Selasa, 28 Mei 2013

 MAKALAH DAMPAK YANG DITIMBULKAN OLEH PROSES URBANISASI TERHADAP KEHIDUPAN DI LINGKUNGAN PERKOTAAN  YANG DAPAT MENIMBULAKAN PENYAKIT TB PARU


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pada negara industri maju, urbanisasi dimulai sejak industrialisasi, jadi industri merupakan titik tolak terjadinya urbanisasi. Penduduk kota meningkat lebih lambat dibandingkan di negara berkembang sedangkan pertumbuhan kota relatif lebih imbang (perbedaan tidak besar), sehingga dikatakan “proses urbanisasi merupakan proses ekonomi”.
Urbanisasi pada negara berkembang dimulai sejak PD II, urbanisasi merupakan titik tolak terjadinya industri (kebalikan dari negara industri maju), penduduk kota meningkat cepat sehingga urbanisasi tidak terbagi rata, semakin besar kotanya, semakin cepat proses urbanisasinya, adanya konsep “Primate City”., sehingga dikatakan “proses urbanisasi bersifat demografi”. Hal ini lah yang terjadi di Indonesia saat ini, yaitu berduyun-duyunnya masyarakat desa ke kota sehingga kota bertambah padat.
B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah tersebut di atas, dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.    Apakah Pengertian Urbanisasi?
2.    Bagaimanakah Proses Urbanisasi?
3.    Apakah Faktor Penyebab Terjadinya Urbanisasi?
4.    Apakah Dampak yang Ditimbulkan oleh Proses Urbanisasi Terhadap Kehidupan di Lingkungan Perkotaan?
5.    Penyakit apakah yang timbul akibat masyarakat urbnisasi?
6.    Bagaimanakah Cara untuk mencegah TB Paru akibat urbanisasi?
C.    Tujuan
1.    Tujuan Umum
Untuk mengetahui masyarakat Urbanisasi secara keseluruhan.
2.    Tujuan Khusus
a.    Untuk mengetahui pengertian urbanisasi
b.    Untuk mengetahui proses urbanisasi
c.    Untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya urbanisasi
d.    Untuk mengetahui Dampak yang Ditimbulkan oleh Proses Urbanisasi Terhadap Kehidupan di Lingkungan Perkotaan?
e.    Untuk mengetahui Penyakit  yang timbul akibat masyarakat urbnisasi
f.    Untuk mengetahui Cara untuk mencegah TB Paru akibat urbanisasi





BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Urbanisasi
Urbanisasi berasal dari kata Urban yang artinya sifat kekotaan. Arti urbanisasi sangat luas, yang paling menonjol di Indonesia diartikan sebagai perpindahan penduduk dari desa ke kota. Paul Knox mendefinisikan urbanisasi sebagai suatu proses yang dimotori oleh perubahan ekonomi yang mendorong dan didorong oleh faktor-faktor manusia, sumber daya alam dan teknologi (sumber daya alam buatan) dan menghasilkan keluaran keadaan ekonomi, sosial dan fisik serta masalah-masalah yang menjadi bahan yang harus diatasi dalam penentuan kebijakan pembangunan kota. Selanjutnya, Urbanisasi ditinjau dari sejarahnya yang sangat tua adalah suatu proses perubahan yang diinginkan manusia untuk mempertahankan hidupnya dan atau menuju perbaikan nasib kehidupannya, hal tersebut telah berlangsung sejak manusia itu ada didunia (Soetomo, 2009 : 44). Maka, dari definisi yang ada, dapat diambil kesimpulan bahwa urbanisasi adalah suatu proses terbentuknya kehidupan perkotaan yang berbeda dengan kehidupan pedesaan, dalam konteks ekonomi, sosial dan mentalitas masyarakatnya.
Kota adalah tempat bermukimnya manusia dengan segala kehidupannya, maka kota adalah bagian dari Human Settlement. Dikatakan oleh Doxiadis (dalam Soetomo, 2010 : 35) bahwa : “Human settlement are, by definition, settlement inhabited by Man”. (Ekistics, Constantinos. A.Doxiadis, 1968). Kota sebagai tempat yang dibentuk tidak hanya oleh bangunan saja namun juga oleh manusia. Kesembilan  karakter kota oleh Kostof, merupakan pengertian yang sangat komprehensif dan menarik yang menjabarkan kedua aspek (bangunan dan manusia).
B.     Proses Urbanisasi
Pertama, pemerintah berkeinginan untuk sesegera mungkin meningkatkan proporsi penduduk yang tinggal di daerah perkotaan. Hal ini berkaitan dengan kenyataan bahwa meningkatnya penduduk daerah perkotaan akan berkaitan erat dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi negara. Data memperlihatkan bahwa suatu negara atau daerah dengan tingkat perekonomian yang lebih tinggi, juga memiliki tingkat urbanisasi yang lebih tinggi, dan sebaliknya. Negara-negara industri pada umumnya memiliki tingkat urbanisasi di atas 75 persen. Bandingkan dengan negara berkembang yang sekarang ini. Tingkat urbanisasinya masih sekitar 35 persen sampai dengan 40 persen saja.
Kedua, terjadinya tingkat urbanisasi yang berlebihan, atau tidak terkendali, dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada penduduk itu sendiri. Ukuran terkendali atau tidaknya proses urbanisasi biasanya dikenal dengan ukuran primacy rate, yang kurang lebih diartikan sebagai kekuatan daya tarik kota terbesar pada suatu negara atau wilayah terhadap kota-kota di sekitarnya. Makin besar tingkat primacy menunjukkan keadaan yang kurang baik dalam proses urbanisasi. Sayangnya data mutahir mengenai primacy rate di Indonesia tidak tersedia.
C.    Faktor Penyebab Terjadinya Urbanisasi
Pada umumnya, masyarakat melakukan urbanisasi karena adanya pengaruh yang kuat dalam bentuk ajakan, informasi media massa, impian pribadi, terdesak kebutuhan ekonomi, dan lainsebagaimya. Pengaruh-pengaruh tersebut bisa berasal dari daerah asal (faktor pendorong) maupun daerah tujuan (faktor penarik).
1.     Faktor penarik terjadinya urbanisasi
a.     Kehidupan kota yang lebih modern dan mewah
b.    Sarana dan prasarana kota yang lebih lengkap
c.    Banyaknya lapangan pekerjaan di kota 
d.    Pendidikan yang jauh lebih baik dari yang ada di pedesaan.
2.     Faktor pendorong terjadinya urbanisasi
a.    Lahan pertanian yang semakin sempit
b.    Merasa kurang cocok dengan budaya tempat asalnya
c.    Menganggur karena tidak banyak lapangan pekerjaan didesa
d.     Terbatasnya sarana dan prasarana yang ada didesa
e.    Memiliki impian kuat menjadi orang kaya
D.    Dampak yang Ditimbulkan oleh Proses Urbanisasi Terhadap Kehidupan di Lingkungan Perkotaan
Akibat dari meningkatnya proses urbanisasi, hal ini menimbulkan dampak-dampak terhadap lingkungan kota, baik dari segi tata kota, masyarakat, maupun keadaan sekitarnya.
1.    Dampak positif
Pandangan yang positif terhadap urbanisasi, melihat urbanisasi sebagai usaha pembangunan yang menyeluruh, tidak terbatas dalam pagar administrasi kota. Selain itu kota dianggap sebagai “agen modernisasi dan perubahan”. Mereka melihat kota sebagai suatu tempat pemusatan modal, keahlian, daya kreasi dan segala macam fasilitas yang mutlak diperlukan bagi pembangunan.
Tanggapan lain adalah bahwa kita tidak mungkin membayangkan bagaimana pertumbuhan dan keadaan Jakarta sekarang ini dan juga pusat-pusat industri di dunia lainnya bisa tercapai bila seandainya tidak ada urbanisasi
Kelompok tertentu berpendapat bahwa proses urbanisasi hanyalah suatu fenomena temporer yang tidak menghambat pembangunan. Dan menekankan bahwa kota merupakan suatu “leading sector” dalam perubahan ekonomi, sosial dan politik. Urbanisasi merupakan variable independen yang memajukan pembangunan ekonomi.

