengan alasan tidak adanya biaya ataupun dengan alasan ketidaknyamanan pada saat melakukan hubungan seksual bahkan masih ada masyarakat yang beranggapan, bahwa semakin banyak anak, maka semakin banyak pula rejeki. Dan meskipun mereka sudah mengetahui fungsi dari alat kontrasepsi tersebut, tapi alasan yang paling utama yaitu tidak adanya kesadaran masyarakat akan hal itu. Untuk itu, tenaga kesehatan harus memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai betapa pentingnya mengikuti program Keluarga Berencana, agar masalah-masalah kependudukan yang ada dapat teratasi dengan baik dan masyarakat pun bisa hidup makmur.
Program Keluarga Berencana saat ini, merupakan salah satu program pemerintah yang bertujuan untuk menekan angka kelahiran dan mengatur kehidupan dalam keluarga dengan baik. Karena dengan menurunnya angka kelahiran dan dapat mengatur kehidupan dalam keluarga dengan baik maka akan dicapai keluarga berkualitas dan akan didapat generasi baik pula.


          



Rabu, 12 Juni 2013

 MAKALAH ANALISIS KUALITAS MAKANAN


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Makhluk hidup di bumi membutuhkan energi untuk melangsungkan hidupnya dan untuk tumbuh. Energi tersebut sangat dibutuhkan oleh tubuh setiap makhluk hidup baik manusia, hewan dan juga tumbuhan. Energi tersebut dapat diperoleh di alam sekitar tempat tinggal mereka. Energi yang diperlukan oleh tubuh makhluk hidup, terutama manusia dapat diperoleh dari makanan yang dimakan. Makan merupakan salah satu kebutuhan manusia untuk melangsungkan hidupnya. Makanan ringan adalah suatu makanan yang dimakan guna menghilangkan rasa lapar seseorang sementara waktu, memberi sedikit suplai energi ke tubuh, atau sesuatu yang dimakan untuk dinikmati rasanya. Makanan ringan atau snack ini enak untuk dimakan kapanpun dan dimanapun sebab tidak membutuhkan peralatan untuk memakannya seperti piring dan sebagainya. Makanan ringan saat ini sangat banyak jenisnya dan setiap produsen makanan mengeluarkan lebih dari satu jenis makanan ringan yang berbeda. Pangsa pasar makanan ringan adalah anak-anak namun tidak sedikit remaja juga mengkonsumsi makanan ringan. Selain dapat digunakan untuk menghabiskan waktu, makanan ringan juga dapat digunakan sebagai teman makanan pokok. Banyaknya makanan ringan yang dikeluarkan oleh produsen tidak berarti semua itu baik untuk dikonsumsi, terutama untuk anak-anak yang juga perlu diperhatikan tingkat gizi yang terkandung pada setiap makanan ringan. Gizi merupakan nutrient yang diperlukan oleh tubuh untuk melakukan fungsinya, yaitu mengatur energi, membangun dan memelihara jaringan, serta mengatur proses- proses kehidupan. Banyak hal yang dapat timbul bila tubuh kekurangan gizi antara lain pertumbuhan dapat terhambat, pertahanan tubuh kurang dan juga dapat berpengaruh terhadap perkembangan mental dan kemampuan berpikir.
B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang diatas, maka kami dapat mengajukan rumusan masalah sebagai berikut
1.    Apa yang dimaksud dengan makanan ringan ?
2.    Apa kandungan gizi makanan ringan?
3.    Bagaimana sifat-sifat kandungan gizi makanan ringan?
4.    Bagaimana analisis makanan ringan?
5.    Bagaimana hubungan makanan dengan kesehatan?


C.    Manfaat dan tujuan penulisan
penulisan makalah ini diharapkan dapat mencapai beberapa tujuan dalam memahami penanggulangan penyakit HIV/AIDS, yakni sebagai berikut :
1.    Untuk mengetahui definisi dari makanan ringan
2.    Untuk mengetahui kandungan gizi makanan ringan
3.    Untuk mengetahui analisis makanan ringan.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian
Makanan adalah bahan, biasanya berasal dari hewan  atau tumbuhan, dimakan oleh makhluk hidup untuk memberikan tenaga dari nutrisi
Makanan yang dibutuh manusia biasanya dibuat melalui bertani atau berkebun yang meliputi sumber hewan dan tumbuhan. Beberapa orang menolak untuk memakan makanan dari hewan seperti, daging, telur dan lain-lain. Mereka yang tidak suka memakan daging dan sejenisnya disebut vegetarian yaitu orang yang hanya memakan sayuran sebagai makanan pokok mereka.
Sedangkan makanan ringan makanan ringan atau disebut juga snack adalah istilah bagi makanan yang bukan merupakan menu utama (makan pagi, makan siang atau makan malam). Makanan yang dianggap makanan ringan adalah sesuatu yang dimaksudkan untuk menghilangkan rasa lapar seseorang sementara waktu, memberi sedikit suplai energi ke tubuh, atau sesuatu yang dimakan untuk dinikmati rasanya. Adapun kandungan gizi yang tertera pada setiap kemasan makanan ringan adalah sebagai berikut:
1.     Karbohidrat memegang peranan penting dalam alam karena merupakan sumber energi utama bagi manusia dan hewan yang harganya relatif murah. Karbohidrat atau Hidrat Arang adalah suatu zat gizi yang fungsi utamanya sebagai penghasil energi. Walaupun lemak menghasilkan energi lebih besar, namun karbohidrat lebih banyak di konsumsi sehari-hari sebagai bahan makanan pokok. Karbohidrat merupakan bahan makanan penting dan sumber tenaga yang terdapat dalam tumbuhan dan daging hewan. 
Setiap makanan mempunyai kandungan gizi yang berbeda.Begitupun dengan makanan ringan mempunyai kandungan gizi  Protein, karbohidrat, lemak, dan lain-lain adalah:
2.    Protein
 Protein adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Molekul protein mengandung karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen dan kadang kala sulfur serta fosfor. Protein berperan penting dalam struktur dan fungsi semua sel makhluk hidup dan virus. Protein merupakan salah satu sumber gizi, protein berperan sebagai sumber asam amino bagi organisme yang tidak mampu membentuk asam amino tersebut. Protein yang didapat dari makanan sehari-hari harus diubah terlebih dahulu menjadi asam amino sebelum dapat diserap oleh darah. Protein ada dua jenis yaitu protein hewani dan protein nabati. Nilai protein hewani lebih tinggi dibandingkan bengan protein nabati yang berasal dari sayur-mayur. Nilai protein nabati dapat diperoleh dari campuran bahan makanan nabati atau sayuran yang mengandung protein tinggi seperti beras dengan kacang kedelai atau tempe. Nilai biologis protein tergantung juga dari faktor-faktor lain seperti jumlah masukan energi pada saat mendapat protein dan waktu pemberiannya.Protein sangat penting bagi pertumbuhan dan pemeliharaan, pembentukan ikatan-ikatan esensial tubuh, mengatur keseimbangan air, memelihara netralitas tubuh, pembentukan antibodi, mengangkut zat-zat gizi, dan sumber energi. Sebagai sumber energi protein ekuivalen dengan karbohidrat, namun protein sebagai sumber energi relatih lebih mahal, baik dalam hargga maupun dalam jumlah energi yang dibutuhkan untuk metabolisme. Banyak energi yang dibutuhkan tubuh anak-anak lebih banyak dari pada jumlah energi yang dibutuhkan oleh orang dewasa.
3.    Lemak
lemak terdapat dalam makanan kita sehari-hari. Lemak tidak pernah larut dalam plasma darah, kecuali bila berikatan dengan protein tertentu, ia bisa menyatu dan  mengambang dalam darah.Lemak sama dengan minyak. Orang menyebut lemak secara khusus bagi minyak nabati atau hewani yang berwujud padat pada suhu ruang. Lemak juga biasanya disebutkan kepada berbagai minyak yang dihasilkan oleh hewan, lepas dari wujudnya yang padat maupun cair. Lemak dan minyak merupakan sumber energi paling padat yang menghasilkan energi lebih banyak dari energi yang dihasilkan oleh karbohidrat dan protein dalam jumlah yang sama. Sebagai simpanan lemak merupakan cadangan energi tubuh paling besar. Simpanan ini merupakan konsumsi berlebihan salah satu kombinasi zat-zat energi yaitu karbodihat, protein, dan lemak. Lemak menghemat penggunaan protein untuk sintesis protein, sehingga protein tidak digunakan sebagai sumber energi. Lemak memperlambat sekresi asam lambung dan memperlambat pengosongan lambung, sehingga lemak memberi resa kenyang lebih lama. Lemak merupakan pelumas dan membantu pengeluaran sisa pencernaan. Lemak juga berfungsi memelihara suhu tubuh. Lapisan lemak yang menyelubungi organ-organ tubuh seperti jantung, hati, dan ginjal membantu menahan organ-organ tersebut tetap ditempatnya dan melindunginya terhadap benturan dan bahaya lain.


B.    Sifat-Sifat Kandungan Makanan
a.    Fungsi karbonhidrat
1.    Sumber energi
2.    Sumber serat
3.    Penentu karakteristik bahan pangan
4.    Mencegah pemecahan protein yang berlebihan
5.    Mencegah kehilangan mineral
6.    Membantu metabolisme lemak dan protein
b.    Pembentukan karbohidrat secara alami
1.    Merupakan hasil proses fotosintesis
                          CO2  + H2O     →     C6H12O6  + O2
2.    Secara sintesis kimia misalnya pembuatan sirup formosa yaitu dengan menambahkan larutan alkali encer pada formaldehyde
3.     Mengekstrak dari bahan – bahan nabati sumber karbohidrat
c.    Karbohidrat Dalam Bahan Pangan
1.    Pada tumbuhan : pati, pektin, selulosa
2.    Pada buah – buahan : glukosa dan fruktosa
3.    Pada hewan : glikogen
4.    Pada susu : laktosa
d.    Fungsi protein dalam tubuh :
1.    Zat pembangun
2.    Zat pengatur
e.    Sifat – sifat Protein
1.    Tidak larut dalam air
2.    Dapat dihidrolisa dengan asam, basa, dan enzim
3.    Mempunyai 2 macam bentuk : serabut ( fibriler) dan bola ( globuler)
4.    Bersifat amfoter
5.    Dapat diendapkan oleh ion logam berat, asam mineral kuat, garam – garam logam berat
6.    Bisa mengalami denaturasi
f.    Sifat – sifat lemak / minyak
a.    .Tidak larut dalam air
b.    Fiskositas meningkat bila rantai  C semakin panjang, suhu semakin rendah dan ikatan jenuh.
c.    Berat jenis ( g/cm3) semakin menigkat bila suhu rendah dan berat molekul tinggi dan ikatan jenuh.
d.    Lemak berbentuk padat dan plastis karena ada fase padat dan cair.
e.    Titik cair semakin meningkat bila rantai C semakin panjang.
C.    Analisis makanan ringan
    Analisis Komponen Utama merupakan suatu teknik mereduksi data multivariat (banyak variabel) yang mencari untuk mengubah (menstransformasi) suatu matriks data awal atau asli menjadi suatu set kombinasi linier yang lebih sedikit akan tetapi menyerab sebagian besar jumlah varian dari data awal (Supranto, 2004). Tujuannya adalah menjelaskan sebanyak mungkin jumlah varian data asli dengan sedikit mungkin komponen utama yang disebut komponen. Banyaknya komponen yang bisa di ekstrak dari data awal atau asli ialah sebanyak variabel yang ada. Katakanlah ada m komponen yang bisa dihasilkan dari p variabel asli, maka komponen m paling banyak adalah m = p, artinya banyak komponen sama dengan banyak variabel. Hal ini tidak baik sebab komponen yang harus dipertahankan adalah sesedikit mungkin, akan tetapi sudah mencakup sebagian besar informasi yang terkandung dalam data asli. Langkah – langkah yang dilakukan dalam transformasi adalah : 1. Menstandartkan masing – masing variabel bebas dan menpunyai nilai yang mendekati dengan nilai rataan peubah ke-j. 2.2 KOMPOSISI GIZI MAKANAN RINGAN Makanan adalah bahan, biasanya berasal dari hewan atau tumbuhan, dimakan oleh makhluk hidup untuk memberikan tenaga dan nutrisi pada tubuh. Setiap makanan mempunyai kandungan gizi yang berbeda. Protein, karbohidrat, lemak, dan lain-lain adalah salah satu contoh gizi yang akan kita dapatkan dari makanan.
D.    Contoh analisis makanan
Makanan ringan merek OS (Oops Cheezy Spagheti, OC (Oops Special Fried Chicken), OB (Oops Roasted Beef), dan FG (Fugu Grilled Cheese) memiliki kecenderungan tertinggi pada variabel energi total. Merek makanan ringan PB (Piattos Barbeku), PK (Piattos Keju), FS (Fugu Seaweed), FG (Fugu Grilled Cheese), OR (Oops Roasted Sweet Corn), OC (Oops Special Fried Chicken), OB (Oops Roasted Beef), dan OT (Oops Baked Chicken Tomato) memiliki kecenderungan terhadap variabel karbohidrat total. Makanan ringan yang memiliki kecenderungan pada variabel protein adalah CKA (Cheetos Keju Amerika) dan juga cenderung pada variabel energi dari lemak. Merek makanan ringan yang cenderung terhadap variabel lemak total adalah makanan ringan merek CKA (Cheetos Keju Amerika) dan KH (Kaya King Honey Roasted Peanuts). Makanan ringan merek OT (Oops Baked Chicken Tomato), OR (Oops Roasted Sweet Corn), FS (Fugu Seaweed), PB (Piattos Barbeku), dan PK (Piattos Keju) memiliki kecenderungan tertinggi terhadap variabel Natrium. Makanana ringan merek TCF (Taro Net Curly Fries), JC (JetZ Choco Berry), dan MP (Mayasi Pedas) tidak memiliki kecenderungan terhadap salah satu variabel gizi yang dikandungnya. Ha ini disebabkan karena kandungan gizi yang terkandung pada ketiga makanan ringan diatas adalah sedikit. Hal ini dapat dilihat di Lampiran A. Nilai variabel yang sedikit tersebut disebabkan karena pada makanan ringan merek tersebut memiliki variabel lain yang lebih dominan. Namun hal tersebut tidak dianalisis sebab datasan masalah yang digunakan adalah makanan ringan yang memiliki kandungan gizi Energi, Energi dari lemak, Lemak, Lemak jenuh, karbohidrat, Protein dan Natrium Uraian di atas dijelaskan bahwa seorang anak yang membutuhkan energi banyak disarankan memakan makanan ringan merek OS (Oops Cheezy Spagheti, OC (Oops Special Fried Chicken), OB (Oops Roasted Beef), dan FG (Fugu Grilled Cheese). Bagi anak yang membutuhkan gizi karbohidrat dapat
memakan makanan ringan merek PB (Piattos Barbeku), PK (Piattos Keju), FS (Fugu Seaweed), FG (Fugu Grilled Cheese), OR (Oops Roasted Sweet Corn), OC (Oops Special Fried Chicken), OB (Oops Roasted Beef), dan OT (Oops Baked Chicken Tomato). Bagi yang membutuhkan protein untuk tubuh, maka anak tersebut disarankan memakan makanan ringan merek CKA (Cheetos Keju Amerika), begitu pula jika membutuhkan lemak yang banyak maka makanan ringan yang sesuai adalah makanan ringan merek CKA (Cheetos Keju Amerika) dan KH (Kaya King Honey Roasted Peanuts). Jika anak membutuhkan kadar natrium pada tubuh, maka diapat memakan makanan ringan merek OT (Oops Baked Chicken Tomato), OR (Oops Roasted Sweet Corn), FS (Fugu Seaweed), PB (Piattos Barbeku), dan PK (Piattos Keju.

