Selasa, 28 Mei 2013


 PROPOSAL PERENCANAAN KESEHATAN POLEWALI MANDAR tahun 2013 tentang PROMOTIF AND ISOLATION PENYAKIT KUSTA (tugas epidemiology perencanaan kesehatan)


A.  LATAR BELAKANG
Kusta termasuk penyakit tertua. Kata kusta Berasal dari bahasa india Khusta dikenal sejak 1400 tahun sebelum masehi. Kata lepra ada disebut-sebut dalam kitab injil, terjemahan dari bahasa Hebrew Zaraath, yang sebenarnya mencakup beberapa kulit lainya. Ternyata bahwa berbagai deskriptip mengenai penyakit ini sangat kabur, apalagi jika dibandingkan dengan kusta yang kita kenal sekarang ini. (Sri Linuwih 2002).
Menurut WHO Weekly Epidemiological Report mengenai kusta tahun 2010, selama tahun 2009 terdapat 17.260 kasus baru di Indonesia, dengan 14.227 kasus teridentifikasi sebagai kasus kusta tipe Multi Basiler (MB) yang merupakan tipe yang menular. Dari data kasus kusta baru tahun 2009 tersebut, 6.887 kasus diantaranya  diderita oleh kaum perempuan, sedangkan 2.076 kasus diderita oleh anak-anak.
Pada awal tahun 2009, di dunia terdapat 219.826 kasus dengan perincian regional Asia Tenggara 133.422 kasus (PR 0,81 / 10.000 ), regional Afrika : 40.830 kasus (PR 0,56 / 10.000) dan regional Amerika 32.904 kasus (PR 0,39 / 10.000), sedangkan sisanya berada di regional lainnya.
Data Kementerian Kesehatan menyebutkan pada 2009 tercatat 17.260 kasus baru kusta di Indonesia (7,49/100.000 penduduk) dan jumlah kasus terdaftar sebanyak 21.026 orang dengan angka prevalensi: 0,91 per 10.000 penduduk. Sedangkan tahun 2010, jumlah kasus baru tercatat 10.706 (Angka Penemuan kasus baru/CDR: 4.6/100.000) dan jumlah kasus terdaftar sebanyak 20.329 orang dengan prevalensi: 0.86 per 10.000 penduduk.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sulawesi Barat mengungkapkan penyakit kusta ini mempunyai prevalensi rate (Angka Kejadian) sebesar 2,5 per 10.000 penduduk ditahun 2009 (atau ada 269 penderita)  yang seharusnya berada dibawah standar Nasional  yaitu  <1 per 10.000  penduduk dan tidak ada kabupaten satupun yang prevalensinya berada di bawah standar Nasional. Lebih memprihatinkan lagi ditahun 2010 ditemukan ada 760 penderita atau 7,0 per 10.000 penduduk. Ada kenaikan sekitar 15% dari tahun 2009.  Seharusnya di Propinsi Sulawesi Barat hanya ada  108 kasus dari jumlah penduduknya. Jadi kalau ada 760 penderita itu artinya sudah 700% dari yang seharusnya, “Luar Biasa”
Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sulawesi Barat, mengungkapkan jumlah penderita penyakit kusta sepanjang tahun 2012 ditemukan tertinggi terdapat di wilayah Kabupaten Polewali Mandar (Polman), dengan angka kejadian 11 kusta tipe kering dan 115 orang kusta tipe basah.


B. NAMA  KEGIATAN
Kegiatan ini bernama “Promotif and Isolation Kusta Of Diseases”
C. TUJUAN  KEGIATAN
1.    Tujuan Umum
Menyelamatkan masyarakat agar tidak tertular penyakit kusta dari penderita kusta tersebut.
2.    Tujuan Khusus
Meningkatkan pemahaman, dan perilaku positif masyarakat tentang kesehatan dan cara pencegahan Kusta.