2.    Dampak negative
Di Indonesia, persoalan urbanisasi sudah dimulai dengan digulirkannya beberapa kebijakan 'gegabah' orde baru. Pertama, adanya kebijakan ekonomi makro (1967-1980), di mana kota sebagai pusat ekonomi. Kedua, kombinasi antara kebijaksanaan substitusi impor dan investasi asing di sektor perpabrikan (manufacturing), yang justru memicu polarisasi pembangunan terpusat pada metropolitan Jakarta. Ketiga, penyebaran yang cepat dari proses mekanisasi sektor pertanian pada awal dasawarsa 1980-an, yang menyebabkan kaum muda dan para sarjana, enggan menggeluti dunia pertanian atau kembali ke daerah asal.
Arus urbansiasi yang tidak terkendali ini dianggap merusak strategi rencana pembangunan kota dan menghisap fasilitas perkotaan di luar kemampuan pengendalian pemerintah kota. Beberapa akibat negatif tersebut akan meningkat pada masalah kriminalitas yang bertambah dan turunnya tingkat kesejahteraan.
Dampak negatif lainnnya yang muncul adalah terjadinya “overurbanisasi” yaitu dimana prosentase penduduk kota yang sangat besar yang tidak sesuai dengan perkembangan ekonomi negara. Selain itu juga dapat terjadi “underruralisasi” yaitu jumlah penduduk di pedesaan terlalu kecil bagi tingkat dan cara produksi yang ada.
Pada saat kota mendominasi fungsi sosial, ekonomi, pendidikan dan hirarki urban. Hal ini menimbulkan terjadinya pengangguran dan underemployment. Kota dipandang sebagai inefisien dan artificial proses “pseudo-urbanisastion”. Sehingga urbanisasi merupakan variable dependen terhadap pertumbuhan ekonomi.
Dampak negatif lainnya yang ditimbulkan oleh tingginya arus urbanisasi di Indonesia adalah sebagai berikut :
a.    Semakin minimnya lahan kosong di daerah perkotaan. Pertambahan penduduk kota yang begitu pesat, sudah sulit diikuti kemampuan daya dukung kotanya. Saat ini, lahan kosong di daerah perkotaan sangat jarang ditemui. ruang untuk tempat tinggal, ruang untuk kelancaran lalu lintas kendaraan, dan tempat parkir sudah sangat minim. Bahkan, lahan untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH) pun sudah tidak ada lagi. Lahan kosong yang terdapat di daerah perkotaan telah banyak dimanfaatkan oleh para urban sebagai lahan pemukiman, perdagangan, dan perindustrian yang legal maupun ilegal. Bangunan-bangunan yang didirikan untuk perdagangan maupun perindustrian umumnya dimiliki oleh warga pendatang. Selain itu, para urban yang tidak memiliki tempat tinggal biasanya menggunakan lahan kosong sebagai pemukiman liar mereka. hal ini menyebabkan semakin minimnya lahan kosong di daerah perkotaan.
b.    Menambah polusi di daerah perkotaan. Masyarakat yang melakukan urbanisasi baik dengan tujuan mencari pekerjaan maupun untuk memperoleh pendidikan, umumnya memiliki kendaraan. Pertambahan kendaraan bermotor roda dua dan roda empat yang membanjiri kota yang terus menerus, menimbulkan berbagai polusi atau pemcemaran seperti polusi udara dan kebisingan atau polusi suara bagi telinga manusia. Ekologi di daerah kota tidak lagi terdapat keseimbangan yang dapat menjaga keharmonisan lingkungan perkotaan.
c.    Penyebab bencana alam. Para urban yang tidak memiliki pekerjaan dan tempat tinggal biasanya menggunakan lahan kosong di pusat kota maupun di daerah pinggiran Daerah Aliran Sungai (DAS) untuk mendirikan bangunan liar baik untuk pemukiman maupun lahan berdagang mereka. Hal ini tentunya akan membuat lingkungan tersebut yang seharusnya bermanfaat untuk menyerap air hujan justru menjadi penyebab terjadinya banjir. Daerah Aliran Sungai sudah tidak bisa menampung air hujan lagi.
d.     Pencemaran yang bersifat sosial dan ekonomi. Kepergian penduduk desa ke kota untuk mengadu nasib tidaklah menjadi masalah apabila masyarakat mempunyai keterampilan tertentu yang dibutuhkan di kota. Namun, kenyataanya banyak diantara mereka yang datang ke kota tanpa memiliki keterampilan kecuali bertani. Oleh karena itu, sulit bagi mereka untuk memperoleh pekerjaan yang layak. Mereka terpaksa bekerja sebagai buruh harian, penjaga malam, pembantu rumah tangga, tukang becak, masalah pedagang kaki lima dan pekerjaan lain yang sejenis. Hal ini akhitnya akan meningkatkan jumlah pengangguran di kota yang menimbulkan kemiskinan dan pada akhirnya untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, orang – orang akan nekat melakukan tindak kejahatan seperti mencuri, merampok bahkan membunuh. Ada juga masyarakat yang gagal memperoleh pekerjaan sejenis itu menjadi tunakarya, tunawisma, dan tunasusila.
e.    Penyebab kemacetan lalu lintas. Padatnya penduduk di kota menyebabkan kemacetan dimana-mana, ditambah lagi arus urbanisasi yang makin bertambah. Para urban yang tidak memiliki tempat tinggal maupun pekerjaan banyak mendirikan pemukiman liar di sekitar jalan, sehingga kota yang awalnya sudah macet bertambah macet. Selain itu tidak sedikit para urban memiliki kendaraan sehingga menambah volum kendaraan di setiap ruas jalan di kot
f.    Merusak tata kota. Pada negara berkembang, kota-kotanya tdiak siap dalam menyediakan perumahan yang layak bagi seluruh populasinya. Apalagi para migran tersebut kebanyakan adalah kaum miskin yang tidak mampu untuk membangun atau membeli perumahan yang layak bagi mereka sendiri. Akibatnya timbul perkampungan kumuh dan liar di tanah-tanah pemerintah. Tata kota suatu daerah tujuan urban bisa mengalami perubahan dengan banyaknya urbanisasi. Urban yang mendirikan pemukiman liar di pusat kota serta gelandangan-gelandangan di jalan-jalan bisa merusak sarana dan prasarana yang telah ada, misalnya trotoar yang seharusnya digunakan oleh pedestrian justru digunakan sebagai tempat tinggal oleh para urban. Hal ini menyebabkan trotoar tersebut menjadi kotor dan rusak sehingga tidak berfungsi lagi.
E.    Penyakit Akibat Masyarakat Urbanisasi
Timbulnya berbagai penyakit akibat organisasi, salah satunya TB Paru, diakibatkan karena semakin padatnya penduduk di kota, dansemakin sempitnya tanah perumahan di perkotaan.
1.    pengertiaTB Paru
Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. Hal ini bisa terjadi, karena penduduk di kota semakin padat.
2.    Etiologi
TB paru disebabkan oleh Mycobakterium tuberculosis yang merupakan batang aerobic tahan asam yang tumbuh lambat dan sensitif terhadap panas dan sinar UV. Bakteri yang jarang sebagai penyebab, tetapi pernah terjadi adalah M. Bovis dan M. Avium. Virus ini bisa berkembang pada keadaan lembab karena lingkungan yang tidak bersih, akibat kepadatan penduduk.
3.    Cara untuk mencegah TB Paru akibat urbanisasi
Dengan melakukan penyuluhan kepada masyarakat agar bisa sadar, bahwa meskipun penduduk padat tapi bisa di cegah dengan kebersihan lingkungan dengan cara meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai betapa pentingnya kebersihan lingkungn.













BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Proses urbanisasi yang telah menjadi sebuah proses rutin yang dilakukan tiap masyarakat Indonesia akhir-akhir ini menimbulkan suatu permasalahan yang cukup serius. Urbanisasi yang dilakukan tanpa perencanaan yang sempurna akan terus menimbulkan permasalahan yang berdampak pada pembangunan dan kehidupan di kota itu sendiri. Masalah yang timbul umumnya berasal dari tiap-tiap individu, orang yang melakukan urbanisasi, yang memiliki tujuan awal datang kekota untuk mencari penghidupan yang layak, tetapi karena tidak memiliki skill atau kemampuan yang cukup untuk bersaing, maka orang itu tidak mampu bersaing, dan kemudian menjadi penggangguran dan menimbulkan kemiskinan, dan akan menimbulkan dampak lainnya.
Maka dari itu, proses urbanisasi akan berdampak baik apabila di lakukan dengan sebuah perencanaan yang baik, sehingga dampak-dampak buruk yang dapat menghambat perkembangan dan kehidupan di perkotaan dapat di minimalisir.
B.    Saran
Agar tidak terjadi dampak negatif bagi masyarakat urbanisasi terhadap daera perkotaan, hendaknya masyarakat tersebut memperhatihan kebersihan lingkungannya masing-masing.
Pemerintah hendaknya memperhatikan tempat tinggal masyarakat urbanisasi tersebut, agar tidak terjadi dampak yang negatif.




