E.    Informasi Nilai Gizi
        Informasi gizi untuk berbagai jenis dan ukuran porsi Makanan Ringan ditampilkan    di bawah ini.
Lihat nilai gizi lainnya dengan menggunakan filter di bawah ini:
jenis Makanan Ringan populer    Lemak(g)    Karb(g)    Prot(g)    Kalori
Keripik Kentang
 1 tas porsi tunggal
10,49    13,93    1,84    153
Kerupuk / Biskuit
 1. kerupuk, segi empat
1,01    2,44    0,30    20
Kue
 1 kecil
1,07    3,45    0,27    24

Makanan terkait dengan Makanan Ringan:
 Biji bunga matahari    Biji-Bijian
Biskuit
Brownies

 Buah
Cokelat
Dendeng
Kacang Campuran

Kacang-kacangan    Keripik
Keripik Kentang
Kerupuk

Kue Beras    Permen
Permen Karet
Puding

Wafer

    kandungan gizi makanan ringan yang terdapat pada kemasannya. Bagaimana kecenderungan merek makanan ringan terhadap kandungan gizinya.
    Dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia dan memiliki nilai kandungan gizi karbohidrat, protein, lemak total, lemak jenuh, energi, natrium dan juga takaran saji yang tertera pada setiap kemasan makanan ringan. Dari setiap kandungan gizi yang tertera pada kemasan makanan ringan.
     Makanan bergizi adalah makanan yang mengandung zat-zat yang diPerlukan oleh tubuh. Adapun zat gizi yang di perlukan tubuh, antara lain karbohidrat,lemak,protein,Vitamin,mineral, dan air.A karbohidratkarbohidrat merupakan sumber tenaga utama bagi tubuh manusia. Hampir 80% seluruh zat tenagadiperoleh dari karbohidrat. Bahan makanan yang mengandung karbohidrat, antara lain beras, jagung,gandum,ketela pohon,dan ubi.B Lemak Lemak di dalam tubuh merupakan sumber zat tenaga dan berfungsi sebagai cadangan makanan. Lemak Yang membahayakan kesehatan disebut kolesterol.Berdasarkan sumbernya,lemak ada dua macam yaitu, lemak nabati berasal dari tumbuh-tumbuhan,misalnya kelapa,margarine,kacang tanah,kemiri,dan buahAvokad.2 lemak hewani berasal dari hewan,misalnya daging,minyak ikan,susu,keju,dan mentega. Protein Zat makanan yang berfungsi sebagai zat pembangun ialah protein.protein stubuh.Kekurangan protein dapat mengalami gangguan metabolisme tubuh,seperti diare,luka pada otot,Kekurangan darah,dan menurunya daya tahan tubuh. makanan bergizi seimbang adalah makanan yang mengandung semua zat gizi yang diperlukanOleh tubuh dalam jumlah yang memadai.
F.    Komposisi Gizi Makanan Ringan
        Makanan adalah bahan, biasanya berasal dari hewan atau tumbuhan, dimakan oleh makhluk hidup untuk memberikan tenaga dan nutrisi pada tubuh. Setiap makanan mempunyai kandungan gizi yang berbeda. Protein, karbohidrat, lemak, dan lain-lain adalah salah satu contoh gizi yang akan kita dapatkan dari makanan.Makanan ringan atau disebut juga snack adalah istilah bagi makanan yang bukan merupakan menu utama (makan pagi, makan siang atau makan malam). Makanan yang dianggap makanan ringan adalah sesuatu yang dimaksudkan untuk menghilangkan rasa lapar seseorang sementara waktu, memberi sedikit suplai energi ke tubuh, atau sesuatu yang dimakan untuk dinikmati rasanya.
        Adapun kandungan gizi yang tertera pada setiap kemasan makanan ringan adalah sebagai berikut :
1.    Karbohidrat memegang peranan penting dalam alam karena   merupakan sumber energi utama bagi manusia dan hewan yang harganya relatif murah. Karbohidrat atau Hidrat Arang adalah suatu zat gizi yang fungsi utamanya sebagai penghasil energi. Walaupun lemak menghasilkan energi lebih besar, namun karbohidrat lebih banyak di konsumsi sehari-hari sebagai bahan makanan pokok. Karbohidrat merupakan bahan makanan penting dan sumber tenaga yang terdapat dalam tumbuhan dan daging hewan.
    Karbohidrat sangat diperlukan oleh tubuh anak yang cenderung tumbuh, terutama sebagai sember energi. Tidak ada ketentuan tentang kebutuhan karbohidrat bagi tubuh
    Protein Protein adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang     merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Molekul protein mengandung karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen dan kadang kala sulfur serta fosfor. Protein berperan penting dalam struktur dan fungsi semua sel makhluk hidup dan virus. Protein merupakan salah satu sumber gizi, protein berperan sebagai sumber asam amino bagi organisme yang tidak mampu membentuk asam amino tersebut.
2.    Protein yang didapat dari makanan sehari-hari harus diubah terlebih dahulu menjadi asam amino sebelum dapat diserap oleh darah. Protein ada dua jenis yaitu protein hewani dan protein nabati. Nilai protein hewani lebih tinggi dibandingkan bengan protein nabati yang berasal dari sayur-mayur. Nilai protein nabati dapat diperoleh dari campuran bahan makanan nabati atau sayuran yang mengandung protein tinggi seperti beras dengan kacang kedelai atau tempe. Nilai biologis protein tergantung juga dari faktor-faktor lain seperti jumlah masukan energi pada saat mendapat protein dan waktu pemberiannya.Protein sangat penting bagi pertumbuhan dan pemeliharaan, pembentukan ikatan-ikatan esensial tubuh, mengatur keseimbangan air, memelihara netralitas tubuh, pembentukan antibodi, mengangkut zat-zat gizi, dan sumber energi. Sebagai sumber energi protein ekuivalen dengan karbohidrat, namun protein sebagai sumber energi relatih lebih mahal, baik dalam hargga maupun dalam jumlah energi yang dibutuhkan untuk metabolisme. Banyak energi yang dibutuhkan tubuh anak-anak lebih banyak dari pada jumlah energi yang dibutuhkan oleh orang dewasa.
3.    Lemak Lipid atau lemak terdapat dalam makanan kita sehari-hari. Lemak tidak pernah larut dalam plasma darah, kecuali bila berikatan dengan protein tertentu, ia bisa menyatu dan mengambang dalam darah Lemak sama dengan minyak. Orang menyebut lemak secara khusus bagi minyak nabati atau hewani yang berwujud padat pada suhu ruang. Lemak juga biasanya disebutkan kepada berbagai minyak yang dihasilkan oleh hewan, lepas dari wujudnya yang padat maupun cair. Lemak dan minyak merupakan sumber energi paling padat yang menghasilkan energi lebih banyak dari energi yang dihasilkan oleh karbohidrat dan protein dalam jumlah yang sama. Sebagai simpanan lemak merupakan cadangan energi tubuh paling besar. Simpanan ini merupakan konsumsi berlebihan salah satu kombinasi zat-zat energi yaitu karbodihat, protein, dan lemak. Lemak menghemat penggunaan protein untuk sintesis protein, sehingga protein tidak digunakan sebagai sumber energi. Lemak memperlambat sekresi asam lambung dan memperlambat pengosongan lambung, sehingga lemak memberi resa kenyang lebih lama. Lemak merupakan pelumas dan membantu pengeluaran sisa pencernaan

G.    Hubungan Makanan Dengan Kesehatan
        Kita semua tahu bahwa makanan atau pangan merupakan kebutuhan pokok dalam kehidupan kita. Sesungguhnya makanan mengambil peranan yang penting dalam memelihara kesehatan jasmani dan rokhani kita. Namun peranana makanan tidak sebatas pada mempertahankan hidup dan pemuasan rasa lapar, tetapi peranannya penting pula dalam kehidupan social.
        Ilmu pengetahuan tentang makanan, khususnya tentang gizi membuktikan bahwa pemilihan dan konsumsi makanan yang tepat membantu mempertahankan umur kita. Mutu makanan serta jumlah yang tepat berpengaruh pada kesehatan.
        Siapapun juga yang berhubungan dengan makanan, baik penghasil, pengolah, penyalur, konsumen, perlu mengetahui pengaruh makanan pada kesehatan dan kesejahteraan dirinya maupun orang lain di lingkunganya. Harus mengetahui pula akibat dari kekuranganya atau kelebihan makanan.
        Para ahli gizi telah menghitung berapa jumlah zat makanan yang diperlukan seorang sehari. Bahkan makanan manakah kiranya yang merupakan sumber yang baik dari zat-zat gizi tertentu. Perlu diketahui pula bahwa kebutuhan setiap orang berbeda. Kebutuhan makanan orang dewasa berbeda dengan kebutuhan makanan anak, demikian pula dengan kebutuhan ibu yang mengandung.
        Hubungan antara makanan dengan kesehatan sangat erat. Seorang yang bergizi baik mempunyai daya tahan terhadap penyakit. Apabila seorang ibu yang sedang mengandung tidak menjaga makananya, maka janin yang di kandung akan kekurangan zat gizi. Bayi yang baru lahir perlu zat gizi yang di dapatkan dari susu ibu atau susu formula. Kalau ia kurang memperoleh apa yang di butuhkan, ia akan menderita kurang gizi.
         Fungsi makanan bagi tubuh kita adalah untuk menjaga agar badan tetap sehat,Tumbuh, dan berkembang dengan baik. Makanan bergizi bukan berarti makanan yang mahal,Enak, dan mengenyangkan saja.
         Manusia membutuhkan makanan untuk kelangsungan hidupnya.Dengan   mengonsumsi makanan seimbang maka :
1.    Pertumbuhan fisik, baik, sehat dan kuat.
2.    Meningkatnya daya tahan tubuh.
3.    Bertambahnya energi /tenaga.
    Bahan makanan juga dapat menjadi media untuk berkembang biaknya      Bakteri     patogen dan non patogen.
        Aspek-Aspek yang perlu di perhatikan dari makanan
a.    Values ( Nilai) : Kandungan Gizi.
b.    Whole Someness : Kemurnian dan Kesegaran.
c.    Hygiene and Sanitation : Kebersihan.
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
              makanan ringan makanan ringan atau disebut juga snack adalah istilah bagi makanan yang bukan merupakan menu utama (makan pagi, makan siang atau makan malam). Makanan yang dianggap makanan ringan adalah sesuatu yang dimaksudkan untuk menghilangkan rasa lapar seseorang sementara waktu, memberi sedikit suplai energi ke tubuh, atau sesuatu yang dimakan untuk dinikmati rasanya. Adapun kandungan gizi yang tertera pada setiap kemasan makanan ringan.:
1.    karbonhidrat
2.    protein
3.    .lemak
B.    Saran
    Diharapkan kepada para pembaca supaya lebih memahami seperti apa itu analis makanan dan seperti apa hasil dari uji tersebut.



DAFTAR  PUSTAKA
 Almatsier, S. (2003), Prinsip Dasar Ilmu Gizi, PT. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta. Hanie, U
Analisis Penelompokan Susu Balita berdasarkan komposisi Gizi dan Harga Jual Studi
 New York. Karyadi, D. dan Muhilal (1985), Kecukupan Gizi Yang Dianjurkan, PT Gramedia: Jakarta.         
Pudjiadi, S. (2003), Ilmu Gizi Klinis pada Anak. Edisi Keempat, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Rahayu, D.P. (2007), Analisis Multivariat terhadap kandungan Gizi pada Kemasan Mie Instant. Tugas Akhir, Statistika FMIPA ITS. Supranto, J. (2004), Analisis Multivariat Arti dan Interpretasi, PT. Rineka Cipta: Jakarta. Sudjana. (1982), Metoda Statistika, Tarsito: Bandung. Walpole, R.E. (1995), Pengantar Statistika, Edisi Ketiga, PT Gramedia Pustaka Utama: Jakarta
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pernikahan usia anak atau lebih dikenal dengan istilah pernikahan di bawah umur merupakan salah satu fenomena sosial yang banyak terjadi diberbagai tempat di tanah air, baik di perkotaan maupun di perdesaan.
Di daerah perkotaan sebanyak 21,75% anak-anak dibawah usia 16 tahun sudah dinikahkan. Di perdesaan, angkanya jauh lebih besar yaitu 47,79 %, yang menampakkan kesederhanaan pola pikir masyarakatnya sehingga mengabaikan banyak aspek yang seharusnya menjadi syarat dari suatu perkawinan. Setelah menikah seorang gadis di desa sudah harus meninggalkan semua aktivitasnya dan hanya mengurusi rumah tangganya, begitu pula suaminya di tuntut lebih memiliki tanggung jawab karena harus mencari nafkah.
Pernikahan usia dini telah banyak berkurang di berbagai belahan negara dalam tigapuluh tahun terakhir, namun pada kenyataannya masih banyak terjadi di negara berkembang terutama di pelosok terpencil. Pernikahan usia dini terjadi baik di daerah pedesaan maupun perkotaan di Indonesia serta meliputi berbagai strata ekonomi dengan beragam latarbelakang.
Berdasarkan Survei Data Kependudukan Indonesia (SDKI) 2007, di beberapa daerah didapatkan bahwa sepertiga dari jumlah pernikahan terdata dilakukan oleh pasangan usia di bawah 16 tahun. Jumlah kasus  pernikahan dini di Indonesia mencapai 50 juta penduduk dengan rata-rata usia perkawinan 19,1 tahun. Di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Jambi, dan Jawa Barat, angka kejadian pernikahan dini berturut-turut 39,4%, 35,5%, 30,6%, dan 36%. Bahkan di sejumlah pedesaan, pernikahan seringkali dilakukan segera setelah anak perempuan mendapat haid pertama.
Menikah di usia kurang dari 18 tahun merupakan realita yang harus dihadapi sebagian anak di seluruh dunia, terutama negara berkembang. Meskipun Deklarasi Hak Asasi Manusia di tahun 1954 secara eksplisit menentang pernikahan anak, namun ironisnya, praktek pernikahan usia dini masih berlangsung di berbagai belahan dunia dan hal ini merefleksikan perlindungan hak asasi kelompok usia muda yang terabaikan. Implementasi Undang-Undangpun seringkali tidak efektif dan terpatahkan oleh adat istiadat serta tradisi yang mengatur norma sosial suatu kelompok masyarakat.
B.    Tujuan
1.    Tujuan Umum
Untuk dapat mengetahui masalah akibat pernikahan Dini, baik bagi pembaca maupun bagi penyusun.
2.    Tujuan Khusus
a.    Untuk mengetahui pengertian pernikahan usia Dini
b.    Untuk dapat mengetahui Tinjauan epidemiologis pernikahan anak di penjuru dunia
c.    Untuk dapat mengetahui Faktor yang mendorong maraknya pernikahan anak
d.    Untuk dapat mengetahui Permasalahan dalam pernikahan usia dini
e.    Untuk dapat mengetahui Peran petugas kesehatan masyarakat menyikapi pernikahan usia dini