D. TEMA KEGIATAN
Tema “selamatkan masyarakat Kabupaten Polewali Mandar dari belenggu dan ancaman Kusta”
E. waktu dan tempat pelaksanaan
Kegiatan ini akan dilaksanakan pada :
      Hari / Tanggal : senin, 05 agustus 2013
    Tempat            : Kantor Kecamatan, Kabupaten Polewali Mandar

F. SASARAN KEGIATAN
Kegiatan ini ditujukan untuk semua masyarakat kabupaten Polewali mandar dengan sasarannya adalah semua warga yang menderita ataupun tidak menderita Kusta.

G. BENTUK KEGIATAN
Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk penyuluhan dan Isolasi penderita kusta, serta karantina bagi penderita kusta dengan mengambil beberapa materi .

H. PELAKSANA KEGIATAN
Kegiatan ini akan diselenggarakan oleh panitia pelaksana dari anggota Himpunan Sarjana Kesehatan Masyarakat Jurusan Epidemiologi Kabupaten Polewali Mandar.

Campalagian, 21 Juli 2013

Panitia Pelaksana
Promotif and Isolation Kusta of Deseases





SELVITA                        RISMAYANTI
KETUA                        SEKRETARIS








Mengetahui,
PENGURUS HMSKJE KABUPATEN POLEWALI MANDAR



MEILINDA
KETUA UMUM





TINJAUAN PUSTAKA
A.    Defenisi Kusta
Kusta adalah penyakit infeksi yang kronik, Penyebabnya ialah Mikobakterium leprae yang intraseluler obligat. Saraf perifer sebagai afinitas pertama, lalu kulit dan mukosa traktus repiratorius bagian atas kemudian dapat ke organ lain kecuali susunan saraf pusat. ( A. Kosasih dkk 1999).
Penyakit kusta adalah penyakit kronik yang disebabkan oleh kuman Mycobakterium leprae ( M. Leprae)  yang pertama kali menyerang susunan saraf tepi, selanjutnya dapat menyerang kulit, mukosa (mulut), saluran pernafasan bagian atas, sistem retikulo endotelial, mata, otot, tulang dan testis. (Dali Amiruddin 2000).
B.    Epidemiologi Penyakit Kusta    
1.    Distribusi penyakit kusta menurut tempat
Penyakit kusta menyebar di seluruh dunia mulai dari Afrika, Amerika, Asia Tenggara, Mediterania Timur dan Pasifik Barat. Jumlah penderita kusta di dunia pada tahun 1997 sebanyak 888.340 orang. Jumlah penderita kusta baru pada tahun 2007 adalah sekitar 296.499 orang. Dari jumlah tersebut paling banyak terdapat pada regional Asia Tenggara 201.635 orang, Afrika 42.814orang, Amerika 41.780 orang, dan sisanya terdapat di regional lain di dunia. Pada tahun 2009, di Indonesia, jumlah penderita kusta yang terdaftar 19.805 orang. Masih terdapat di 10 propinsi memiliki penderita kusta terbanyak diantara propinsi lainnya yaitu Jawa Timur 4.856 orang, Jawa Barat 1.721 orang, Jawa Tengah 2.334 orang, Sulawesi Selatan 1.779 orang, Papua 1.190 orang, Nanggroe Aceh Darusalam 736 orang, Daerah Kota Istimewa Jakarta 1.721 orang, Sulawesi Utara 404 orang, Maluku Utara 550 orang dan Kalimantan Selatan 473 orang, Maluku 522, Sulawesi Utara 404 orang (Depkes RI, 2009).