DAFTAR PUSTAKA

http://eryandeunge.blogspot.com/2012/03/masyarakat-kota-dan-urbanisasi.html
http://herycomdev.wordpress.com/2012/04/02/urbanisasi-suburnisasi-dan-kontestasi-masyarakat-urbanisasi-dikomplek-perumahan/







 PROPOSAL PERENCANAAN KESEHATAN POLEWALI MANDAR tahun 2013 tentang PROMOTIF AND ISOLATION PENYAKIT KUSTA (tugas epidemiology perencanaan kesehatan)


A.  LATAR BELAKANG
Kusta termasuk penyakit tertua. Kata kusta Berasal dari bahasa india Khusta dikenal sejak 1400 tahun sebelum masehi. Kata lepra ada disebut-sebut dalam kitab injil, terjemahan dari bahasa Hebrew Zaraath, yang sebenarnya mencakup beberapa kulit lainya. Ternyata bahwa berbagai deskriptip mengenai penyakit ini sangat kabur, apalagi jika dibandingkan dengan kusta yang kita kenal sekarang ini. (Sri Linuwih 2002).
Menurut WHO Weekly Epidemiological Report mengenai kusta tahun 2010, selama tahun 2009 terdapat 17.260 kasus baru di Indonesia, dengan 14.227 kasus teridentifikasi sebagai kasus kusta tipe Multi Basiler (MB) yang merupakan tipe yang menular. Dari data kasus kusta baru tahun 2009 tersebut, 6.887 kasus diantaranya  diderita oleh kaum perempuan, sedangkan 2.076 kasus diderita oleh anak-anak.
Pada awal tahun 2009, di dunia terdapat 219.826 kasus dengan perincian regional Asia Tenggara 133.422 kasus (PR 0,81 / 10.000 ), regional Afrika : 40.830 kasus (PR 0,56 / 10.000) dan regional Amerika 32.904 kasus (PR 0,39 / 10.000), sedangkan sisanya berada di regional lainnya.
Data Kementerian Kesehatan menyebutkan pada 2009 tercatat 17.260 kasus baru kusta di Indonesia (7,49/100.000 penduduk) dan jumlah kasus terdaftar sebanyak 21.026 orang dengan angka prevalensi: 0,91 per 10.000 penduduk. Sedangkan tahun 2010, jumlah kasus baru tercatat 10.706 (Angka Penemuan kasus baru/CDR: 4.6/100.000) dan jumlah kasus terdaftar sebanyak 20.329 orang dengan prevalensi: 0.86 per 10.000 penduduk.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sulawesi Barat mengungkapkan penyakit kusta ini mempunyai prevalensi rate (Angka Kejadian) sebesar 2,5 per 10.000 penduduk ditahun 2009 (atau ada 269 penderita)  yang seharusnya berada dibawah standar Nasional  yaitu  <1 per 10.000  penduduk dan tidak ada kabupaten satupun yang prevalensinya berada di bawah standar Nasional. Lebih memprihatinkan lagi ditahun 2010 ditemukan ada 760 penderita atau 7,0 per 10.000 penduduk. Ada kenaikan sekitar 15% dari tahun 2009.  Seharusnya di Propinsi Sulawesi Barat hanya ada  108 kasus dari jumlah penduduknya. Jadi kalau ada 760 penderita itu artinya sudah 700% dari yang seharusnya, “Luar Biasa”
Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sulawesi Barat, mengungkapkan jumlah penderita penyakit kusta sepanjang tahun 2012 ditemukan tertinggi terdapat di wilayah Kabupaten Polewali Mandar (Polman), dengan angka kejadian 11 kusta tipe kering dan 115 orang kusta tipe basah.


B. NAMA  KEGIATAN
Kegiatan ini bernama “Promotif and Isolation Kusta Of Diseases”
C. TUJUAN  KEGIATAN
1.    Tujuan Umum
Menyelamatkan masyarakat agar tidak tertular penyakit kusta dari penderita kusta tersebut.
2.    Tujuan Khusus
Meningkatkan pemahaman, dan perilaku positif masyarakat tentang kesehatan dan cara pencegahan Kusta.

D. TEMA KEGIATAN
Tema “selamatkan masyarakat Kabupaten Polewali Mandar dari belenggu dan ancaman Kusta”
E. waktu dan tempat pelaksanaan
Kegiatan ini akan dilaksanakan pada :
      Hari / Tanggal : senin, 05 agustus 2013
    Tempat            : Kantor Kecamatan, Kabupaten Polewali Mandar

F. SASARAN KEGIATAN
Kegiatan ini ditujukan untuk semua masyarakat kabupaten Polewali mandar dengan sasarannya adalah semua warga yang menderita ataupun tidak menderita Kusta.

G. BENTUK KEGIATAN
Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk penyuluhan dan Isolasi penderita kusta, serta karantina bagi penderita kusta dengan mengambil beberapa materi .

H. PELAKSANA KEGIATAN
Kegiatan ini akan diselenggarakan oleh panitia pelaksana dari anggota Himpunan Sarjana Kesehatan Masyarakat Jurusan Epidemiologi Kabupaten Polewali Mandar.