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Pernikahan Dini
Anak adalah seseorang yang terbentuk sejak masa konsepsi sampai akhir masa remaja. Definisi umur anak dalam Undang-undang (UU) Pemilu No.10 tahun 2008 (pasal 19, ayat 1) hingga berusia 17 tahun. Sedangkan UU Perkawinan No.1 Tahun 1974 menjelaskan batas usia minimal menikah bagi perempuan 16 tahun dan lelaki 19 tahun. Definisi anak berdasarkan UU No. 23 tahun 2002, adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk dalam anak yang masih berada dalam kandungan.
Pernikahan Dini didefinisikan sebagai pernikahan yang terjadi sebelum anak mencapai usia 18 tahun, sebelum anak matang secara fisik, fisiologis, dan psikologis untuk bertanggungjawab terhadap pernikahan dan anak yang dihasilkan dari pernikahan tersebut.
B.    Tinjauan epidemiologis pernikahan anak di penjuru dunia
Hasil penelitian UNICEF di Indonesia (2002), menemukan angka kejadian pernikahan anak berusia 15 tahun berkisar 11%, sedangkan yang menikah di saat usia tepat 18 tahun sekitar 35%. Praktek pernikahan usia dini paling banyak terjadi di Afrika dan Asia Tenggara. Di Asia Tenggara didapatkan data bahwa sekitar 10 juta anak usia di bawah 18 tahun telah menikah, sedangkan di Afrika diperkirakan 42% dari populasi anak, menikah sebelum mereka berusia 18 tahun. Di Amerika Latin dan Karibia, 29% wanita muda menikah saat mereka berusia 18 tahun. Prevalensi tinggi kasus pernikahan usia dini tercatat di Nigeria (79%), Kongo (74%), Afganistan (54%), dan Bangladesh (51%). Secara umum, pernikahan dini lebih sering terjadi pada anak perempuan dibandingkan anak laki-laki, sekitar 5% anak laki-laki menikah sebelum mereka berusia 19 tahun. Selain itu didapatkan pula bahwa perempuan tiga kali lebih banyak menikah dini dibandingkan laki-laki. Analisis survei penduduk antar sensus (SUPAS) 2005 dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) didapatkan angka pernikahan di perkotaan lebih rendah dibanding di pedesaan, untuk kelompok umur 15-19 tahun perbedaannya cukup tinggi yaitu 5,28% di perkotaan dan 11,88% di pedesaan. Hal ini menunjukkan bahwa wanita usia muda di pedesaan lebih banyak yang melakukan perkawinan pada usia muda. Meskipun pernikahan anak merupakan masalah predominan di negara berkembang, terdapat bukti bahwa kejadian ini juga masih berlangsung di negara maju yang orangtua menyetujui pernikahan anaknya berusia kurang dari 15 tahun.
C.    Faktor yang mendorong maraknya pernikahan anak
Faktor yang Melatar Belakangi Pernikahan Usia Dini :
1.    Para orang tua merasa kehidupan anaknya akan lebih terjamin apabila dinikahkan dengan orang yang mereka kenal. Rata-rata pernikahan di usia dini dilakukan oleh orang tua dengan cara menjodohkan anaknya dengan kerabat-kerabat mereka. Hal ini dimaksudkan agar kehidupan anak mereka akan lebih baik. Selain itu, para orang tua ingin hubungan keluarga diantara mereka lebih dekat sehingga materil yang mereka punya akan dinikmati sendiri oleh keluarganya (Perkawinan Harta).
2.    Kedua orang tua pada dasarnya ingin segera lepas tanggung jawab terhadap  anaknya. Setelah mengurus, membesarkan anaknya hingga besar mereka akan sangat lega apabila anaknya telah menikah.
3.    Kedua orang tua juga tidak ingin jika sewaktu-waktu tejadi fitnah dikarenakan hubungan tidak sehat yang dilakukan oleh anak mereka. Misalnya saja mereka mulai bepergian tengah malam dan yang paling menakutkan ialah perilaku seks bebas.
4.    Hamil diluar nikah juga merupakan alasan yang banyak dijumpai dikalangan masyarakat, sebab dilihat dari perkembangan jaman pada era globalisasi ini telah banyak budaya-budaya asing yang masuk dan memberi contoh yang buruk bagi perkembangan psikologis anak yang lama-kelamaan akan memunculkan rasa penasaran terhadap sesuatu yang baru mereka jumpai.
D.    Permasalahan dalam pernikahan usia dini
Beberapa permasalahan dalam pernikahan anak meliputi faktor yang mendorong maraknya pernikahan anak, pengaruhnya terhadap pendidikan, terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, dampak terhadap kesehatan reproduksi, anak yang dilahirkan dan kesehatan psikologi anak, serta tinjauan hukum terkait dengan pernikahan anak.
1.    Pernikahan anak dan derajat pendidikan
Semakin muda usia menikah, maka semakin rendah tingkat pendidikan yang dicapai oleh sang anak. Pernikahan anak seringkali menyebabkan anak tidak lagi bersekolah, karena kini ia mempunyai tanggungjawab baru, yaitu sebagai istri dan calon ibu, atau kepala keluarga dan calon ayah, yang diharapkan berperan lebih banyak mengurus rumah tangga maupun menjadi tulang punggung keluarga dan keharusan mencari nafkah. Pola lainnya yaitu karena biaya pendidikan yang tak terjangkau, anak berhenti sekolah dan kemudian dinikahkan untuk mengalihkan beban tanggungjawab orangtua menghidupi anak tersebut kepada pasangannya. Dari berbagai penelitian didapatkan bahwa terdapat korelasi antara tingkat pendidikan dan usia saat menikah, semakin tinggi usia anak saat menikah maka pendidikan anak relatif lebih tinggi dan demikian pula sebaliknya.
Pernikahan di usia dini menurut penelitian UNICEF tahun 2006 tampaknya berhubungan pula dengan derajat pendidikan yang rendah. Menunda usia pernikahan merupakan salah satu cara agar anak dapat mengenyam pendidikan lebih tinggi.

2.    Masalah domestik dalam pernikahan usia dini
Ketidaksetaraan jender merupakan konsekuensi dalam pernikahan anak. Mempelai anak memiliki kapasitas yang terbatas untuk menyuarakan pendapat, menegosiasikan keinginan berhubungan seksual, memakai alat kontrasepsi, dan mengandung anak. Demikian pula dengan aspek domestik lainnya. Dominasi pasangan seringkali menyebabkan anak rentan terhadap kekerasan dalam rumah tangga. Kekerasan dalam rumah tangga tertinggi terjadi di India, terutama pada perempuan berusia 18 tahun. Perempuan yang menikah di usia yang lebih muda seringkali mengalami kekerasan. Anak yang menghadapi kekerasan dalam rumah tangga cenderung tidak melakukan perlawanan, sebagai akibatnya merekapun tidak mendapat pemenuhan rasa aman baik di bidang sosial maupun finansial. Selain itu, pernikahan dengan pasangan terpaut jauh usianya meningkatkan risiko keluarga menjadi tidak lengkap akibat perceraian, atau menjanda karena pasangan meninggal dunia.
3.    Kesehatan reproduksi dan pernikahan usia dini
Penting untuk diketahui bahwa kehamilan pada usia kurang dari 17 tahun meningkatkan risiko komplikasi medis, baik pada ibu maupun pada anak. Kehamilan di usia yang sangat muda ini ternyata berkorelasi dengan angka kematian dan kesakitan ibu. Disebutkan bahwa anak perempuan berusia 10-14 tahun berisiko lima kali lipat meninggal saat hamil maupun bersalin dibandingkan kelompok usia 20-24 tahun, sementara risiko ini meningkat dua kali lipat pada kelompok usia 15-19 tahun. Angka kematian ibu usia di bawah 16 tahun di Kamerun, Etiopia, dan Nigeria, bahkan lebih tinggi hingga enam kali lipat. Anatomi tubuh anak belum siap untuk proses mengandung maupun melahirkan, sehingga dapat terjadi komplikasi berupa obstructed labour serta obstetric fistula. Data dari UNPFA tahun 2003, memperlihatkan 15%-30% di antara persalinan di usia dini disertai dengan komplikasi kronik, yaitu obstetric fistula. Fistula merupakan kerusakan pada organ kewanitaan yang menyebabkan kebocoran urin atau feses ke dalam vagina. Wanita berusia kurang dari 20 tahun sangat rentan mengalami obstetric fistula. Obstetric fistula ini dapat terjadi pula akibat hubungan seksual di usia dini. Pernikahan anak berhubungan erat dengan fertilitas yang tinggi, kehamilan dengan jarak yang singkat, juga terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan.
Mudanya usia saat melakukan hubungan seksual pertamakali juga meningkatkan risiko penyakit menular seksual dan penularan infeksi HIV. Banyak remaja yang menikah dini berhenti sekolah saat mereka terikat dalam lembaga pernikahan, mereka seringkali tidak memahami dasar kesehatan reproduksi, termasuk di dalamnya risiko terkena infeksi HIV. Infeksi HIV terbesar didapatkan sebagai penularan langsung dari partner seks yang telah terinfeksi sebelumnya. Lebih jauh lagi, perbedaan usia yang terlampau jauh menyebabkan anak hampir tidak mungkin meminta hubungan seks yang aman akibat dominasi pasangan. Pernikahan usia muda juga merupakan faktor risiko untuk terjadinya karsinoma serviks. Keterbatasan gerak sebagai istri dan kurangnya dukungan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan karena terbentur kondisi ijin suami, keterbatasan ekonomi, maka penghalang ini tentunya berkontribusi terhadap meningkatnya angka morbiditas dan mortalitas pada remaja yang hamil.
4.    Anak yang dilahirkan dari pernikahan usia dini
Saat anak yang masih bertumbuh mengalami proses kehamilan, terjadi persaingan nutrisi dengan janin yang dikandungnya, sehingga berat badan ibu hamil seringkali sulit naik, dapat disertai dengan anemia karena defisiensi nutrisi, serta berisiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah. Didapatkan bahwa sekitar 14% bayi yang lahir dari ibu berusia remaja di bawah 17 tahun adalah prematur. Anatomi panggul yang masih dalam pertumbuhan berisiko untuk terjadinya persalinan lama sehingga meningkatkan angka kematian bayi dan kematian neonatus. Depresi pada saat berlangsungnya kehamilan berisiko terhadap kejadian keguguran, berat badan lahir rendah dan lainnya. Depresi juga berhubungan dengan peningkatan tekanan darah, sehingga meningkatkan risiko terjadinya eklamsi yang membahayakan janin maupun ibu yang mengandungnya. Asuhan antenatal yang baik sebenarnya dapat mengurangi terjadinya komplikasi kehamilan dan persalinan. Namun sayangnya karena keterbatasan finansial, keterbatasan mobilitas dan berpendapat, maka para istri berusia muda ini seringkali tidak mendapatkan layanan kesehatan yang dibutuhkannya, sehingga meningkatkan risiko komplikasi maternal dan mortalitas. Menjadi orangtua di usia dini disertai keterampilan yang kurang untuk mengasuh anak sebagaimana yang dimiliki orang dewasa dapat menempatkan anak yang dilahirkan berisiko mengalami perlakuan salah dan atau penelantaran. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak yang dilahirkan dari pernikahan usia dini berisiko mengalami keterlambatan perkembangan, kesulitan belajar, gangguan perilaku, dan cenderung menjadi orangtua pula di usia dini.
5.    Komplikasi psikososial akibat pernikahan dan kehamilan di usia dini
Komplikasi psikososial akibat pernikahan dan kehamilan di usia dini didukung oleh suatu penelitian yang menunjukkan bahwa keluaran negatif sosial jangka panjang yang tak terhindarkan, ibu yang mengandung di usia dini akan mengalami trauma berkepanjangan, selain juga mengalami krisis percaya diri. Anak juga secara psikologis belum siap untuk bertanggungjawab dan berperan sebagai istri, partner seks, ibu, sehingga jelas bahwa pernikahan anak menyebabkan imbas negatif terhadap kesejahteraan psikologis serta perkembangan kepribadian mereka.
6.    Tinjauan hukum dalam pernikahan usia dini
Konvensi Hak Anak (KHA) berlaku sebagai hukum internasional dan KHA diratifikasi melalui Keppres No.36 tahun 1990, untuk selanjutnya disahkan sebagai undang-undang Perlindungan Anak (UU PA) No.23 tahun 2002. Pengesahan UU tersebut bertujuan untuk mewujudkan perlindungan dan kesejahteraan anak. Dalam UU PA dinyatakan dengan jelas bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia menjamin kesejahteraan tiap-tiap warga negaranya, termasuk perlindungan terhadap hak anak yang merupakan hak asasi manusia. Konvensi Hak Anak telah menjadi bagian dari sistem hukum nasional, sehingga sebagai konsekuensinya kita wajib mengakui dan memenuhi hak anak sebagaimana dirumuskan dalam KHA. Salah satu prinsip dalam KHA yaitu “kepentingan yang terbaik bagi anak”. Maksud dari prinsip “kepentingan yang terbaik bagi anak” adalah dalam semua tindakan yang berkaitan dengan anak yang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, badan legislatif dan yudikatif, kepentingan yang terbaik bagi anak harus menjadi pertimbangan utama. Dalam UU PA pasal 1 ayat 2 disebutkan bahwa “perlindungan anak” adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Dalam deklarasi hak asasi manusia, dikatakan bahwa pernikahan harus dilakukan atas persetujuan penuh kedua pasangan. Namun kenyataan yang dihadapi dalam pernikahan usia dini ini, persetujuan menikah seringkali merupakan akumulasi dari paksaan atau tekanan orangtua/wali anak, sehingga anak setuju untuk menikah seringkali merupakan rasa bakti dan hormat pada orangtua. Orangtua beranggapan menikahkan anak mereka berarti suatu bentuk perlindungan terhadap sang anak, namun hal ini justru menyebabkan hilangnya kesempatan anak untuk berkembang, tumbuh sehat, dan kehilangan kebebasan dalam memilih.  Pernyataan senada juga dikeluarkan oleh International Humanist and Ethical Union, bahwa pernikahan anak merupakan bentuk perlakuan salah pada anak (child abuse). Dalam hal ini, mengingat berbagai konsekuensi yang dihadapi anak terkait dengan pernikahan dini sebagaimana telah dibahas, maka pernikahan anak tentunya menyebabkan tidak terpenuhinya prinsip “yang terbaik untuk anak”, sehingga hal ini merupakan pelanggaran terhadap hak asasi anak. Dalam UU Perlindungan Anak dengan jelas disebutkan pula mengenai kewajiban orangtua dan masyarakat untuk melindungi anak, serta kewajiban orangtua untuk mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak (pasal 26). Sangsi pidana berupa hukuman kurung penjara dan denda diatur dalam pasal 77-90 bila didapatkan pelanggaran terhadap pasal-pasal perlindungan anak.
E.    Peran petugas kesehatan masyarakat menyikapi pernikahan usia dini
Terkait dengan kesehatan reproduksi dan pernikahan dini, maka petugas kesehatan masyarakat berperan serta dalam memberikan penyuluhan pada remaja dan orangtua mengenai pentingnya mencegah terjadinya pernikahan di usia dini serta membantu orangtua untuk dapat memberikan pendidikan kesehatan reproduksi kepada anak sesuai tahapan usianya. Petugas kesehatan masyarakat juga berperan membantu remaja untuk mendapatkan informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi juga alat kontrasepsi, menilai kemampuan orangtua berusia remaja dalam mengasuh anak untuk mencegah terjadinya penelantaran atau perlakuan salah pada anak, serta berpartisipasi dalam masyarakat untuk mencegah terjadinya pernikahan di usia dini.