2.    Distribusi penyakit kusta menurut waktu
    Ada 17 negara melaporkan 1000 atau lebih kasus baru selama tahun 2009. Sejak tahun 2002 secara global terjadi penurunan penemuan kasus baru, tetapi ada juga peningkatan penemuan kasus baru.
3.    Distribusi penyakit kusta menurut orang
a.    Distribusi menurut umur
    Penyakit kusta jarang sekali ditemukan pada bayi. Angka kejadian penyakit kusta meningkat sesuai umur dengan puncak kejadian pada umur 10-20 tahun (Depkes RI, 2006). Penyakit kusta dapat mengenai semua umur dan terbanyak terjadi pada umur 15-29 tahun. Serangan pertama kali pada usia di atas 70 tahun sangat jarang terjadi. Di Brasilia terdapat peninggian prevalensi pada usia muda, sedangkan pada penduduk imigran prevalensi meningkat di usia lanjut (Harahap, 2000). Menurut Depkes RI (2006) kebanyakan penelitian melaporkan bahwa distribusi penyakit kusta menurut umur berdasarkan prevalensi, hanya sedikit yang berdasarkan insiden karena pada saat timbulnya penyakit sangat sulit diketahui.
b.    Distribusi menurut jenis kelamin
    Kejadian penyakit kusta pada laki-laki lebih banyak terjadi dari pada wanita, kecuali di Afrika, wanita lebih banyak terkena penyakit kusta dari pada laki-laki (Depkes RI, 2006). Menurut Louhennpessy dalam Buletin Penelitian Kesehatan (2009) bahwa perbandingan penyakit kusta pada penderita laki-laki dan perempuan adalah 2,3 : 1,0. Artinya  penderita kusta pada laki-laki 2,3 kali lebih banyak dibandingkan penderita kusta pada perempuan. Menurut Noor dalam Buletin Penelitian Kesehatan (2009) penderita pria lebih tinggi dari wanita dengan perbandingannya sekitar 2 : 1
C.    Penyebab
    Penyebab penyakit ini adalah mikobakterium lepra(Mycobakterium leprae, M. Leprae) ( Dali Amiruddin 2000) Kuman penyebab kusta adalah Mycobaterium Leprae yang ditemukan oleh G.A HANSEN pada tahun 1879 di Norwegia, yang sampai sekarang belum juga dapat dibiakkan dalam media artifisial. M. Leprae berbentuk basil dengan ukuran 3-8 Um x 0.5 Um, Tahan asam dan alkohol, serta positif gram. (A. Kosasih dkk 1999). Penyebab kusta adalah kuman mycobacterium leprae. Dimana microbacterium ini adalah kuman aerob, tidak membentuk spora, berbentuk batang, dikelilingi oleh membran sel lilin yang merupakan ciri dari spesies Mycobacterium, berukuran panjang 1 – 8 micro, lebar 0,2 – 0,5 micro biasanya berkelompok dan ada yang tersebar satu-satu, hidup dalam sel dan bersifat tahan asam (BTA) atau gram positif, tidak mudah diwarnai namun jika diwarnai akan tahan terhadap dekolorisasi oleh asam atau alkohol sehingga oleh karena itu dinamakan sebagai basil “tahan asam”. (Smal crab. Com 2010).
D.    Tanda dan Gejala
    Tanda dan gejala penyakit kusta biasanya menunjukkan gambaran yang jelas pada stadium yang lanjut dan diagnosis cukup ditegakkan dengan pemeriksaan fisik saja. Gejala dan keluhan penyaklit bergantung pada :
a.     Multiplikasi dan diseminasi kuman . Leprae
b.    Respon imun penderita terhadap kuman M . Leprae
c.    Komplikasi yang dikibatkan oleh kerusakan saraf perifer.
Ada 3 tanda kardinal. Kalau salah satu ada, tanda tersebut sudah cukup menetapkan diagnosis penyakit kusta yakni:
a.    Lesi kulit yang anestesi.
b.    Penebalan saraf perifer.
c.    Ditemukan M.  Leprae (Bakteriologis positif) ( Dali Amiruddin 2000).
Menurut WHO ( 1995) di kutip oleh arif  Mansjoer (2000) Diagnosis kusta kusta  ditegakkan bila terdapat  satu dari tanda kardinal berikut:
1.    Adanya lesi kulit yang khas dan kehilangan sensibilitas.
Lesi kulit dapat tunggal atau multipel, biasanya hipopigmentasi tetapi kadang-kadang lesi kemerahan atau berwara tembaga. Lesi dapat berfariasi tetapi pada umumnya berupa makula, papul atau nodul.