Campalagian, 21 Juli 2013

Panitia Pelaksana
Promotif and Isolation Kusta of Deseases





SELVITA                        RISMAYANTI
KETUA                        SEKRETARIS








Mengetahui,
PENGURUS HMSKJE KABUPATEN POLEWALI MANDAR



MEILINDA
KETUA UMUM





TINJAUAN PUSTAKA
A.    Defenisi Kusta
Kusta adalah penyakit infeksi yang kronik, Penyebabnya ialah Mikobakterium leprae yang intraseluler obligat. Saraf perifer sebagai afinitas pertama, lalu kulit dan mukosa traktus repiratorius bagian atas kemudian dapat ke organ lain kecuali susunan saraf pusat. ( A. Kosasih dkk 1999).
Penyakit kusta adalah penyakit kronik yang disebabkan oleh kuman Mycobakterium leprae ( M. Leprae)  yang pertama kali menyerang susunan saraf tepi, selanjutnya dapat menyerang kulit, mukosa (mulut), saluran pernafasan bagian atas, sistem retikulo endotelial, mata, otot, tulang dan testis. (Dali Amiruddin 2000).
B.    Epidemiologi Penyakit Kusta    
1.    Distribusi penyakit kusta menurut tempat
Penyakit kusta menyebar di seluruh dunia mulai dari Afrika, Amerika, Asia Tenggara, Mediterania Timur dan Pasifik Barat. Jumlah penderita kusta di dunia pada tahun 1997 sebanyak 888.340 orang. Jumlah penderita kusta baru pada tahun 2007 adalah sekitar 296.499 orang. Dari jumlah tersebut paling banyak terdapat pada regional Asia Tenggara 201.635 orang, Afrika 42.814orang, Amerika 41.780 orang, dan sisanya terdapat di regional lain di dunia. Pada tahun 2009, di Indonesia, jumlah penderita kusta yang terdaftar 19.805 orang. Masih terdapat di 10 propinsi memiliki penderita kusta terbanyak diantara propinsi lainnya yaitu Jawa Timur 4.856 orang, Jawa Barat 1.721 orang, Jawa Tengah 2.334 orang, Sulawesi Selatan 1.779 orang, Papua 1.190 orang, Nanggroe Aceh Darusalam 736 orang, Daerah Kota Istimewa Jakarta 1.721 orang, Sulawesi Utara 404 orang, Maluku Utara 550 orang dan Kalimantan Selatan 473 orang, Maluku 522, Sulawesi Utara 404 orang (Depkes RI, 2009).