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Anak adalah seseorang yang terbentuk sejak masa konsepsi sampai akhir masa remaja. Definisi umur anak dalam Undang-undang (UU) Pemilu No.10 tahun 2008 (pasal 19, ayat 1) hingga berusia 17 tahun. Sedangkan UU Perkawinan No.1 Tahun 1974 menjelaskan batas usia minimal menikah bagi perempuan 16 tahun dan lelaki 19 tahun. Definisi anak berdasarkan UU No. 23 tahun 2002, adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk dalam anak yang masih berada dalam kandungan.
Pernikahan Dini didefinisikan sebagai pernikahan yang terjadi sebelum anak mencapai usia 18 tahun, sebelum anak matang secara fisik, fisiologis, dan psikologis untuk bertanggungjawab terhadap pernikahan dan anak yang dihasilkan dari pernikahan tersebut.
Hasil penelitian UNICEF di Indonesia (2002), menemukan angka kejadian pernikahan anak berusia 15 tahun berkisar 11%, sedangkan yang menikah di saat usia tepat 18 tahun sekitar 35%. Praktek pernikahan usia dini paling banyak terjadi di Afrika dan Asia Tenggara. Di Asia Tenggara didapatkan data bahwa sekitar 10 juta anak usia di bawah 18 tahun telah menikah, sedangkan di Afrika diperkirakan 42% dari populasi anak, menikah sebelum mereka berusia 18 tahun.
Faktor yang Melatar Belakangi Pernikahan Usia Dini :
1.    Para orang tua merasa kehidupan anaknya akan lebih terjamin apabila dinikahkan dengan orang yang mereka kenal. Rata-rata pernikahan di usia dini dilakukan oleh orang tua dengan cara menjodohkan anaknya dengan kerabat-kerabat mereka. Hal ini dimaksudkan agar kehidupan anak mereka akan lebih baik. Selain itu, para orang tua ingin hubungan keluarga diantara mereka lebih dekat sehingga materil yang mereka punya akan dinikmati sendiri oleh keluarganya (Perkawinan Harta).
2.    Kedua orang tua pada dasarnya ingin segera lepas tanggung jawab terhadap  anaknya. Setelah mengurus, membesarkan anaknya hingga besar mereka akan sangat lega apabila anaknya telah menikah.
3.    Kedua orang tua juga tidak ingin jika sewaktu-waktu tejadi fitnah dikarenakan hubungan tidak sehat yang dilakukan oleh anak mereka. Misalnya saja mereka mulai bepergian tengah malam dan yang paling menakutkan ialah perilaku seks bebas.
4.    Hamil diluar nikah juga merupakan alasan yang banyak dijumpai dikalangan masyarakat, sebab dilihat dari perkembangan jaman pada era globalisasi ini telah banyak budaya-budaya asing yang masuk dan memberi contoh yang buruk bagi perkembangan psikologis anak yang lama-kelamaan akan memunculkan rasa penasaran terhadap sesuatu yang baru mereka jumpai.
Beberapa permasalahan dalam pernikahan anak meliputi faktor yang mendorong maraknya pernikahan anak, pengaruhnya terhadap pendidikan, terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, dampak terhadap kesehatan reproduksi, anak yang dilahirkan dan kesehatan psikologi anak, serta tinjauan hukum terkait dengan pernikahan anak.
B.    Saran
Agara tidak semakain maraknya pernikahan usia dini di negara kita, hendaknya pemerintah memperhatikan Konvensi Hak Anak, sehingga orangtua tidak seenaknya memperlakukan mereka seperti itu.
Sebagai orangtua, kita harus betul-betul memahami dampak bagi pernikahan usia dini dan menyekolahkan anak tentang pengetahuan seks, sehingga anak tidak melakukan hubungan seks di luar nikah dan orangtua tidak selalu memaksakan kehendak menikahkan anak di bawah umur.
Sebagai tenaga kesehatan masyarakat, kita harus memberikan penyuluhan kepada orang tua tentang bahaya pernikahan anak usia dini, sehingga orangtua bisa menyekolahkan anaknya mengenai pengetahuan tentang akibat seks bebas.


DAFTAR PUSTAKA
http://www.wordpress.com/2010/10/15/makalah-pernikahan-dini/
Chaerunnisa, Ketahui Resiko Pernikanan Dini, Yuk !, http://www.Okezone.com tanggal 29 Oktober 2008
Yusuf Fatawie, Santri Lirboyo Kediri, Pernikahan Dini Dalam Perspektif Agama dan Negara. http://www.pesantrenvirtual.com/index.php/islam-kontenporer/124 tanggal 21 September 2010

Selasa, 28 Mei 2013

 MAKALAH DAMPAK YANG DITIMBULKAN OLEH PROSES URBANISASI TERHADAP KEHIDUPAN DI LINGKUNGAN PERKOTAAN  YANG DAPAT MENIMBULAKAN PENYAKIT TB PARU


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pada negara industri maju, urbanisasi dimulai sejak industrialisasi, jadi industri merupakan titik tolak terjadinya urbanisasi. Penduduk kota meningkat lebih lambat dibandingkan di negara berkembang sedangkan pertumbuhan kota relatif lebih imbang (perbedaan tidak besar), sehingga dikatakan “proses urbanisasi merupakan proses ekonomi”.
Urbanisasi pada negara berkembang dimulai sejak PD II, urbanisasi merupakan titik tolak terjadinya industri (kebalikan dari negara industri maju), penduduk kota meningkat cepat sehingga urbanisasi tidak terbagi rata, semakin besar kotanya, semakin cepat proses urbanisasinya, adanya konsep “Primate City”., sehingga dikatakan “proses urbanisasi bersifat demografi”. Hal ini lah yang terjadi di Indonesia saat ini, yaitu berduyun-duyunnya masyarakat desa ke kota sehingga kota bertambah padat.
B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah tersebut di atas, dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.    Apakah Pengertian Urbanisasi?
2.    Bagaimanakah Proses Urbanisasi?
3.    Apakah Faktor Penyebab Terjadinya Urbanisasi?
4.    Apakah Dampak yang Ditimbulkan oleh Proses Urbanisasi Terhadap Kehidupan di Lingkungan Perkotaan?
5.    Penyakit apakah yang timbul akibat masyarakat urbnisasi?
6.    Bagaimanakah Cara untuk mencegah TB Paru akibat urbanisasi?
C.    Tujuan
1.    Tujuan Umum
Untuk mengetahui masyarakat Urbanisasi secara keseluruhan.
2.    Tujuan Khusus
a.    Untuk mengetahui pengertian urbanisasi
b.    Untuk mengetahui proses urbanisasi
c.    Untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya urbanisasi
d.    Untuk mengetahui Dampak yang Ditimbulkan oleh Proses Urbanisasi Terhadap Kehidupan di Lingkungan Perkotaan?
e.    Untuk mengetahui Penyakit  yang timbul akibat masyarakat urbnisasi
f.    Untuk mengetahui Cara untuk mencegah TB Paru akibat urbanisasi





BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Urbanisasi
Urbanisasi berasal dari kata Urban yang artinya sifat kekotaan. Arti urbanisasi sangat luas, yang paling menonjol di Indonesia diartikan sebagai perpindahan penduduk dari desa ke kota. Paul Knox mendefinisikan urbanisasi sebagai suatu proses yang dimotori oleh perubahan ekonomi yang mendorong dan didorong oleh faktor-faktor manusia, sumber daya alam dan teknologi (sumber daya alam buatan) dan menghasilkan keluaran keadaan ekonomi, sosial dan fisik serta masalah-masalah yang menjadi bahan yang harus diatasi dalam penentuan kebijakan pembangunan kota. Selanjutnya, Urbanisasi ditinjau dari sejarahnya yang sangat tua adalah suatu proses perubahan yang diinginkan manusia untuk mempertahankan hidupnya dan atau menuju perbaikan nasib kehidupannya, hal tersebut telah berlangsung sejak manusia itu ada didunia (Soetomo, 2009 : 44). Maka, dari definisi yang ada, dapat diambil kesimpulan bahwa urbanisasi adalah suatu proses terbentuknya kehidupan perkotaan yang berbeda dengan kehidupan pedesaan, dalam konteks ekonomi, sosial dan mentalitas masyarakatnya.
Kota adalah tempat bermukimnya manusia dengan segala kehidupannya, maka kota adalah bagian dari Human Settlement. Dikatakan oleh Doxiadis (dalam Soetomo, 2010 : 35) bahwa : “Human settlement are, by definition, settlement inhabited by Man”. (Ekistics, Constantinos. A.Doxiadis, 1968). Kota sebagai tempat yang dibentuk tidak hanya oleh bangunan saja namun juga oleh manusia. Kesembilan  karakter kota oleh Kostof, merupakan pengertian yang sangat komprehensif dan menarik yang menjabarkan kedua aspek (bangunan dan manusia).
B.     Proses Urbanisasi
Pertama, pemerintah berkeinginan untuk sesegera mungkin meningkatkan proporsi penduduk yang tinggal di daerah perkotaan. Hal ini berkaitan dengan kenyataan bahwa meningkatnya penduduk daerah perkotaan akan berkaitan erat dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi negara. Data memperlihatkan bahwa suatu negara atau daerah dengan tingkat perekonomian yang lebih tinggi, juga memiliki tingkat urbanisasi yang lebih tinggi, dan sebaliknya. Negara-negara industri pada umumnya memiliki tingkat urbanisasi di atas 75 persen. Bandingkan dengan negara berkembang yang sekarang ini. Tingkat urbanisasinya masih sekitar 35 persen sampai dengan 40 persen saja.
Kedua, terjadinya tingkat urbanisasi yang berlebihan, atau tidak terkendali, dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada penduduk itu sendiri. Ukuran terkendali atau tidaknya proses urbanisasi biasanya dikenal dengan ukuran primacy rate, yang kurang lebih diartikan sebagai kekuatan daya tarik kota terbesar pada suatu negara atau wilayah terhadap kota-kota di sekitarnya. Makin besar tingkat primacy menunjukkan keadaan yang kurang baik dalam proses urbanisasi. Sayangnya data mutahir mengenai primacy rate di Indonesia tidak tersedia.
C.    Faktor Penyebab Terjadinya Urbanisasi
Pada umumnya, masyarakat melakukan urbanisasi karena adanya pengaruh yang kuat dalam bentuk ajakan, informasi media massa, impian pribadi, terdesak kebutuhan ekonomi, dan lainsebagaimya. Pengaruh-pengaruh tersebut bisa berasal dari daerah asal (faktor pendorong) maupun daerah tujuan (faktor penarik).
1.     Faktor penarik terjadinya urbanisasi
a.     Kehidupan kota yang lebih modern dan mewah
b.    Sarana dan prasarana kota yang lebih lengkap
c.    Banyaknya lapangan pekerjaan di kota 
d.    Pendidikan yang jauh lebih baik dari yang ada di pedesaan.
2.     Faktor pendorong terjadinya urbanisasi
a.    Lahan pertanian yang semakin sempit
b.    Merasa kurang cocok dengan budaya tempat asalnya
c.    Menganggur karena tidak banyak lapangan pekerjaan didesa
d.     Terbatasnya sarana dan prasarana yang ada didesa
e.    Memiliki impian kuat menjadi orang kaya
D.    Dampak yang Ditimbulkan oleh Proses Urbanisasi Terhadap Kehidupan di Lingkungan Perkotaan
Akibat dari meningkatnya proses urbanisasi, hal ini menimbulkan dampak-dampak terhadap lingkungan kota, baik dari segi tata kota, masyarakat, maupun keadaan sekitarnya.
1.    Dampak positif
Pandangan yang positif terhadap urbanisasi, melihat urbanisasi sebagai usaha pembangunan yang menyeluruh, tidak terbatas dalam pagar administrasi kota. Selain itu kota dianggap sebagai “agen modernisasi dan perubahan”. Mereka melihat kota sebagai suatu tempat pemusatan modal, keahlian, daya kreasi dan segala macam fasilitas yang mutlak diperlukan bagi pembangunan.
Tanggapan lain adalah bahwa kita tidak mungkin membayangkan bagaimana pertumbuhan dan keadaan Jakarta sekarang ini dan juga pusat-pusat industri di dunia lainnya bisa tercapai bila seandainya tidak ada urbanisasi
Kelompok tertentu berpendapat bahwa proses urbanisasi hanyalah suatu fenomena temporer yang tidak menghambat pembangunan. Dan menekankan bahwa kota merupakan suatu “leading sector” dalam perubahan ekonomi, sosial dan politik. Urbanisasi merupakan variable independen yang memajukan pembangunan ekonomi.