Kehilangan sensibilitas pada lesi kulit merupakan gambara khas. Kerusakan saraf terutama saraf tepi, bermanifestasi sebagai kehilangan sensibilitas kulit dan kelemahan otot. Penebalan saraf tepi saja tanpa disertai kehilangan sensibilitas dan atau kelemahan otot juga merupakjan tanda kusta.
2.    BTA positif
Pada beberapa kasus ditemukan basil tahan asam dari kerokan jaringan kulit. Bila ragu-ragu maka dianggap sebagai kasus dicurigai dan diperiksa ulang setiap 3 bulan sampai ditegakkan diagnosis kusta atau penyakit lain.
E.    Pemeriksaan Klinis
Menurut arif manjoer (2000) Pemeriksaan klinis penyakit kusta sebagai berikut:   
a.    Inspeksi. Pasien diminta memejamkan mata, menggerakkan mulut, bersiul, dan tertawa untuk mengetahui fungsi saraf wajah. Semua kelainan kulit diseluruh tubuh diperhatikan, seperti adanya makula, nodul, jaringan parut, kulit yang keriput, penebalan kulit dan kehilangan rambut tubuh ( alopesia dan madarosis).
b.    Pemeriksaan sensibilitas pada lesi kulit dengan menggunakan kapas ( rasa raba), jarum pentul yang tajam dan tumpul (rasa nyeri), serta air pana dan dingin dalam tabung reaksi ( rasa suhu).
c.    Pemeriksaan saraf tepi dan fungsinya dilakukan pada: n. Auricularis magnus, n. Ulnaris, n. Radilis, n. Medianus, n. Peroneus, dan n. Tibialis posterior. Hasil pemeriksan yang perlu dicatat adalah pembesran, konsistensi, penebalan, dan adanya nyeri tekan. Perhatikan raut muka pasien apakah kesakitan atau tidak saat saraf diraba.
d.    Pemeriksaan fungsi saraf otonom, yaitu pemeriksaan ada atau tidaknya kekeringan pada lesi akibat tidak berfungsinya kelenjer keringat dengan menggunakan pensil tinta ( uji Gunawan).
F.    Cara penularan kusta
Meskipun cara penularannya yang pasti belum diketahui dengan jelas, penularan di dalam rumah tangga dan kontak/hubungan dekat dalam waktu yang lama tampaknya sangat berperan dalam penularan kusta.
Cara-cara penularan penyakit kusta sampai saat ini masih merupakan tanda tanya. Yang diketahui hanya pintu keluar kuman kusta dari tubuh si penderita, yakni selaput lendir hidung. Tetapi ada yang mengatakan bahwa penularan penyakit kusta adalah:
a.    Melalui sekresi hidung, basil yang berasal dari sekresi hidung penderita yang sudah mengering, diluar masih dapat hidup 2–7 x 24 jam.
b.    Kontak kulit dengan kulit. Syarat-syaratnya adalah harus dibawah umur 15 tahun, keduanya harus ada lesi baik mikoskopis maupun makroskopis, dan adanya kontak yang lama dan berulang-ulang. (Zulkifli, 2010).
G.    Pengobatan Kusta
Tujan urtama program pemberantasan penyakit kusta adalah menyembuhkan pasien kusta dan mencegah timbulnya cacat serta memutuskan mata rantai penularan dari pasien kusta terutama tipe  menular kepada orang lain untuk menurunkan insiden penyakit.
Program Multi Drug Terapi (MDT) dengan kombinasi rifampisin, klofazimin, dan DDS (Diamino difnil sulfon) dimuli tahun 1981. Program ini tujuannya untuk mengatasi resistensi dapson yang semangkin meningkat, mengurangi ketidak taatan pasien, mengurangi angka poutus obat, dn mengeliminasipersistensi kuman kusta dalam jaringan.
Rejimen pengobatan MDT di indonesi sesuai rekomndasi WHO ( 1995) sebagai berikut:
Jenis  obat dan dosis untuk orang dewasa:
a.    Rifampisin 600 mg/bulan diminum didepan petugas.
b.    DDS (Diamino difnil sulfon) tablet 100mg/hari diminum dirumah
Pengobatan 6 dosis diselesaikan dalam 6-9 bulan. Dan setelah selesai minum 6 dosis dinyatakan RFT ( Related From Tretment = berhenti minum obat kusta) meskipun secara klinis lesinya masih aktif. Menurut WHO (1995) tidak lagi dinyatakan RFT tetapi menggunakan istilah Complention of Treatmen Cure dan pasien tidak lagi dalam pengawasan.
a.    Dosis untuk anak 
Klofazimin: Umur dibawah 10 tahun: bulanan 100mg/bulan
           Harian 50 mg/2kali/minggu
1.    Dosis untuk Umur 11-14 tahun:   
a.    bulanan 100mg/bulan
b.    Harian 50mg/3kali/minggu
2.    DDS (Diamino difnil sulfon) :1-2 mg/kg berat badan Rifampisin: 10-15 mg/kg berat badan.