2.    Distribusi penyakit kusta menurut waktu
    Ada 17 negara melaporkan 1000 atau lebih kasus baru selama tahun 2009. Sejak tahun 2002 secara global terjadi penurunan penemuan kasus baru, tetapi ada juga peningkatan penemuan kasus baru.
3.    Distribusi penyakit kusta menurut orang
a.    Distribusi menurut umur
    Penyakit kusta jarang sekali ditemukan pada bayi. Angka kejadian penyakit kusta meningkat sesuai umur dengan puncak kejadian pada umur 10-20 tahun (Depkes RI, 2006). Penyakit kusta dapat mengenai semua umur dan terbanyak terjadi pada umur 15-29 tahun. Serangan pertama kali pada usia di atas 70 tahun sangat jarang terjadi. Di Brasilia terdapat peninggian prevalensi pada usia muda, sedangkan pada penduduk imigran prevalensi meningkat di usia lanjut (Harahap, 2000). Menurut Depkes RI (2006) kebanyakan penelitian melaporkan bahwa distribusi penyakit kusta menurut umur berdasarkan prevalensi, hanya sedikit yang berdasarkan insiden karena pada saat timbulnya penyakit sangat sulit diketahui.
b.    Distribusi menurut jenis kelamin
    Kejadian penyakit kusta pada laki-laki lebih banyak terjadi dari pada wanita, kecuali di Afrika, wanita lebih banyak terkena penyakit kusta dari pada laki-laki (Depkes RI, 2006). Menurut Louhennpessy dalam Buletin Penelitian Kesehatan (2009) bahwa perbandingan penyakit kusta pada penderita laki-laki dan perempuan adalah 2,3 : 1,0. Artinya  penderita kusta pada laki-laki 2,3 kali lebih banyak dibandingkan penderita kusta pada perempuan. Menurut Noor dalam Buletin Penelitian Kesehatan (2009) penderita pria lebih tinggi dari wanita dengan perbandingannya sekitar 2 : 1
C.    Penyebab
    Penyebab penyakit ini adalah mikobakterium lepra(Mycobakterium leprae, M. Leprae) ( Dali Amiruddin 2000) Kuman penyebab kusta adalah Mycobaterium Leprae yang ditemukan oleh G.A HANSEN pada tahun 1879 di Norwegia, yang sampai sekarang belum juga dapat dibiakkan dalam media artifisial. M. Leprae berbentuk basil dengan ukuran 3-8 Um x 0.5 Um, Tahan asam dan alkohol, serta positif gram. (A. Kosasih dkk 1999). Penyebab kusta adalah kuman mycobacterium leprae. Dimana microbacterium ini adalah kuman aerob, tidak membentuk spora, berbentuk batang, dikelilingi oleh membran sel lilin yang merupakan ciri dari spesies Mycobacterium, berukuran panjang 1 – 8 micro, lebar 0,2 – 0,5 micro biasanya berkelompok dan ada yang tersebar satu-satu, hidup dalam sel dan bersifat tahan asam (BTA) atau gram positif, tidak mudah diwarnai namun jika diwarnai akan tahan terhadap dekolorisasi oleh asam atau alkohol sehingga oleh karena itu dinamakan sebagai basil “tahan asam”. (Smal crab. Com 2010).
D.    Tanda dan Gejala
    Tanda dan gejala penyakit kusta biasanya menunjukkan gambaran yang jelas pada stadium yang lanjut dan diagnosis cukup ditegakkan dengan pemeriksaan fisik saja. Gejala dan keluhan penyaklit bergantung pada :
a.     Multiplikasi dan diseminasi kuman . Leprae
b.    Respon imun penderita terhadap kuman M . Leprae
c.    Komplikasi yang dikibatkan oleh kerusakan saraf perifer.
Ada 3 tanda kardinal. Kalau salah satu ada, tanda tersebut sudah cukup menetapkan diagnosis penyakit kusta yakni:
a.    Lesi kulit yang anestesi.
b.    Penebalan saraf perifer.
c.    Ditemukan M.  Leprae (Bakteriologis positif) ( Dali Amiruddin 2000).
Menurut WHO ( 1995) di kutip oleh arif  Mansjoer (2000) Diagnosis kusta kusta  ditegakkan bila terdapat  satu dari tanda kardinal berikut:
1.    Adanya lesi kulit yang khas dan kehilangan sensibilitas.
Lesi kulit dapat tunggal atau multipel, biasanya hipopigmentasi tetapi kadang-kadang lesi kemerahan atau berwara tembaga. Lesi dapat berfariasi tetapi pada umumnya berupa makula, papul atau nodul.
Kehilangan sensibilitas pada lesi kulit merupakan gambara khas. Kerusakan saraf terutama saraf tepi, bermanifestasi sebagai kehilangan sensibilitas kulit dan kelemahan otot. Penebalan saraf tepi saja tanpa disertai kehilangan sensibilitas dan atau kelemahan otot juga merupakjan tanda kusta.
2.    BTA positif
Pada beberapa kasus ditemukan basil tahan asam dari kerokan jaringan kulit. Bila ragu-ragu maka dianggap sebagai kasus dicurigai dan diperiksa ulang setiap 3 bulan sampai ditegakkan diagnosis kusta atau penyakit lain.
E.    Pemeriksaan Klinis
Menurut arif manjoer (2000) Pemeriksaan klinis penyakit kusta sebagai berikut:   
a.    Inspeksi. Pasien diminta memejamkan mata, menggerakkan mulut, bersiul, dan tertawa untuk mengetahui fungsi saraf wajah. Semua kelainan kulit diseluruh tubuh diperhatikan, seperti adanya makula, nodul, jaringan parut, kulit yang keriput, penebalan kulit dan kehilangan rambut tubuh ( alopesia dan madarosis).
b.    Pemeriksaan sensibilitas pada lesi kulit dengan menggunakan kapas ( rasa raba), jarum pentul yang tajam dan tumpul (rasa nyeri), serta air pana dan dingin dalam tabung reaksi ( rasa suhu).
c.    Pemeriksaan saraf tepi dan fungsinya dilakukan pada: n. Auricularis magnus, n. Ulnaris, n. Radilis, n. Medianus, n. Peroneus, dan n. Tibialis posterior. Hasil pemeriksan yang perlu dicatat adalah pembesran, konsistensi, penebalan, dan adanya nyeri tekan. Perhatikan raut muka pasien apakah kesakitan atau tidak saat saraf diraba.
d.    Pemeriksaan fungsi saraf otonom, yaitu pemeriksaan ada atau tidaknya kekeringan pada lesi akibat tidak berfungsinya kelenjer keringat dengan menggunakan pensil tinta ( uji Gunawan).
F.    Cara penularan kusta
Meskipun cara penularannya yang pasti belum diketahui dengan jelas, penularan di dalam rumah tangga dan kontak/hubungan dekat dalam waktu yang lama tampaknya sangat berperan dalam penularan kusta.
Cara-cara penularan penyakit kusta sampai saat ini masih merupakan tanda tanya. Yang diketahui hanya pintu keluar kuman kusta dari tubuh si penderita, yakni selaput lendir hidung. Tetapi ada yang mengatakan bahwa penularan penyakit kusta adalah:
a.    Melalui sekresi hidung, basil yang berasal dari sekresi hidung penderita yang sudah mengering, diluar masih dapat hidup 2–7 x 24 jam.
b.    Kontak kulit dengan kulit. Syarat-syaratnya adalah harus dibawah umur 15 tahun, keduanya harus ada lesi baik mikoskopis maupun makroskopis, dan adanya kontak yang lama dan berulang-ulang. (Zulkifli, 2010).
G.    Pengobatan Kusta
Tujan urtama program pemberantasan penyakit kusta adalah menyembuhkan pasien kusta dan mencegah timbulnya cacat serta memutuskan mata rantai penularan dari pasien kusta terutama tipe  menular kepada orang lain untuk menurunkan insiden penyakit.
Program Multi Drug Terapi (MDT) dengan kombinasi rifampisin, klofazimin, dan DDS (Diamino difnil sulfon) dimuli tahun 1981. Program ini tujuannya untuk mengatasi resistensi dapson yang semangkin meningkat, mengurangi ketidak taatan pasien, mengurangi angka poutus obat, dn mengeliminasipersistensi kuman kusta dalam jaringan.
Rejimen pengobatan MDT di indonesi sesuai rekomndasi WHO ( 1995) sebagai berikut:
Jenis  obat dan dosis untuk orang dewasa:
a.    Rifampisin 600 mg/bulan diminum didepan petugas.
b.    DDS (Diamino difnil sulfon) tablet 100mg/hari diminum dirumah
Pengobatan 6 dosis diselesaikan dalam 6-9 bulan. Dan setelah selesai minum 6 dosis dinyatakan RFT ( Related From Tretment = berhenti minum obat kusta) meskipun secara klinis lesinya masih aktif. Menurut WHO (1995) tidak lagi dinyatakan RFT tetapi menggunakan istilah Complention of Treatmen Cure dan pasien tidak lagi dalam pengawasan.
a.    Dosis untuk anak 
Klofazimin: Umur dibawah 10 tahun: bulanan 100mg/bulan
           Harian 50 mg/2kali/minggu
1.    Dosis untuk Umur 11-14 tahun:   
a.    bulanan 100mg/bulan
b.    Harian 50mg/3kali/minggu
2.    DDS (Diamino difnil sulfon) :1-2 mg/kg berat badan Rifampisin: 10-15 mg/kg berat badan.