2.    Dampak negative
Di Indonesia, persoalan urbanisasi sudah dimulai dengan digulirkannya beberapa kebijakan 'gegabah' orde baru. Pertama, adanya kebijakan ekonomi makro (1967-1980), di mana kota sebagai pusat ekonomi. Kedua, kombinasi antara kebijaksanaan substitusi impor dan investasi asing di sektor perpabrikan (manufacturing), yang justru memicu polarisasi pembangunan terpusat pada metropolitan Jakarta. Ketiga, penyebaran yang cepat dari proses mekanisasi sektor pertanian pada awal dasawarsa 1980-an, yang menyebabkan kaum muda dan para sarjana, enggan menggeluti dunia pertanian atau kembali ke daerah asal.
Arus urbansiasi yang tidak terkendali ini dianggap merusak strategi rencana pembangunan kota dan menghisap fasilitas perkotaan di luar kemampuan pengendalian pemerintah kota. Beberapa akibat negatif tersebut akan meningkat pada masalah kriminalitas yang bertambah dan turunnya tingkat kesejahteraan.
Dampak negatif lainnnya yang muncul adalah terjadinya “overurbanisasi” yaitu dimana prosentase penduduk kota yang sangat besar yang tidak sesuai dengan perkembangan ekonomi negara. Selain itu juga dapat terjadi “underruralisasi” yaitu jumlah penduduk di pedesaan terlalu kecil bagi tingkat dan cara produksi yang ada.
Pada saat kota mendominasi fungsi sosial, ekonomi, pendidikan dan hirarki urban. Hal ini menimbulkan terjadinya pengangguran dan underemployment. Kota dipandang sebagai inefisien dan artificial proses “pseudo-urbanisastion”. Sehingga urbanisasi merupakan variable dependen terhadap pertumbuhan ekonomi.
Dampak negatif lainnya yang ditimbulkan oleh tingginya arus urbanisasi di Indonesia adalah sebagai berikut :
a.    Semakin minimnya lahan kosong di daerah perkotaan. Pertambahan penduduk kota yang begitu pesat, sudah sulit diikuti kemampuan daya dukung kotanya. Saat ini, lahan kosong di daerah perkotaan sangat jarang ditemui. ruang untuk tempat tinggal, ruang untuk kelancaran lalu lintas kendaraan, dan tempat parkir sudah sangat minim. Bahkan, lahan untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH) pun sudah tidak ada lagi. Lahan kosong yang terdapat di daerah perkotaan telah banyak dimanfaatkan oleh para urban sebagai lahan pemukiman, perdagangan, dan perindustrian yang legal maupun ilegal. Bangunan-bangunan yang didirikan untuk perdagangan maupun perindustrian umumnya dimiliki oleh warga pendatang. Selain itu, para urban yang tidak memiliki tempat tinggal biasanya menggunakan lahan kosong sebagai pemukiman liar mereka. hal ini menyebabkan semakin minimnya lahan kosong di daerah perkotaan.
b.    Menambah polusi di daerah perkotaan. Masyarakat yang melakukan urbanisasi baik dengan tujuan mencari pekerjaan maupun untuk memperoleh pendidikan, umumnya memiliki kendaraan. Pertambahan kendaraan bermotor roda dua dan roda empat yang membanjiri kota yang terus menerus, menimbulkan berbagai polusi atau pemcemaran seperti polusi udara dan kebisingan atau polusi suara bagi telinga manusia. Ekologi di daerah kota tidak lagi terdapat keseimbangan yang dapat menjaga keharmonisan lingkungan perkotaan.
c.    Penyebab bencana alam. Para urban yang tidak memiliki pekerjaan dan tempat tinggal biasanya menggunakan lahan kosong di pusat kota maupun di daerah pinggiran Daerah Aliran Sungai (DAS) untuk mendirikan bangunan liar baik untuk pemukiman maupun lahan berdagang mereka. Hal ini tentunya akan membuat lingkungan tersebut yang seharusnya bermanfaat untuk menyerap air hujan justru menjadi penyebab terjadinya banjir. Daerah Aliran Sungai sudah tidak bisa menampung air hujan lagi.
d.     Pencemaran yang bersifat sosial dan ekonomi. Kepergian penduduk desa ke kota untuk mengadu nasib tidaklah menjadi masalah apabila masyarakat mempunyai keterampilan tertentu yang dibutuhkan di kota. Namun, kenyataanya banyak diantara mereka yang datang ke kota tanpa memiliki keterampilan kecuali bertani. Oleh karena itu, sulit bagi mereka untuk memperoleh pekerjaan yang layak. Mereka terpaksa bekerja sebagai buruh harian, penjaga malam, pembantu rumah tangga, tukang becak, masalah pedagang kaki lima dan pekerjaan lain yang sejenis. Hal ini akhitnya akan meningkatkan jumlah pengangguran di kota yang menimbulkan kemiskinan dan pada akhirnya untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, orang – orang akan nekat melakukan tindak kejahatan seperti mencuri, merampok bahkan membunuh. Ada juga masyarakat yang gagal memperoleh pekerjaan sejenis itu menjadi tunakarya, tunawisma, dan tunasusila.
e.    Penyebab kemacetan lalu lintas. Padatnya penduduk di kota menyebabkan kemacetan dimana-mana, ditambah lagi arus urbanisasi yang makin bertambah. Para urban yang tidak memiliki tempat tinggal maupun pekerjaan banyak mendirikan pemukiman liar di sekitar jalan, sehingga kota yang awalnya sudah macet bertambah macet. Selain itu tidak sedikit para urban memiliki kendaraan sehingga menambah volum kendaraan di setiap ruas jalan di kot
f.    Merusak tata kota. Pada negara berkembang, kota-kotanya tdiak siap dalam menyediakan perumahan yang layak bagi seluruh populasinya. Apalagi para migran tersebut kebanyakan adalah kaum miskin yang tidak mampu untuk membangun atau membeli perumahan yang layak bagi mereka sendiri. Akibatnya timbul perkampungan kumuh dan liar di tanah-tanah pemerintah. Tata kota suatu daerah tujuan urban bisa mengalami perubahan dengan banyaknya urbanisasi. Urban yang mendirikan pemukiman liar di pusat kota serta gelandangan-gelandangan di jalan-jalan bisa merusak sarana dan prasarana yang telah ada, misalnya trotoar yang seharusnya digunakan oleh pedestrian justru digunakan sebagai tempat tinggal oleh para urban. Hal ini menyebabkan trotoar tersebut menjadi kotor dan rusak sehingga tidak berfungsi lagi.
E.    Penyakit Akibat Masyarakat Urbanisasi
Timbulnya berbagai penyakit akibat organisasi, salah satunya TB Paru, diakibatkan karena semakin padatnya penduduk di kota, dansemakin sempitnya tanah perumahan di perkotaan.
1.    pengertiaTB Paru
Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. Hal ini bisa terjadi, karena penduduk di kota semakin padat.
2.    Etiologi
TB paru disebabkan oleh Mycobakterium tuberculosis yang merupakan batang aerobic tahan asam yang tumbuh lambat dan sensitif terhadap panas dan sinar UV. Bakteri yang jarang sebagai penyebab, tetapi pernah terjadi adalah M. Bovis dan M. Avium. Virus ini bisa berkembang pada keadaan lembab karena lingkungan yang tidak bersih, akibat kepadatan penduduk.
3.    Cara untuk mencegah TB Paru akibat urbanisasi
Dengan melakukan penyuluhan kepada masyarakat agar bisa sadar, bahwa meskipun penduduk padat tapi bisa di cegah dengan kebersihan lingkungan dengan cara meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai betapa pentingnya kebersihan lingkungn.













BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Proses urbanisasi yang telah menjadi sebuah proses rutin yang dilakukan tiap masyarakat Indonesia akhir-akhir ini menimbulkan suatu permasalahan yang cukup serius. Urbanisasi yang dilakukan tanpa perencanaan yang sempurna akan terus menimbulkan permasalahan yang berdampak pada pembangunan dan kehidupan di kota itu sendiri. Masalah yang timbul umumnya berasal dari tiap-tiap individu, orang yang melakukan urbanisasi, yang memiliki tujuan awal datang kekota untuk mencari penghidupan yang layak, tetapi karena tidak memiliki skill atau kemampuan yang cukup untuk bersaing, maka orang itu tidak mampu bersaing, dan kemudian menjadi penggangguran dan menimbulkan kemiskinan, dan akan menimbulkan dampak lainnya.
Maka dari itu, proses urbanisasi akan berdampak baik apabila di lakukan dengan sebuah perencanaan yang baik, sehingga dampak-dampak buruk yang dapat menghambat perkembangan dan kehidupan di perkotaan dapat di minimalisir.
B.    Saran
Agar tidak terjadi dampak negatif bagi masyarakat urbanisasi terhadap daera perkotaan, hendaknya masyarakat tersebut memperhatihan kebersihan lingkungannya masing-masing.
Pemerintah hendaknya memperhatikan tempat tinggal masyarakat urbanisasi tersebut, agar tidak terjadi dampak yang negatif.




















DAFTAR PUSTAKA

http://eryandeunge.blogspot.com/2012/03/masyarakat-kota-dan-urbanisasi.html
http://herycomdev.wordpress.com/2012/04/02/urbanisasi-suburnisasi-dan-kontestasi-masyarakat-urbanisasi-dikomplek-perumahan/







 PROPOSAL PERENCANAAN KESEHATAN POLEWALI MANDAR tahun 2013 tentang PROMOTIF AND ISOLATION PENYAKIT KUSTA (tugas epidemiology perencanaan kesehatan)


A.  LATAR BELAKANG
Kusta termasuk penyakit tertua. Kata kusta Berasal dari bahasa india Khusta dikenal sejak 1400 tahun sebelum masehi. Kata lepra ada disebut-sebut dalam kitab injil, terjemahan dari bahasa Hebrew Zaraath, yang sebenarnya mencakup beberapa kulit lainya. Ternyata bahwa berbagai deskriptip mengenai penyakit ini sangat kabur, apalagi jika dibandingkan dengan kusta yang kita kenal sekarang ini. (Sri Linuwih 2002).
Menurut WHO Weekly Epidemiological Report mengenai kusta tahun 2010, selama tahun 2009 terdapat 17.260 kasus baru di Indonesia, dengan 14.227 kasus teridentifikasi sebagai kasus kusta tipe Multi Basiler (MB) yang merupakan tipe yang menular. Dari data kasus kusta baru tahun 2009 tersebut, 6.887 kasus diantaranya  diderita oleh kaum perempuan, sedangkan 2.076 kasus diderita oleh anak-anak.
Pada awal tahun 2009, di dunia terdapat 219.826 kasus dengan perincian regional Asia Tenggara 133.422 kasus (PR 0,81 / 10.000 ), regional Afrika : 40.830 kasus (PR 0,56 / 10.000) dan regional Amerika 32.904 kasus (PR 0,39 / 10.000), sedangkan sisanya berada di regional lainnya.
Data Kementerian Kesehatan menyebutkan pada 2009 tercatat 17.260 kasus baru kusta di Indonesia (7,49/100.000 penduduk) dan jumlah kasus terdaftar sebanyak 21.026 orang dengan angka prevalensi: 0,91 per 10.000 penduduk. Sedangkan tahun 2010, jumlah kasus baru tercatat 10.706 (Angka Penemuan kasus baru/CDR: 4.6/100.000) dan jumlah kasus terdaftar sebanyak 20.329 orang dengan prevalensi: 0.86 per 10.000 penduduk.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sulawesi Barat mengungkapkan penyakit kusta ini mempunyai prevalensi rate (Angka Kejadian) sebesar 2,5 per 10.000 penduduk ditahun 2009 (atau ada 269 penderita)  yang seharusnya berada dibawah standar Nasional  yaitu  <1 per 10.000  penduduk dan tidak ada kabupaten satupun yang prevalensinya berada di bawah standar Nasional. Lebih memprihatinkan lagi ditahun 2010 ditemukan ada 760 penderita atau 7,0 per 10.000 penduduk. Ada kenaikan sekitar 15% dari tahun 2009.  Seharusnya di Propinsi Sulawesi Barat hanya ada  108 kasus dari jumlah penduduknya. Jadi kalau ada 760 penderita itu artinya sudah 700% dari yang seharusnya, “Luar Biasa”
Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sulawesi Barat, mengungkapkan jumlah penderita penyakit kusta sepanjang tahun 2012 ditemukan tertinggi terdapat di wilayah Kabupaten Polewali Mandar (Polman), dengan angka kejadian 11 kusta tipe kering dan 115 orang kusta tipe basah.


B. NAMA  KEGIATAN
Kegiatan ini bernama “Promotif and Isolation Kusta Of Diseases”
C. TUJUAN  KEGIATAN
1.    Tujuan Umum
Menyelamatkan masyarakat agar tidak tertular penyakit kusta dari penderita kusta tersebut.
2.    Tujuan Khusus
Meningkatkan pemahaman, dan perilaku positif masyarakat tentang kesehatan dan cara pencegahan Kusta.

D. TEMA KEGIATAN
Tema “selamatkan masyarakat Kabupaten Polewali Mandar dari belenggu dan ancaman Kusta”
E. waktu dan tempat pelaksanaan
Kegiatan ini akan dilaksanakan pada :
      Hari / Tanggal : senin, 05 agustus 2013
    Tempat            : Kantor Kecamatan, Kabupaten Polewali Mandar

F. SASARAN KEGIATAN
Kegiatan ini ditujukan untuk semua masyarakat kabupaten Polewali mandar dengan sasarannya adalah semua warga yang menderita ataupun tidak menderita Kusta.

G. BENTUK KEGIATAN
Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk penyuluhan dan Isolasi penderita kusta, serta karantina bagi penderita kusta dengan mengambil beberapa materi .

H. PELAKSANA KEGIATAN
Kegiatan ini akan diselenggarakan oleh panitia pelaksana dari anggota Himpunan Sarjana Kesehatan Masyarakat Jurusan Epidemiologi Kabupaten Polewali Mandar.

Campalagian, 21 Juli 2013

Panitia Pelaksana
Promotif and Isolation Kusta of Deseases





SELVITA                        RISMAYANTI
KETUA                        SEKRETARIS








Mengetahui,
PENGURUS HMSKJE KABUPATEN POLEWALI MANDAR



MEILINDA
KETUA UMUM





TINJAUAN PUSTAKA
A.    Defenisi Kusta
Kusta adalah penyakit infeksi yang kronik, Penyebabnya ialah Mikobakterium leprae yang intraseluler obligat. Saraf perifer sebagai afinitas pertama, lalu kulit dan mukosa traktus repiratorius bagian atas kemudian dapat ke organ lain kecuali susunan saraf pusat. ( A. Kosasih dkk 1999).
Penyakit kusta adalah penyakit kronik yang disebabkan oleh kuman Mycobakterium leprae ( M. Leprae)  yang pertama kali menyerang susunan saraf tepi, selanjutnya dapat menyerang kulit, mukosa (mulut), saluran pernafasan bagian atas, sistem retikulo endotelial, mata, otot, tulang dan testis. (Dali Amiruddin 2000).
B.    Epidemiologi Penyakit Kusta    
1.    Distribusi penyakit kusta menurut tempat
Penyakit kusta menyebar di seluruh dunia mulai dari Afrika, Amerika, Asia Tenggara, Mediterania Timur dan Pasifik Barat. Jumlah penderita kusta di dunia pada tahun 1997 sebanyak 888.340 orang. Jumlah penderita kusta baru pada tahun 2007 adalah sekitar 296.499 orang. Dari jumlah tersebut paling banyak terdapat pada regional Asia Tenggara 201.635 orang, Afrika 42.814orang, Amerika 41.780 orang, dan sisanya terdapat di regional lain di dunia. Pada tahun 2009, di Indonesia, jumlah penderita kusta yang terdaftar 19.805 orang. Masih terdapat di 10 propinsi memiliki penderita kusta terbanyak diantara propinsi lainnya yaitu Jawa Timur 4.856 orang, Jawa Barat 1.721 orang, Jawa Tengah 2.334 orang, Sulawesi Selatan 1.779 orang, Papua 1.190 orang, Nanggroe Aceh Darusalam 736 orang, Daerah Kota Istimewa Jakarta 1.721 orang, Sulawesi Utara 404 orang, Maluku Utara 550 orang dan Kalimantan Selatan 473 orang, Maluku 522, Sulawesi Utara 404 orang (Depkes RI, 2009).