Identifikasi masalah 
Di dalam ilmu Epidemiologi ada 3 faktor utama yang dapat menyebabkan terjadinya Kusta yaitu faktor Host ( Manusia ), faktor Agent  (Bakteri ) dan faktor Environment ( Lingkungan ). Bila ke 3 faktor ini terjadi ketidak seimbangan  antara faktor satu dengan faktor lainnya, maka keadaan inilah yang dapat menyebabkan timbulnya kejadian Kusta. Dari ketiga faktor tersebut, dapat dilihat dari keadaan sebagai
berikut:
A.    Keadaan Geografis
Kabupaten Polewali Mandar terletak dengan batas-batas administrasi sebagai berikut:
a.    Sebelah Utara berbatasan dengan kabupaten Mamasa
b.    Sebelah Timur berbatasan dengan kabupaten Pinrang
c.    Sebelah Selatan dan Barat berbatasan dengan Selat Makassar dan kabupaten Majene.
Luas wilayah kabupaten Polewali Mandar tercatat 2.022,30 km yang meliputi 16 kecamatan yang terdiri dari 167 Desa/Kelurahan, Kecamatan Tubbi Tamaranu dan Kecamatan Mapilli merupakan Kecamatan yang terluas dengan luas Wilayah kedua kecamatan tersebut mencapai 33,52% dari seluruh wilayah Kabupaten Polewali Mamasa. Sementara luas kecamatan terkecil adalah kecamatan Tinambung dengan luas 21,34 km.
B.    Pendidikan
Salah satu upaya pemerintah daerah dalam rangka mengembangkan dan meningkatkan SDM melalui pendidikan adalah realisasi program wajib belajar 9 tahun. Melalui program ini diharapkan tercipta sumber daya manusia yang siap mengembangkan diri untuk bersaing di era globalisasi. Polewali Mandar senantiasa berupaya menciptakan masyarakat terdidik. Hal ini dapat diamati, antara lain melalui peningkatan jumlah saran di sekolah tingkat dasar maupun tingkat menengah. Setiap tahun, jumlah murid/siswa dari TK hingga tingkat perguruan tinggi mengalami peningkatan.
1.    Perguruan Tinggi
a.    Universitas Al Asyariah Mandar (UNASMAN)
b.    Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Bina Generasi
c.    Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) YPPP.