Identifikasi masalah 
Di dalam ilmu Epidemiologi ada 3 faktor utama yang dapat menyebabkan terjadinya Kusta yaitu faktor Host ( Manusia ), faktor Agent  (Bakteri ) dan faktor Environment ( Lingkungan ). Bila ke 3 faktor ini terjadi ketidak seimbangan  antara faktor satu dengan faktor lainnya, maka keadaan inilah yang dapat menyebabkan timbulnya kejadian Kusta. Dari ketiga faktor tersebut, dapat dilihat dari keadaan sebagai
berikut:
A.    Keadaan Geografis
Kabupaten Polewali Mandar terletak dengan batas-batas administrasi sebagai berikut:
a.    Sebelah Utara berbatasan dengan kabupaten Mamasa
b.    Sebelah Timur berbatasan dengan kabupaten Pinrang
c.    Sebelah Selatan dan Barat berbatasan dengan Selat Makassar dan kabupaten Majene.
Luas wilayah kabupaten Polewali Mandar tercatat 2.022,30 km yang meliputi 16 kecamatan yang terdiri dari 167 Desa/Kelurahan, Kecamatan Tubbi Tamaranu dan Kecamatan Mapilli merupakan Kecamatan yang terluas dengan luas Wilayah kedua kecamatan tersebut mencapai 33,52% dari seluruh wilayah Kabupaten Polewali Mamasa. Sementara luas kecamatan terkecil adalah kecamatan Tinambung dengan luas 21,34 km.
B.    Pendidikan
Salah satu upaya pemerintah daerah dalam rangka mengembangkan dan meningkatkan SDM melalui pendidikan adalah realisasi program wajib belajar 9 tahun. Melalui program ini diharapkan tercipta sumber daya manusia yang siap mengembangkan diri untuk bersaing di era globalisasi. Polewali Mandar senantiasa berupaya menciptakan masyarakat terdidik. Hal ini dapat diamati, antara lain melalui peningkatan jumlah saran di sekolah tingkat dasar maupun tingkat menengah. Setiap tahun, jumlah murid/siswa dari TK hingga tingkat perguruan tinggi mengalami peningkatan.
1.    Perguruan Tinggi
a.    Universitas Al Asyariah Mandar (UNASMAN)
b.    Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Bina Generasi
c.    Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) YPPP.