2.    Distribusi penyakit kusta menurut waktu
    Ada 17 negara melaporkan 1000 atau lebih kasus baru selama tahun 2009. Sejak tahun 2002 secara global terjadi penurunan penemuan kasus baru, tetapi ada juga peningkatan penemuan kasus baru.
3.    Distribusi penyakit kusta menurut orang
a.    Distribusi menurut umur
    Penyakit kusta jarang sekali ditemukan pada bayi. Angka kejadian penyakit kusta meningkat sesuai umur dengan puncak kejadian pada umur 10-20 tahun (Depkes RI, 2006). Penyakit kusta dapat mengenai semua umur dan terbanyak terjadi pada umur 15-29 tahun. Serangan pertama kali pada usia di atas 70 tahun sangat jarang terjadi. Di Brasilia terdapat peninggian prevalensi pada usia muda, sedangkan pada penduduk imigran prevalensi meningkat di usia lanjut (Harahap, 2000). Menurut Depkes RI (2006) kebanyakan penelitian melaporkan bahwa distribusi penyakit kusta menurut umur berdasarkan prevalensi, hanya sedikit yang berdasarkan insiden karena pada saat timbulnya penyakit sangat sulit diketahui.
b.    Distribusi menurut jenis kelamin
    Kejadian penyakit kusta pada laki-laki lebih banyak terjadi dari pada wanita, kecuali di Afrika, wanita lebih banyak terkena penyakit kusta dari pada laki-laki (Depkes RI, 2006). Menurut Louhennpessy dalam Buletin Penelitian Kesehatan (2009) bahwa perbandingan penyakit kusta pada penderita laki-laki dan perempuan adalah 2,3 : 1,0. Artinya  penderita kusta pada laki-laki 2,3 kali lebih banyak dibandingkan penderita kusta pada perempuan. Menurut Noor dalam Buletin Penelitian Kesehatan (2009) penderita pria lebih tinggi dari wanita dengan perbandingannya sekitar 2 : 1
C.    Penyebab
    Penyebab penyakit ini adalah mikobakterium lepra(Mycobakterium leprae, M. Leprae) ( Dali Amiruddin 2000) Kuman penyebab kusta adalah Mycobaterium Leprae yang ditemukan oleh G.A HANSEN pada tahun 1879 di Norwegia, yang sampai sekarang belum juga dapat dibiakkan dalam media artifisial. M. Leprae berbentuk basil dengan ukuran 3-8 Um x 0.5 Um, Tahan asam dan alkohol, serta positif gram. (A. Kosasih dkk 1999). Penyebab kusta adalah kuman mycobacterium leprae. Dimana microbacterium ini adalah kuman aerob, tidak membentuk spora, berbentuk batang, dikelilingi oleh membran sel lilin yang merupakan ciri dari spesies Mycobacterium, berukuran panjang 1 – 8 micro, lebar 0,2 – 0,5 micro biasanya berkelompok dan ada yang tersebar satu-satu, hidup dalam sel dan bersifat tahan asam (BTA) atau gram positif, tidak mudah diwarnai namun jika diwarnai akan tahan terhadap dekolorisasi oleh asam atau alkohol sehingga oleh karena itu dinamakan sebagai basil “tahan asam”. (Smal crab. Com 2010).
D.    Tanda dan Gejala
    Tanda dan gejala penyakit kusta biasanya menunjukkan gambaran yang jelas pada stadium yang lanjut dan diagnosis cukup ditegakkan dengan pemeriksaan fisik saja. Gejala dan keluhan penyaklit bergantung pada :
a.     Multiplikasi dan diseminasi kuman . Leprae
b.    Respon imun penderita terhadap kuman M . Leprae
c.    Komplikasi yang dikibatkan oleh kerusakan saraf perifer.
Ada 3 tanda kardinal. Kalau salah satu ada, tanda tersebut sudah cukup menetapkan diagnosis penyakit kusta yakni:
a.    Lesi kulit yang anestesi.
b.    Penebalan saraf perifer.
c.    Ditemukan M.  Leprae (Bakteriologis positif) ( Dali Amiruddin 2000).
Menurut WHO ( 1995) di kutip oleh arif  Mansjoer (2000) Diagnosis kusta kusta  ditegakkan bila terdapat  satu dari tanda kardinal berikut:
1.    Adanya lesi kulit yang khas dan kehilangan sensibilitas.
Lesi kulit dapat tunggal atau multipel, biasanya hipopigmentasi tetapi kadang-kadang lesi kemerahan atau berwara tembaga. Lesi dapat berfariasi tetapi pada umumnya berupa makula, papul atau nodul.
Kehilangan sensibilitas pada lesi kulit merupakan gambara khas. Kerusakan saraf terutama saraf tepi, bermanifestasi sebagai kehilangan sensibilitas kulit dan kelemahan otot. Penebalan saraf tepi saja tanpa disertai kehilangan sensibilitas dan atau kelemahan otot juga merupakjan tanda kusta.
2.    BTA positif
Pada beberapa kasus ditemukan basil tahan asam dari kerokan jaringan kulit. Bila ragu-ragu maka dianggap sebagai kasus dicurigai dan diperiksa ulang setiap 3 bulan sampai ditegakkan diagnosis kusta atau penyakit lain.
E.    Pemeriksaan Klinis
Menurut arif manjoer (2000) Pemeriksaan klinis penyakit kusta sebagai berikut:   
a.    Inspeksi. Pasien diminta memejamkan mata, menggerakkan mulut, bersiul, dan tertawa untuk mengetahui fungsi saraf wajah. Semua kelainan kulit diseluruh tubuh diperhatikan, seperti adanya makula, nodul, jaringan parut, kulit yang keriput, penebalan kulit dan kehilangan rambut tubuh ( alopesia dan madarosis).
b.    Pemeriksaan sensibilitas pada lesi kulit dengan menggunakan kapas ( rasa raba), jarum pentul yang tajam dan tumpul (rasa nyeri), serta air pana dan dingin dalam tabung reaksi ( rasa suhu).
c.    Pemeriksaan saraf tepi dan fungsinya dilakukan pada: n. Auricularis magnus, n. Ulnaris, n. Radilis, n. Medianus, n. Peroneus, dan n. Tibialis posterior. Hasil pemeriksan yang perlu dicatat adalah pembesran, konsistensi, penebalan, dan adanya nyeri tekan. Perhatikan raut muka pasien apakah kesakitan atau tidak saat saraf diraba.
d.    Pemeriksaan fungsi saraf otonom, yaitu pemeriksaan ada atau tidaknya kekeringan pada lesi akibat tidak berfungsinya kelenjer keringat dengan menggunakan pensil tinta ( uji Gunawan).
F.    Cara penularan kusta
Meskipun cara penularannya yang pasti belum diketahui dengan jelas, penularan di dalam rumah tangga dan kontak/hubungan dekat dalam waktu yang lama tampaknya sangat berperan dalam penularan kusta.
Cara-cara penularan penyakit kusta sampai saat ini masih merupakan tanda tanya. Yang diketahui hanya pintu keluar kuman kusta dari tubuh si penderita, yakni selaput lendir hidung. Tetapi ada yang mengatakan bahwa penularan penyakit kusta adalah:
a.    Melalui sekresi hidung, basil yang berasal dari sekresi hidung penderita yang sudah mengering, diluar masih dapat hidup 2–7 x 24 jam.
b.    Kontak kulit dengan kulit. Syarat-syaratnya adalah harus dibawah umur 15 tahun, keduanya harus ada lesi baik mikoskopis maupun makroskopis, dan adanya kontak yang lama dan berulang-ulang. (Zulkifli, 2010).
G.    Pengobatan Kusta
Tujan urtama program pemberantasan penyakit kusta adalah menyembuhkan pasien kusta dan mencegah timbulnya cacat serta memutuskan mata rantai penularan dari pasien kusta terutama tipe  menular kepada orang lain untuk menurunkan insiden penyakit.
Program Multi Drug Terapi (MDT) dengan kombinasi rifampisin, klofazimin, dan DDS (Diamino difnil sulfon) dimuli tahun 1981. Program ini tujuannya untuk mengatasi resistensi dapson yang semangkin meningkat, mengurangi ketidak taatan pasien, mengurangi angka poutus obat, dn mengeliminasipersistensi kuman kusta dalam jaringan.
Rejimen pengobatan MDT di indonesi sesuai rekomndasi WHO ( 1995) sebagai berikut:
Jenis  obat dan dosis untuk orang dewasa:
a.    Rifampisin 600 mg/bulan diminum didepan petugas.
b.    DDS (Diamino difnil sulfon) tablet 100mg/hari diminum dirumah
Pengobatan 6 dosis diselesaikan dalam 6-9 bulan. Dan setelah selesai minum 6 dosis dinyatakan RFT ( Related From Tretment = berhenti minum obat kusta) meskipun secara klinis lesinya masih aktif. Menurut WHO (1995) tidak lagi dinyatakan RFT tetapi menggunakan istilah Complention of Treatmen Cure dan pasien tidak lagi dalam pengawasan.
a.    Dosis untuk anak 
Klofazimin: Umur dibawah 10 tahun: bulanan 100mg/bulan
           Harian 50 mg/2kali/minggu
1.    Dosis untuk Umur 11-14 tahun:   
a.    bulanan 100mg/bulan
b.    Harian 50mg/3kali/minggu
2.    DDS (Diamino difnil sulfon) :1-2 mg/kg berat badan Rifampisin: 10-15 mg/kg berat badan.

Identifikasi masalah 
Di dalam ilmu Epidemiologi ada 3 faktor utama yang dapat menyebabkan terjadinya Kusta yaitu faktor Host ( Manusia ), faktor Agent  (Bakteri ) dan faktor Environment ( Lingkungan ). Bila ke 3 faktor ini terjadi ketidak seimbangan  antara faktor satu dengan faktor lainnya, maka keadaan inilah yang dapat menyebabkan timbulnya kejadian Kusta. Dari ketiga faktor tersebut, dapat dilihat dari keadaan sebagai
berikut:
A.    Keadaan Geografis
Kabupaten Polewali Mandar terletak dengan batas-batas administrasi sebagai berikut:
a.    Sebelah Utara berbatasan dengan kabupaten Mamasa
b.    Sebelah Timur berbatasan dengan kabupaten Pinrang
c.    Sebelah Selatan dan Barat berbatasan dengan Selat Makassar dan kabupaten Majene.
Luas wilayah kabupaten Polewali Mandar tercatat 2.022,30 km yang meliputi 16 kecamatan yang terdiri dari 167 Desa/Kelurahan, Kecamatan Tubbi Tamaranu dan Kecamatan Mapilli merupakan Kecamatan yang terluas dengan luas Wilayah kedua kecamatan tersebut mencapai 33,52% dari seluruh wilayah Kabupaten Polewali Mamasa. Sementara luas kecamatan terkecil adalah kecamatan Tinambung dengan luas 21,34 km.
B.    Pendidikan
Salah satu upaya pemerintah daerah dalam rangka mengembangkan dan meningkatkan SDM melalui pendidikan adalah realisasi program wajib belajar 9 tahun. Melalui program ini diharapkan tercipta sumber daya manusia yang siap mengembangkan diri untuk bersaing di era globalisasi. Polewali Mandar senantiasa berupaya menciptakan masyarakat terdidik. Hal ini dapat diamati, antara lain melalui peningkatan jumlah saran di sekolah tingkat dasar maupun tingkat menengah. Setiap tahun, jumlah murid/siswa dari TK hingga tingkat perguruan tinggi mengalami peningkatan.
1.    Perguruan Tinggi
a.    Universitas Al Asyariah Mandar (UNASMAN)
b.    Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Bina Generasi
c.    Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) YPPP.

2.    Sekolah Menengah Atas
Selain perguruan tinggi, ada beberapa sekolah menengah atas yang berstatus negeri yaitu SMAN 1 Wonomulyo, SMAN 2 Polewali, SMAN 3 Polewali, SMA 1 Tinambung bahkan sudah ada SMA yang menjadi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional yaitu SMA Negeri 1 Polewali. Adapun sekolah swasta yaitu SMA YPP.
3.    Sekolah Menengah Kejuruan
Selain itu ada SMK yang berstatus sebagai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yang menjadi andalan di Kabupaten Polewali Mandar yaitu SMK Negeri 1 Polewali. Selain itu ada SMK Negeri Wonomulyo. Adapun sekolah swasta antara lain SMA Bina Generasi, SMK YPPP, SMK PPM AL - Ikhlash, SMK Muhammadiyah, dll.
D.    Sosial Budaya
Suku Mandar adalah salah sutu bangsa yang mendiami daerah Sulawesi Selatan baguan barat di sekitar 0.5o-3.5o LS dan 118o-119.5o BT.
Pada jaman penjajahan Belanda daerah ini disebut Afdeling Mandar, dengan ibukota Majene, tetapi setelah Indonesia merdeka berdasarkan Undang-Undang No. 29/1959 daerah atau Afdeling Mandar tersebut dibagi menjadi Kabupaten Polewali Mamasa (Polmas), Kabupaten Majene dan Kabupaten Mamuju.
Salah satu kerajaaan yang paling terkenal di daerah Mandar yang berpusat dalam wilayah Kabupaten Polewali Mamasa sekarang ini adalah kerajaan Balanipa yang berkedudukan di daerah Kecamatan Tinambung.
Dahulu kerajaan Balanipa merupakan salah satu kerajaan Mandar yang terbesar dan terkenal. Dalam perjanjian Luyo bahkan disebutkan antara lain “Amai Balanipa, Indoi Sendana…” yang artinya “Balanipa adalah bapak, Sendana adalah ibu…” sampai saat pecahnya perang Pasifik (1942) kerajaan atau swapraja Balanipa masih merupakan kerajaan Mandar yang terpenting dan raja Balanipa masih merupakan raja atau tokoh yang sangat dihormati oleh orang-orang Makassar. Tidaklah pula salah jikalau dikatakan bahwa Balanipa dapat merupakan model daripada kehidupan kebudayaan dan adat-istiadat suku Mandar.
Di dalam Lontara Mandara disebutkan bahwa To Manurung tidak turun di daerah Mandar tetapi turun di hulu Sungai Saddang yang kemudian beranak tujuh orang yang menyebar keseluruh daerah Sulawesi Selatan, salah satu anaknya yaitu Pongkapadang datang ke daerah Mandar menurunkan 11 orang anak. Kemudian salah satu dari sebelas orang anak itu bernama To Bittoeng yang kawin dengan salah seorang anak To Makaka’ Napo, dari perkawinan tersebut lahirlah I Manyambungi yang kemudian diangkat menjadi Arajang Balanipa yang pertama didaerah Mandar. Setelah wafat beliau di sebut To Dilaling, makamnya terdapat di Desa Napo, daerah bekas Distrik Limboro Kecamatan Tinambung Kabupaten Polmas. Mungkin raja I Manyambungi inilah ayah I Rerasi, ibu raja Gowa yang IX, Tuma’risi’ Kallonna (bertahta tahun 1511-1547) merupakan salah satu raja Gowa yang besar dalam sejarah. Kapan kerajaan Balanipa pertama didirikan belum diperoleh kepastian, menurut M. Darwis Hamzah dalam bukunya “Polmas Dalam Pergelaran Kesenian Sulselra” behwa pada abad ke 15 I Manyambungi diangkat oleh rakyat balanipa menjadi Arajang (Maradia) Balanipa.
F.    Keturunan
Dalam salah satu naskah lokal (lontara) di Mandar ditemukan keterangan yang menyatakan bahwa manusia pertama yang datang ke daerah ini mendarat di hulu Sungai Sadang. Sementara dalam tulisan dari Salahuddin Mahmud (1984) dinyatakan bahwa Tomakaka yang pertama menetap di Ulu‘ Sadang. Keterangan itu memberikan petunjuk bahwa pemukiman di daerah ini telah berlangsung jauh sebelum terjadi penurunan permukaan laut (masa glasial). Selain itu juga dapat dipahami bahwa penghuni daerah ini adalah Kelompok Migran yang datang dari daerah lain, diperkirakan dari daerah Cina Selatan, yang kemudian menetap dan membangun persekutuan masyarakat. Juga dapat berarti bahwa penduduk daerah pesisiran maupun daerah pedalaman bercikal bakal pada keturunan yang sama, yang oleh berbagai alasan, pertambahan penduduk , bencana alam, wabah penyakit atau karena persoalan adat dan sistem kekuasaan, berpindah dan membangun pemukiman baru.
G.    Pelayanan Kesehatan
Pada tahun 2008 dan 2009 cakupan kunjungan kesakitan di Puskesmas mengalami penurunan, karena promosi yang terus-menerus tentang pelayanan  kesehatan gratis, maka masyarakat atau pasien ketika sakit dengan stadium ringan, sudah bersegera berkunjung ke Puskesmas untuk mendapat pelayanan pengobatan rawat jalan 3 hari, pasein ini tidak akan datang yang kedua kalinya karena penyakit dengan stadium ringan akan sembuh dalam waktu tiga hari, secara otomatis cakupan kunjungan pelayanan kesakitan akan turun bila dibandingkan dengan tahun 2007. Jadi pendapat yang benar adalah dengan adanya pelayanan kesehatan gratis telah menurunkan cakupan kunjungan pelayanan  kesakitan di Puskesmas diwilayah Kabupaten Polewali Mandar, Bukan sebaliknya meningkatkan kunjungan pelayanan kesakitan.


Tahapan perencanaan
A.    Rancangan Pendekatan
Pendekatan yang digunakan dalam tahap ini, adalah pendekatan Logis yaitu dengan mengukur Morbiditas, Mortalitas dan kecacatan penderita Kusta di Kabupaten Polewali Mandar.
1.    Morbiditas
Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sulawesi Barat, mengungkapkan jumlah penderita penyakit kusta di wilayah Kabupaten Polewali Mandar (Polman), dengan angka kejadian 11 kusta tipe kering dan 115 orang kusta tipe basah.
2.    Mortalitas
Dari 11 kasus kusta tipe kering dan 115 kusta tipe basa di kabupaten polewali mandar tidak ada penderita yang meninggal.
3.    Kecacatan
Dari 11 kasus kusta tipe kering dan 115 kusta tipe basa di Kabupaten Polewali Mandar yang menderita cacat sebanyak 96 orang.
B.    Prioritas Masalah
Dilihat dari masalah yang timbul yang lebih besar pengaruhnya terhadap kejadian kusta adalah lingkungan kumuh dan kepadatan penduduk. Maka dari itu akan dilakukan perbaikan sanitasi lingkungan dan karantina bagi penderita kusta. Untuk tindakan yang dilakukan adalah penyuluhan dan isolasi bagi penderita Kusta.