2.    Sekolah Menengah Atas
Selain perguruan tinggi, ada beberapa sekolah menengah atas yang berstatus negeri yaitu SMAN 1 Wonomulyo, SMAN 2 Polewali, SMAN 3 Polewali, SMA 1 Tinambung bahkan sudah ada SMA yang menjadi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional yaitu SMA Negeri 1 Polewali. Adapun sekolah swasta yaitu SMA YPP.
3.    Sekolah Menengah Kejuruan
Selain itu ada SMK yang berstatus sebagai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yang menjadi andalan di Kabupaten Polewali Mandar yaitu SMK Negeri 1 Polewali. Selain itu ada SMK Negeri Wonomulyo. Adapun sekolah swasta antara lain SMA Bina Generasi, SMK YPPP, SMK PPM AL - Ikhlash, SMK Muhammadiyah, dll.
D.    Sosial Budaya
Suku Mandar adalah salah sutu bangsa yang mendiami daerah Sulawesi Selatan baguan barat di sekitar 0.5o-3.5o LS dan 118o-119.5o BT.
Pada jaman penjajahan Belanda daerah ini disebut Afdeling Mandar, dengan ibukota Majene, tetapi setelah Indonesia merdeka berdasarkan Undang-Undang No. 29/1959 daerah atau Afdeling Mandar tersebut dibagi menjadi Kabupaten Polewali Mamasa (Polmas), Kabupaten Majene dan Kabupaten Mamuju.
Salah satu kerajaaan yang paling terkenal di daerah Mandar yang berpusat dalam wilayah Kabupaten Polewali Mamasa sekarang ini adalah kerajaan Balanipa yang berkedudukan di daerah Kecamatan Tinambung.
Dahulu kerajaan Balanipa merupakan salah satu kerajaan Mandar yang terbesar dan terkenal. Dalam perjanjian Luyo bahkan disebutkan antara lain “Amai Balanipa, Indoi Sendana…” yang artinya “Balanipa adalah bapak, Sendana adalah ibu…” sampai saat pecahnya perang Pasifik (1942) kerajaan atau swapraja Balanipa masih merupakan kerajaan Mandar yang terpenting dan raja Balanipa masih merupakan raja atau tokoh yang sangat dihormati oleh orang-orang Makassar. Tidaklah pula salah jikalau dikatakan bahwa Balanipa dapat merupakan model daripada kehidupan kebudayaan dan adat-istiadat suku Mandar.
Di dalam Lontara Mandara disebutkan bahwa To Manurung tidak turun di daerah Mandar tetapi turun di hulu Sungai Saddang yang kemudian beranak tujuh orang yang menyebar keseluruh daerah Sulawesi Selatan, salah satu anaknya yaitu Pongkapadang datang ke daerah Mandar menurunkan 11 orang anak. Kemudian salah satu dari sebelas orang anak itu bernama To Bittoeng yang kawin dengan salah seorang anak To Makaka’ Napo, dari perkawinan tersebut lahirlah I Manyambungi yang kemudian diangkat menjadi Arajang Balanipa yang pertama didaerah Mandar. Setelah wafat beliau di sebut To Dilaling, makamnya terdapat di Desa Napo, daerah bekas Distrik Limboro Kecamatan Tinambung Kabupaten Polmas. Mungkin raja I Manyambungi inilah ayah I Rerasi, ibu raja Gowa yang IX, Tuma’risi’ Kallonna (bertahta tahun 1511-1547) merupakan salah satu raja Gowa yang besar dalam sejarah. Kapan kerajaan Balanipa pertama didirikan belum diperoleh kepastian, menurut M. Darwis Hamzah dalam bukunya “Polmas Dalam Pergelaran Kesenian Sulselra” behwa pada abad ke 15 I Manyambungi diangkat oleh rakyat balanipa menjadi Arajang (Maradia) Balanipa.
F.    Keturunan
Dalam salah satu naskah lokal (lontara) di Mandar ditemukan keterangan yang menyatakan bahwa manusia pertama yang datang ke daerah ini mendarat di hulu Sungai Sadang. Sementara dalam tulisan dari Salahuddin Mahmud (1984) dinyatakan bahwa Tomakaka yang pertama menetap di Ulu‘ Sadang. Keterangan itu memberikan petunjuk bahwa pemukiman di daerah ini telah berlangsung jauh sebelum terjadi penurunan permukaan laut (masa glasial). Selain itu juga dapat dipahami bahwa penghuni daerah ini adalah Kelompok Migran yang datang dari daerah lain, diperkirakan dari daerah Cina Selatan, yang kemudian menetap dan membangun persekutuan masyarakat. Juga dapat berarti bahwa penduduk daerah pesisiran maupun daerah pedalaman bercikal bakal pada keturunan yang sama, yang oleh berbagai alasan, pertambahan penduduk , bencana alam, wabah penyakit atau karena persoalan adat dan sistem kekuasaan, berpindah dan membangun pemukiman baru.
G.    Pelayanan Kesehatan
Pada tahun 2008 dan 2009 cakupan kunjungan kesakitan di Puskesmas mengalami penurunan, karena promosi yang terus-menerus tentang pelayanan  kesehatan gratis, maka masyarakat atau pasien ketika sakit dengan stadium ringan, sudah bersegera berkunjung ke Puskesmas untuk mendapat pelayanan pengobatan rawat jalan 3 hari, pasein ini tidak akan datang yang kedua kalinya karena penyakit dengan stadium ringan akan sembuh dalam waktu tiga hari, secara otomatis cakupan kunjungan pelayanan kesakitan akan turun bila dibandingkan dengan tahun 2007. Jadi pendapat yang benar adalah dengan adanya pelayanan kesehatan gratis telah menurunkan cakupan kunjungan pelayanan  kesakitan di Puskesmas diwilayah Kabupaten Polewali Mandar, Bukan sebaliknya meningkatkan kunjungan pelayanan kesakitan.