Rincian Anggaran Panitia Pelaksana
Promotif and Isolation Deseases Of Kusta
Anggaran Biaya   Rp 140.400.000,-
Rincian Biaya
1.    Investigasi (metode interview kerumah penderita kusta Rp 500.000,-
2.    Kegiatan Penyuluhan
a.    Transportasi dari kota Kabupaten ketempat penyuluhan Rp 1.000.000,-
b.    Konsumsi pada saat penyuluhan Rp 600.00,-
3.    Kegiatan Isolasi
a.    Mendata penduduk yang berpotensi kusta
1.    Jumlah pendata 100 orang/Rp 500.000,-    =Rp 5.000.000,-
2.    Transportasi ketetempat pendataan           =Rp 10.000.000,-
3.    Konsumsi selama pendataan                      =Rp 5.000.000,-
b.    Isolasi penderita kusta
1.    Transportasi ketempat isolasi 50/orang    =Rp 8.300.000,-
2.    Tempat tinggal penderita selama karantina =Rp 15.000.000,-
3.    Konsumsi selama masa karantina               =Rp 50.000.000,-
4.    Pemberian obat                                              =Rp 50.000.000,-  
Jumlah                                                             Rp 140.900.000,-





Rabu, 01 Mei 2013

makalah demam tyfoid

MAKALAH DEMAM TYFOID 


BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

Demam tifoid adalah infeksi akut pada saluran pencernaan yang disebabkan oleh Salmonella typhi. Terdapat tiga bioserotipe yaitu Salmonella paratyphi A, B ( Salmonella schottmuelleri), dan C (Salmonella hirschefildii). Demam tifoid merupakan penyakit endemik yang termasuk dalam masalah kesehatan di negara berkembang.  Di indonesia demam tifoid dapat ditemukan sepanjang tahun dengan insidens tertinggi pada daerah endemik. Terdapat dua sumber penularan s.typhi yaitu pasien dengan demam tifoid dan, yang lebih sering karier. Di daerah endemik, transmisi terjadi melalui air yang tercemar S. Typhi sedangkan di daerah nonendemik , makanan yang tercemar oleh karier merupakan sumber penularan tersering.
Besarnya angka pasti kasus demam tifoid di Dunia, sangat sulit ditentukan karena penyakit ini dikenal mempunyai gejala dengan spektrum klinis yang sangat luas. Data World Health Organization (WHO) tahun 2009, memperkirakan terdapat sekitar 17 juta kasus demam tifoid di seluruh dunia dengan insidensi 600.000 kasus kematian tiap tahun. Insidens rate demam tifoid di Asia Selatan dan Tenggara termasuk China pada tahun 2010 rata-rata 1.000 per 100.000 penduduk per tahun. Insidens rate demam tifoid tertinggi di Papua New Guinea sekitar 1.208 per 100.000 penduduk per tahun. Insidens rate di Indonesia masih tinggi yaitu 358 per 100.000 penduduk pedesaan dan 810 per 100.000 penduduk perkotaan per tahun dengan rata-rata kasus per tahun 600.000-1.500.000 penderita. Angka kematian demam tifoid di Indonesia masih tinggi dengan CFR sebesar 10% (Nainggolan, R, 2011).
Berdasarkan laporan Ditjen Pelayanan Medis Depkes RI, pada tahun 2008, demam tifoid menempati urutan kedua dari 10 penyakit terbanyak pasien rawat inap di rumah sakit di Indonesia dengan jumlah kasus 81.116 dengan proporsi 3,15%, urutan pertama ditempati oleh diare dengan jumlah kasus 193.856 dengan proporsi 7,52%, urutan ketiga ditempati oleh DBD dengan jumlah kasus 77.539 dengan proporsi 3,01% (Depkes RI, 2009).
Berdasarkan penelitian Cyrus H. Simanjuntak., di Paseh (Jawa Barat) tahun 2009, insidens rate demam tifoid pada masyarakat di daerah semi urban adalah 357,6 per 100.000 penduduk per tahun. Insiden demam tifoid bervariasi di tiap daerah dan biasanya terkait dengan sanitasi lingkungan; di daerah Jawa Barat, terdapat 157 kasus per 100.000 penduduk sedangkan di daerah urban di temukan 760-810 per 100.000 penduduk. Perbedaan insiden di perkotaan berhubungan erat dengan penyediaan air bersih yang belum memadai serta sanitasi lingkungan dengan pembuangan sampah yang kurang memenuhi sarat kesehatan lingkungan (Simanjuntak, C.H, 2009).

Beberapa faktor penyebab demam tifoid masih terus menjadi masalah kesehatan penting di negara berkembang meliputi pula keterlambatan penegakan diagnosis pasti. Penegakan diagnosis demam tifoid saat ini dilakukan secara klinis dan melalui pemeriksaan laboratorium. Diagnosis demam tifoid secara klinis seringkali tidak tepat karena tidak ditemukannya gejala klinis spesifik atau didapatkan gejala yang sama pada beberapa penyakit lain pada anak, terutama pada minggu pertama sakit. Hal ini menunjukkan perlunya pemeriksaan penunjang laboratorium untuk konfirmasi penegakan diagnosis demam tifoid (Simanjuntak, C.H, 2009).
Berdasarkan data yang terdapat di pada medical record Di Rumah Sakit Rajawali Bandung ruang Rafei tercatat angka insiden penderita demam thyfoid yang dirawat selama tiga bulan terakhir yaitu pada bulan Juli sampai bulan Oktober 2012 adalah 17 orang pasien dimana terdapat 5 kasus pada bulan Juli, 2 kasus pada bulan Agustus, dan 10 kasus pada bulan September. Demam tifoid dapat menimbulkan komplikasi yang dapat mengakibatkan mortalitas (kematian), yaitu sekitar 25% penderita demam tifoid mengalami perdarahan, jika terlambat tertangani dapat terjadi mortalitas (kematian) sekitar 10-32 % bahkan ada yang melaporkan sampai 80%, sedangkan mortalitas pada miokarditis akibat demam tifoid sekitar 1–5 %, dan tifoid pun dapat mengakibatkan tifoid toksin yang dapat menyebabkan kematian tetapi jarang sekali komplikasi ini terjadi.
Dari data diatas nampak bahwa angka insiden penyakit demam tifoid cukup tinggi dan merupakan penyakit yang dapat menimbulkan kompliksi pada organ pencernaan. Kardiovaskuler, pernapasan, tulang, ginjal dan hematolik serta gangguan neuropsikiatrik sampai dengan menyebabkan kematian bila tidak ditangani dengan seksama. Berdasarkan hal tersebut maka peran perawat sangat penting dalam aspek promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Oleh karena itu, mengingat kompleksnya masalah yang terjadi pada klien dengan penyakit demam tifoid maka penulis tertarik untuk merawat klien dengan judul Asuhan keperawatan Klien dengan Demam tifoid di ruang Rafei RS. Rajawali Bandung tahun 2012.

B.     RumusanMasalah
berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah tersebut diatas, maka dapat dirumuskan pertanyaan sebagai berikut:
1.    Apakah yang dimaksud dengan typoid?
2.    Apakah penyebab typoid?
3.    Bagaimanakah  potofisiologi typoid?
4.    Bagaimanakah manifestasi klinik typoid?
5.    Bagaimanakah komplikasi typoid?
6.    Bagaimanakah pencegahan demam tifoid?
C.    Tujuan
a.    Tujuan Umum
Untuk mengetahui penyakit typoid
b.    Tujuan Khusus
1.    Untuk mengetahui pengertian typoid
2.    Untuk mengetahui penyebab typoid
3.    Untuk mengetahui patofisioplogi typoid
4.    Untuk mengetahui Jalur Masuk Kuman Penyebab Typus
5.    Untuk mengetahui manifestasi klinik typoid
6.    Untuk mengetahui komplikasi typoid
7.    Untuk mengetahui pencegahan demam tifoid
D.    Manfaat
Untuk memberikan informasi kepada semua pihak terutama kepada penyusun.

BAB II
PEMBAHASAN


A.    Pengertian Typoid
 Typhoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi salmonella Thypi. Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh faeses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella. ( Liswidyawati Rahayu, 2010:50)
 Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella Thypi. Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella thypi dan salmonella para thypi A,B,C, sinonim dari penyakit ini adalah Typhoid dan paratyphoid abdominalis,
 Typhoid adalah penyakit infeksi pada usus halus, typhoid disebut juga paratyphoid fever, enteric fever, typhus dan para typhus abdominalis.
Typhoid adalah suatu penyakit pada usus yang menimbulkan gejala-gejala sistemik yang disebabkan oleh salmonella typhosa, salmonella type A.B.C. penularan terjadi secara pecal, oral melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi
Dari beberapa pengertian diatasis dapat disimpulkan sebagai berikut, Typhoid adalah suatu penyakit infeksi usus halus yang disebabkan oleh salmonella type A. B dan C yang dapat menular melalui oral, fecal, makanan dan minuman yang terkontaminasi.
B.    Etiologi
Salmonella thyposa, basil gram negative yang bergerak dengan bulu getar, tidak bersepora mempunyai sekurang-kurangnya tiga macam antigen yaitu:
1.    antigen O (somatic, terdiri darizat komplekliopolisakarida)
2.    antigen H(flagella)
3.    antigen V1 dan protein membrane hialin.
4.    Salmonella parathypi A
5.    salmonella parathypi B
6.    Salmonella parathypi C
7.    Faces dan Urin dari penderita thypus (Rahmad Juwono, 1996).
    Demam typhoid timbul akibat dari infeksi oleh bakteri golongan Salmonella yang memasuki tubuh penderita melalui saluran pencernaan. Penularan S. Typhi terjadi melalui mulut oleh makanan yang tercemar. Sebagian kuman akan dimusnahkan dalam lambung oelh asam lambung. Sebagian lagi msuk keusus halus, mencapai jaringan lemfe dan berkembang biak. Kuman-kuman selanjutnya masuk ke jaringan beberapa organ tubuh, terutama limpa,usus dan kandung empedu. Demam pada typhus disebabkan karena S, tyhpi dan endotoksinnya merangsang sintesis dan pelepasan zat pirogen (menimbulkan panas) pada jaringan yang meradang.
    Pada masa penyembuhan, pada penderita masih mengandung Salmonella spp didalam kandung empedu atau di dalam ginjal. Sebanyak 5% penderita demam tifoid kelak akan menjadi karier sementara, sedang 2 % yang lain akan menjadi karier yang menahun. Sebagian besar dari karier tersebut merupakan karier intestinal (intestinal type) sedang yang lain termasuk urinary type. Kekambuhan yang yang ringan pada karier demam tifoid,terutama pada karier jenis intestinal,sukar diketahui karena gejala dan keluhannya tidak jelas.
C.    Gejalah
Setelah 7-14 hari tanpa keluhan atau gejala, dapat muncul keluhan atau gejala yang bervariasi mulai dari yang ringan dengan demam yang tidak tinggi, malaise, dan batuk kering sampai dengan gejala yang berat dengan demam yang berangsur makin tinggi setiap harinya, rasa tidak nyaman di perut, serta beraneka ragam keluhan lainnya.
Gejala yang biasanya dijumpai adalah demam sore hari dengan serangkaian keluhan klinis, seperti anoreksia, mialgia, nyeri abdomen, dan obstipasi. Dapat disertai dengan lidah kotor, nyeri tekan perut, dan pembengkakan pada stadium lebih lanjut dari hati atau limpa atau kedua-duanya 1,2 Pada anak, diaresering dijumpai pada awal gejala yang baru, kemudian dilanjutkan dengan konstipasi. Konstipasi pada permulaan sering dijumpai pada orang dewasa. Walaupun tidak selalu konsisten, bradikardi relatif saat demam tinggi dapat dijadikan indikator demam tifoid.1,2 Pada sekitar 25% dari kasus, ruam makular atau makulo papular (rose spots) mulai terlihat pada hari ke 7-10, terutama pada orang berkulit putih, dan terlihat pada dada bagian bawah dan abdomen pada hari ke 10-15 serta menetap selama 2-3 hari.
Sekitar 10-15% dari pasien akan mengalami komplikasi, terutama pada yang sudah sakit selama lebih dari 2 minggu. 1,7 Komplikasi yang sering dijumpai adalah reaktif hepatitis, perdarahan gastrointestinal, perforasi usus, ensefaopati tifosa, serta gangguan pada sistem tubuh lainnya mengingat penyebaran kuman adalah secara hematogen.Bila tidak terdapat komplikasi, gejala klinis akan mengalami perbaikan dalam waktu 2-4 minggu.
D.    Jalur Masuk Kuman Penyebab Typus
    Demam tifoid adalah penyakit yang penyebarannya melalui saluran cerna (mulut,esofagus, lambung, usus 12 jari, usus halus, usus besar, dstnya). S typhi masuk ketubuh manusia bersama bahan makanan atau minuman yang tercemar. Cara penyebarannya melalui muntahan, urin, dan kotoran dari penderita yang kemudiansecara pasif terbawa oleh lalat (kaki-kaki lalat). Lalat itu mengontaminasi makanan,minuman, sayuran, maupun buah-buahan segar. Saat kuman masuk ke saluran pencernaan manusia, sebagian kuman mati oleh asam lambung dan sebagian kumanmasuk ke usus halus.Dari usus halus itulah kuman beraksi sehingga bisa ” menjebol” usus halus. Setelah berhasil melampaui usus halus, kuman masuk ke kelenjar getah bening, ke pembuluhdarah, dan ke seluruh tubuh (terutama pada organ hati, empedu, dan lain-lain). Jika demikian keadaannya, kotoran dan air seni penderita bisa mengandung kuman S typhi yang siap menginfeksi manusia lain melalui makanan atau pun minuman yangdicemari. Pada penderita yang tergolong carrier (pengidap kuman ini namun tidak menampakkan gejala sakit), kuman Salmonella bisa ada terus menerus di kotoran danair seni sampai bertahun-tahun. S. thypi hanya berumah di dalam tubuh manusia.
    Oleh kerana itu, demam tifoid sering ditemui di tempat-tempat di mana penduduknya kurang mengamalkan membasuh tangan manakala airnya mungkin tercemar dengansisa kumbahan.Sekali bakteria S. thypi dimakan atau diminum, ia akan membahagi dan merebak kedalam saluran darah dan badan akan bertindak balas dengan menunjukkan beberapagejala seperti demam. Pembuangan najis di merata-rata tempat dan hinggapan lalat(lipas dan tikus) yang akan menyebabkan demam tifoid.

E.    Patofisiologi
 Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5 F yaitu Food (makanan), Fingers (jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly (lalat), dan melalui Feses.
Feses dan muntah pada penderita typhoid dapat menularkan kuman salmonella thypi kepada orang lain. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat, dimana lalat akan hinggap dimakanan yang akan dikonsumsi oleh orang yang sehat. Apabila orang tersebut kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci tangan dan makanan yang tercemar kuman salmonella thypi masuk ke tubuh orang yang sehat melalui mulut. Kemudian kuman masuk ke dalam lambung, sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus bagian distal dan mencapai jaringan limpoid. Di dalam jaringan limpoid ini kuman berkembang biak, lalu masuk ke aliran darah dan mencapai sel-sel retikuloendotelial
Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian melepaskan kuman ke dalam sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia, kuman selanjutnya masuk limpa, usus halus dan kandung empedu.
Semula disangka demam dan gejala toksemia pada typhoid disebabkan oleh endotoksemia. Tetapi berdasarkan penelitian eksperimental disimpulkan bahwa endotoksemia bukan merupakan penyebab utama demam pada typhoid. Endotoksemia berperan pada patogenesis typhoid, karena membantu proses inflamasi lokal pada usus halus. Demam disebabkan karena salmonella thypi dan endotoksinnya merangsang sintetis dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang.
F.    Diagnosis
Diagnosis dini demam tifoid dan pemberian terapi yang tepat bermanfaat untuk mendapatkan hasil yang cepat dan optimal sehingga dapat mencegah terjadinya komplikasi.
 Pengetahuan mengenai gambaran klinis penyakit sangat penting untuk membantu mendeteksi dini penyakit ini. Pada kasus-kasus tertentu, dibutuhkan pemeriksaan tambahan dari laboratorium untuk membantu menegakkan diagnosis.
Gambaran darah tepi pada permulaan penyakit dapat berbeda dengan pemeriksaan pada keadaan penyakit yang lanjut. Pada permulaan penyakit, dapat dijumpai pergeseran hitung jenis sel darah putih ke kiri, sedangkan pada stadium lanjut terjadi pergeseran darah tepi ke kanan (limfositosis relatif ). Ciri lain yang sering ditemukan pada gambaran darah tepi adalah aneosinofilia (menghilangnya eoinofil).
Diagnosis pasti demam tifoid berdasarkan pemeriksaan laboratorium didasarkan pada 3 prinsip, yaitu:
1.    Isolasi bakteri
2.    Deteksi antigen mikroba
3.    Titrasi antibodi terhadap organisme penyebab
Kultur darah merupakan gold standard metode diagnostik dan hasilnya positif pada 60-80% dari pasien, bila darah yang tersedia cukup (darah yang diperlukan 15 mL untuk pasien dewasa). Untuk daerah endemik dimana sering terjadi penggunaan antibiotik yang tinggi, sensitivitas kultur darah rendah (hanya 10-20% kuman saja yang terdeteksi).
Peran pemeriksaan Widal (untuk mendeteksi antibodi terhadap antigen Salmonella typhi) masih kontroversial. Biasanya antibodi antigen O dijumpai pada hari 6-8 dan antibodi terhadap antigen H dijumpai pada hari 10-12 setelah sakit.9 Pada orang yang telah sembuh, antibodi O masih tetap dapat dijumpai setelah 4-6 bulan dan antibodi H setelah 10-12 bulan.8 Karena itu, Widal bukanlah pemeriksaan untuk menentukan kesembuhan penyakit.8 Diagnosis didasarkan atas kenaikan titer sebanyak 4 kali pada dua pengambilan berselang beberapa hari atau bila klinis disertai hasil pemeriksaan titer Widal di atas rata-rata titer orang sehat setempat.
Pemeriksaan Tubex dapat mendeteksi antibodi IgM. Hasil pemeriksaan yang positif menunjukkan adanya infeksi terhadap Salmonella.
Antigen yang dipakai pada pemeriksaan ini adalah O9 dan hanya dijumpai pada Salmonella serogroup. Pemeriksaan lain adalah dengan Typhidot yang dapat mendeteksi IgM dan IgG. Terdeteksinya IgM menunjukkan fase akut demam tifoid, sedangkan terdeteksinya IgG dan IgM menunjukkan demam tifoid akut pada fase pertengahan. Antibodi IgG dapat menetap selama 2 tahun setelah infeksi, oleh karena itu, tidak dapat untuk membedakan antara kasus akut dan kasus dalam masa penyembuhan.
Yang lebih baru lagi adalah Typhidot M yang hanya digunakan untuk mendeteksi IgM saja. Typhidot M memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang lebih tinggi dibandingkan Typhidot. Pemeriksaan ini dapat menggantikan Widal, tetapi tetap harus disertai gambaran klinis sesuai yang telah dikemukakan sebelumnya.
G.    Manifestasi klinik
Masa tunas 7-14 (rata-rata 3 – 30) hari, selama inkubasi ditemukan gejala  prodromal (gejala awal tumbuhnya penyakit/gejala yang tidak khas) :
1.    Perasaan tidak enak badan
2.    Lesu
3.    Nyeri kepala
4.    Pusing
5.    Diare
6.    Anoreksia
7.    Batuk
8.    Nyeri otot
a.    Menyusul gejala klinis yang lain
1.    Demam, demam berlangsung 3 minggu
2.    Minggu I : Demam remiten, biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat pada sore dan malam hari
3.    Minggu II : Demam terus
4.    Minggu III : Demam mulai turun secara berangsur – angsur
b.    Gangguan Pada Saluran Pencernaan
1.    Lidah kotor yaitu ditutupi selaput kecoklatan kotor, ujung dan tepi kemerahan, jarang disertai tremor
2.    Hati dan limpa membesar yang nyeri pada perabaan
3.    Terdapat konstipasi, diare
c.    GangguanKesadaran
1.    Kesadaranyaituapatis–somnolen
2.    Gejala lain “ROSEOLA” (bintik-bintik kemerahan karena emboli hasil dalam kapiler kulit) (Rahmad Juwono, 1996).
H.    Komplikasi
1.    Komplikasi intestinal
2.    Perdarahanusus
3.    Perporasiusus
4.    Iliusparalitik

I.    Pencegahan Demam Typoid
Pada taraf masyarakat luas, pencegahan terbaik terhadap demam tifoid adalah sanitasi yang baik. Penularan  penyakit harus dikenali dan dicegah agar tidak menangani pengolahan dan penanganan pangan.
    Bagi perorangan, vaksin tifoid efekktif untuk menurunkan kemungkinan timbulnya penyakit. Telah terbukti bahwa beberapa siapan vaksin tifoid yang berbeda-beda dapat melindungi 70-90% resipien, sebagian bergantung pada derajat kontak mereka kemudian dengan sumber penyakit tersebut.
    Imunisasi tifoid secara rutin tidak lagi dianjurkan. Imunisasi hanya dianjurkan bila seseorang tyelah berhubungan dengan kasus demam tifoid yang diketahui masyarakat, atau bila seseorang akan mengunjungi suatu daerah yang di jangkiti endemic demam tifoid.
    Selain salmonella typhi, spesies salmonella yang lain kadang-kadang dapat juga menyebabkan penyakit asal air, seperti pada perjangkitan tahun 1966 di riverside, California, yang melibatkan kurang lebih 20.000 kasus.
Strategi pencegahan yang dipakai adalah untuk selalu menyediakan makanan dan minuman yang tidak terkontaminasi, higiene perorangan terutama menyangkut kebersihan tangan dan lingkungan, sanitasi yang baik, dan tersedianya air bersih sehari-hari. Strategi pencegahan ini menjadi penting seiring dengan munculnya kasusresistensi. Selain strategi di atas, dikembangkan pula vaksinasi terutama untuk para pendatang dari negara maju ke daerah yang endemik demam tifoid. Vaksin-vaksin yang sudah ada yaitu:1,2

Vaksin Vi Polysaccharide Vaksin ini diberikan pada anak dengan usia di atas 2 tahun dengan dinjeksikan secara subkutan atau intra-muskuler. Vaksin ini efektif selama 3 tahun dan direkomendasikan untuk revaksinasi setiap 3 tahun. Vaksin inimemberikanefikasiperlindungansebesar70-80%. Vaksin oral ini tersedia dalam sediaan salut enterik dan cair yang diberikan pada anak usia 6 tahun ke atas. Vaksin diberikan 3 dosis yang masing-masing diselang 2 hari. Antibiotik dihindari 7 hari sebelum dan sesudah vaksinasi. Vaksin ini efektif selama 3 tahun dan memberikan efikasi perlindungan 67-82%. VaksinVi-conjugate Vaksin ini diberikan pada anak usia 2-5 tahun di Vietnam dan memberikan efikasi perlindungan 91,1% selama 27 bulan setelah vaksinasi. Efikasi vaksin ini menetap selama 46 bulan dengan efikasi perlindungan sebesar 89%.
J.    Terapi Demam Typoid
Terapi pada demam tifoid adalah untuk mencapai keadaan bebas demam dan gejala, mencegah komplikasi, dan menghindari kematian Yang juga tidak kalah penting adalah eradikasi total bakteri untuk mencegah kekambuhan dan keadaan carrier.
Pemilihan antibiotik tergantung pada pola sensitivitas isolat Salmonella typhi setempat. Munculnya galur Salmonella typhi yang resisten terhadap banyak antibiotik (kelompok MDR) dapat mengurangi pilihan antibiotik yang akan diberikan. Terdapat 2 kategori resistensi antibiotik yaitu resisten terhadap antibiotik kelompok chloramphenicol, ampicillin, dan trimethoprimsulfamethoxazole (kelompok MDR) dan resisten terhadap antibiotik fluoroquinolone. Nalidixic acid resistant Salmonella typhi (NARST) merupakan petanda berkurangnya sensitivitas terhadap fluoroquinolone. Terapi antibiotik yang diberikan untuk demam tifoid tanpa komplikasi berdasarkan WHO tahun 2003.
Antibiotik golongan fluoroquinolone (ciprofloxacin, ofloxacin, dan pefloxacin) merupakan terapi yang efektif untuk demam tifoid yang disebabkan isolat tidak resisten terhadap fluoroquinolone dengan angka kesembuhan klinis sebesar  98%, waktu penurunan demam 4 hari, dan angka kekambuhan dan fecal carrier kurang dari2%.
Fluoroquinolone memiliki penetrasi ke jaringan yang sangat baik, dapat membunuh S. typhi intraseluler di dalam monosit/makrofag, serta mencapai kadar yang tinggi dalam kandung empedu dibandingkan antibiotik lain.
Berbagai studi telah dilakukan untuk menilai efektivitas fluoroquinolone dan salah satu luoroquinolone yang saat ini telah diteliti dan memiliki efektivitas yang baik adalah levofloxacin. Studi komparatif, acak, dan tersamar tunggal telah dilakukan untuk levofloxacin terhadap obat standar ciprofloxacin untuk terapi demam tifoid tanpa komplikasi. Levofloxacin diberikan dengan dosis 500 mg, 1 kali sehari dan ciprofloxacin diberikan dengan dosis 500 mg, 2 kali sehari masing-masing selama 7 hari.
Kesimpulan dari studi ini adalah bahwa pada saat ini levofloxacin lebih bermanfaat dibandingkan ciprofloxacin dalam hal waktu penurunan demam, hasil mikrobiologi dan secara bermakna memiliki efek samping yang lebih sedikit dibandingkan ciprofloxacin.
Selain itu, pernah juga dilakukan studi terbuka di lingkungan FKUI mengenai efikasi dan keamanan levofloxacin pada terapi demam tifoid tanpa komplikasi. Levofloxacin diberikan dengan dosis 500 mg, 1 kali sehari selama 7 hari. Efikasi klinis yang dijumpai pada studi ini adalah 100% dengan efek samping yang minimal. Dari studi ini juga terdapat tabel perbandingan rata-rata waktu penurunan demam di antara berbagai jenis fluoroquinolone yang beredar di Indonesia di mana penurunan demam pada levofloxacin paling cepat, yaitu 2,4 hari.
Sebuah meta-analisis yang dipublikasikan pada tahun 2009 menyimpulkan bahwa pada demam enterik dewasa, fluoroquinolone lebih baik dibandingkan chloramphenicol untuk mencegah kekambuhan.
Namun, fluoroquinolone tidak diberikan pada anak-anak karena dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan dan kerusakan sendi.
Chloramphenicol sudah sejak lama digunakan dan menjadi terapi standar pada demam tifoid namun kekurangan dari chloramphenicol adalah angka kekambuhan yang tinggi (5-7%), angka terjadinya carrier juga tinggi, dan toksis pada sumsum tulang.
Azithromycin dan cefixime memiliki angka kesembuhan klinis lebih dari 90% dengan waktu penurunan demam 5-7 hari, durasi pemberiannya lama (14 hari) dan angka kekambuhan serta fecal carrier terjadi pada kurang dari 4%.
Pasien dengan muntah yang menetap, diare berat, distensi abdomen, atau kesadaran menurun memerlukan rawat inap dan pasien dengan gejala klinis tersebut diterapi sebagai pasien demam tifoid yang berat. Terapi antibiotik yang diberikan pada demam tifoid berat menurut WHO tahun 2003.  Walaupun di tabel ini tertera cefotaxime untuk terapi demam tifoid tetapi sayangnya di Indonesia sampai saat ini tidak terdapat laporan keberhasilan terapi demam tifoid dengan cefotaxime. Selain pemberian antibiotik, penderita perlu istirahat total serta terapi suportif. Yang diberikan antara lain cairan untuk mengkoreksi ketidakseimbangan cairan dan elektrolit dan antipiretik. Nutrisi yang adekuat melalui TPN dilanjutkan dengan diet makanan yang lembut dan mudah dicerna secepat keadaan mengizinkan.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Typhoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi salmonella Thypi. Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh faeses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella. ( Liswidyawati Rahayu, 2010:50)
 Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella Thypi. Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella thypi dan salmonella para thypi A,B,C, sinonim dari penyakit ini adalah Typhoid dan paratyphoid abdominalis.
Salmonella thyposa, basil gram negative yang bergerak dengan bulu getar, tidak bersepora mempunyai sekurang-kurangnya tiga macam antigen yaitu:
1.    antigen O (somatic, terdiri darizat komplekliopolisakarida)
2.    antigen H(flagella)
3.    antigen V1 dan protein membrane hialin.
4.    Salmonella parathypi A
5.    salmonella parathypi B
6.    Salmonella parathypi C
7.    Faces dan Urin dari penderita thypus (Rahmad Juwono, 1996).
Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5 F yaitu Food (makanan), Fingers (jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly (lalat), dan melalui Feses.
Pada taraf masyarakat luas, pencegahan terbaik terhadap demam tifoid adalah sanitasi yang baik. Penularan  penyakit harus dikenali dan dicegah agar tidak menangani pengolahan dan penanganan pangan.
Bagi perorangan, vaksin tifoid efekktif untuk menurunkan kemungkinan timbulnya penyakit. Telah terbukti bahwa beberapa siapan vaksin tifoid yang berbeda-beda dapat melindungi 70-90% resipien, sebagian bergantung pada derajat kontak mereka kemudian dengan sumber penyakit tersebut.
    Imunisasi tifoid secara rutin tidak lagi dianjurkan. Imunisasi hanya dianjurkan bila seseorang tyelah berhubungan dengan kasus demam tifoid yang diketahui masyarakat, atau bila seseorang akan mengunjungi suatu daerah yang di jangkiti endemic demam tifoid.
B.    Saran
Agar kita terhindar dari Typoid, hendaknya kita memperhatikan cara pencegahan penyakit typoid tersebut diatas.
Untuk tenaga kesehatan, hendaknya memperhatikan setiap pasien yang datang berobat kerumah sakit atau Puskesmas.


DAFTAR PUSTAKA

Rahayu Liswidyawati,S.Si, Waspada Wabah Penyakit Panduan Untuk Orang Awam, Nuansa, Bandung: 2010.

Prof. Kelly Health,dkk, 73 Penyakit Yang Penting Diketahui, Palman, Yogyakarta: 2009.

Typhoid fever. Surgery in Africa-Monthly Review [Internet]. 2006 Feb 11 [cited 2011 Mar 3 ]. Available from: http://www.ptolemy.ca/members/archives/2006/typhoid_fever.htm

Bhan MK, Bahl R, Bhatnagar S. Typhoid fever and paratyphoid fever. Lancet 2005; 366: 749-62.

Pohan HT. Management of resistant Salmonella infection. Paper presented at: 12th Jakarta Antimicrobial Update; 2011 April 16-17; Jakarta, Indonesia





 











NB: mudah-mudahan dengan adanya makalah ini, dapat memberikan informasi bagi pembaca,,....