Tahapan perencanaan
A.    Rancangan Pendekatan
Pendekatan yang digunakan dalam tahap ini, adalah pendekatan Logis yaitu dengan mengukur Morbiditas, Mortalitas dan kecacatan penderita Kusta di Kabupaten Polewali Mandar.
1.    Morbiditas
Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sulawesi Barat, mengungkapkan jumlah penderita penyakit kusta di wilayah Kabupaten Polewali Mandar (Polman), dengan angka kejadian 11 kusta tipe kering dan 115 orang kusta tipe basah.
2.    Mortalitas
Dari 11 kasus kusta tipe kering dan 115 kusta tipe basa di kabupaten polewali mandar tidak ada penderita yang meninggal.
3.    Kecacatan
Dari 11 kasus kusta tipe kering dan 115 kusta tipe basa di Kabupaten Polewali Mandar yang menderita cacat sebanyak 96 orang.
B.    Prioritas Masalah
Dilihat dari masalah yang timbul yang lebih besar pengaruhnya terhadap kejadian kusta adalah lingkungan kumuh dan kepadatan penduduk. Maka dari itu akan dilakukan perbaikan sanitasi lingkungan dan karantina bagi penderita kusta. Untuk tindakan yang dilakukan adalah penyuluhan dan isolasi bagi penderita Kusta.

Rincian Anggaran Panitia Pelaksana
Promotif and Isolation Deseases Of Kusta
Anggaran Biaya   Rp 140.400.000,-
Rincian Biaya
1.    Investigasi (metode interview kerumah penderita kusta Rp 500.000,-
2.    Kegiatan Penyuluhan
a.    Transportasi dari kota Kabupaten ketempat penyuluhan Rp 1.000.000,-
b.    Konsumsi pada saat penyuluhan Rp 600.00,-
3.    Kegiatan Isolasi
a.    Mendata penduduk yang berpotensi kusta
1.    Jumlah pendata 100 orang/Rp 500.000,-    =Rp 5.000.000,-
2.    Transportasi ketetempat pendataan           =Rp 10.000.000,-
3.    Konsumsi selama pendataan                      =Rp 5.000.000,-
b.    Isolasi penderita kusta
1.    Transportasi ketempat isolasi 50/orang    =Rp 8.300.000,-
2.    Tempat tinggal penderita selama karantina =Rp 15.000.000,-
3.    Konsumsi selama masa karantina               =Rp 50.000.000,-
4.    Pemberian obat                                              =Rp 50.000.000,-  
Jumlah                                                             Rp 140.900.000,-





Tidak ada komentar:

Posting Komentar