2.    Sekolah Menengah Atas
Selain perguruan tinggi, ada beberapa sekolah menengah atas yang berstatus negeri yaitu SMAN 1 Wonomulyo, SMAN 2 Polewali, SMAN 3 Polewali, SMA 1 Tinambung bahkan sudah ada SMA yang menjadi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional yaitu SMA Negeri 1 Polewali. Adapun sekolah swasta yaitu SMA YPP.
3.    Sekolah Menengah Kejuruan
Selain itu ada SMK yang berstatus sebagai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yang menjadi andalan di Kabupaten Polewali Mandar yaitu SMK Negeri 1 Polewali. Selain itu ada SMK Negeri Wonomulyo. Adapun sekolah swasta antara lain SMA Bina Generasi, SMK YPPP, SMK PPM AL - Ikhlash, SMK Muhammadiyah, dll.
D.    Sosial Budaya
Suku Mandar adalah salah sutu bangsa yang mendiami daerah Sulawesi Selatan baguan barat di sekitar 0.5o-3.5o LS dan 118o-119.5o BT.
Pada jaman penjajahan Belanda daerah ini disebut Afdeling Mandar, dengan ibukota Majene, tetapi setelah Indonesia merdeka berdasarkan Undang-Undang No. 29/1959 daerah atau Afdeling Mandar tersebut dibagi menjadi Kabupaten Polewali Mamasa (Polmas), Kabupaten Majene dan Kabupaten Mamuju.
Salah satu kerajaaan yang paling terkenal di daerah Mandar yang berpusat dalam wilayah Kabupaten Polewali Mamasa sekarang ini adalah kerajaan Balanipa yang berkedudukan di daerah Kecamatan Tinambung.
Dahulu kerajaan Balanipa merupakan salah satu kerajaan Mandar yang terbesar dan terkenal. Dalam perjanjian Luyo bahkan disebutkan antara lain “Amai Balanipa, Indoi Sendana…” yang artinya “Balanipa adalah bapak, Sendana adalah ibu…” sampai saat pecahnya perang Pasifik (1942) kerajaan atau swapraja Balanipa masih merupakan kerajaan Mandar yang terpenting dan raja Balanipa masih merupakan raja atau tokoh yang sangat dihormati oleh orang-orang Makassar. Tidaklah pula salah jikalau dikatakan bahwa Balanipa dapat merupakan model daripada kehidupan kebudayaan dan adat-istiadat suku Mandar.
Di dalam Lontara Mandara disebutkan bahwa To Manurung tidak turun di daerah Mandar tetapi turun di hulu Sungai Saddang yang kemudian beranak tujuh orang yang menyebar keseluruh daerah Sulawesi Selatan, salah satu anaknya yaitu Pongkapadang datang ke daerah Mandar menurunkan 11 orang anak. Kemudian salah satu dari sebelas orang anak itu bernama To Bittoeng yang kawin dengan salah seorang anak To Makaka’ Napo, dari perkawinan tersebut lahirlah I Manyambungi yang kemudian diangkat menjadi Arajang Balanipa yang pertama didaerah Mandar. Setelah wafat beliau di sebut To Dilaling, makamnya terdapat di Desa Napo, daerah bekas Distrik Limboro Kecamatan Tinambung Kabupaten Polmas. Mungkin raja I Manyambungi inilah ayah I Rerasi, ibu raja Gowa yang IX, Tuma’risi’ Kallonna (bertahta tahun 1511-1547) merupakan salah satu raja Gowa yang besar dalam sejarah. Kapan kerajaan Balanipa pertama didirikan belum diperoleh kepastian, menurut M. Darwis Hamzah dalam bukunya “Polmas Dalam Pergelaran Kesenian Sulselra” behwa pada abad ke 15 I Manyambungi diangkat oleh rakyat balanipa menjadi Arajang (Maradia) Balanipa.
F.    Keturunan
Dalam salah satu naskah lokal (lontara) di Mandar ditemukan keterangan yang menyatakan bahwa manusia pertama yang datang ke daerah ini mendarat di hulu Sungai Sadang. Sementara dalam tulisan dari Salahuddin Mahmud (1984) dinyatakan bahwa Tomakaka yang pertama menetap di Ulu‘ Sadang. Keterangan itu memberikan petunjuk bahwa pemukiman di daerah ini telah berlangsung jauh sebelum terjadi penurunan permukaan laut (masa glasial). Selain itu juga dapat dipahami bahwa penghuni daerah ini adalah Kelompok Migran yang datang dari daerah lain, diperkirakan dari daerah Cina Selatan, yang kemudian menetap dan membangun persekutuan masyarakat. Juga dapat berarti bahwa penduduk daerah pesisiran maupun daerah pedalaman bercikal bakal pada keturunan yang sama, yang oleh berbagai alasan, pertambahan penduduk , bencana alam, wabah penyakit atau karena persoalan adat dan sistem kekuasaan, berpindah dan membangun pemukiman baru.
G.    Pelayanan Kesehatan
Pada tahun 2008 dan 2009 cakupan kunjungan kesakitan di Puskesmas mengalami penurunan, karena promosi yang terus-menerus tentang pelayanan  kesehatan gratis, maka masyarakat atau pasien ketika sakit dengan stadium ringan, sudah bersegera berkunjung ke Puskesmas untuk mendapat pelayanan pengobatan rawat jalan 3 hari, pasein ini tidak akan datang yang kedua kalinya karena penyakit dengan stadium ringan akan sembuh dalam waktu tiga hari, secara otomatis cakupan kunjungan pelayanan kesakitan akan turun bila dibandingkan dengan tahun 2007. Jadi pendapat yang benar adalah dengan adanya pelayanan kesehatan gratis telah menurunkan cakupan kunjungan pelayanan  kesakitan di Puskesmas diwilayah Kabupaten Polewali Mandar, Bukan sebaliknya meningkatkan kunjungan pelayanan kesakitan.


Tahapan perencanaan
A.    Rancangan Pendekatan
Pendekatan yang digunakan dalam tahap ini, adalah pendekatan Logis yaitu dengan mengukur Morbiditas, Mortalitas dan kecacatan penderita Kusta di Kabupaten Polewali Mandar.
1.    Morbiditas
Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sulawesi Barat, mengungkapkan jumlah penderita penyakit kusta di wilayah Kabupaten Polewali Mandar (Polman), dengan angka kejadian 11 kusta tipe kering dan 115 orang kusta tipe basah.
2.    Mortalitas
Dari 11 kasus kusta tipe kering dan 115 kusta tipe basa di kabupaten polewali mandar tidak ada penderita yang meninggal.
3.    Kecacatan
Dari 11 kasus kusta tipe kering dan 115 kusta tipe basa di Kabupaten Polewali Mandar yang menderita cacat sebanyak 96 orang.
B.    Prioritas Masalah
Dilihat dari masalah yang timbul yang lebih besar pengaruhnya terhadap kejadian kusta adalah lingkungan kumuh dan kepadatan penduduk. Maka dari itu akan dilakukan perbaikan sanitasi lingkungan dan karantina bagi penderita kusta. Untuk tindakan yang dilakukan adalah penyuluhan dan isolasi bagi penderita Kusta.

Rincian Anggaran Panitia Pelaksana
Promotif and Isolation Deseases Of Kusta
Anggaran Biaya   Rp 140.400.000,-
Rincian Biaya
1.    Investigasi (metode interview kerumah penderita kusta Rp 500.000,-
2.    Kegiatan Penyuluhan
a.    Transportasi dari kota Kabupaten ketempat penyuluhan Rp 1.000.000,-
b.    Konsumsi pada saat penyuluhan Rp 600.00,-
3.    Kegiatan Isolasi
a.    Mendata penduduk yang berpotensi kusta
1.    Jumlah pendata 100 orang/Rp 500.000,-    =Rp 5.000.000,-
2.    Transportasi ketetempat pendataan           =Rp 10.000.000,-
3.    Konsumsi selama pendataan                      =Rp 5.000.000,-
b.    Isolasi penderita kusta
1.    Transportasi ketempat isolasi 50/orang    =Rp 8.300.000,-
2.    Tempat tinggal penderita selama karantina =Rp 15.000.000,-
3.    Konsumsi selama masa karantina               =Rp 50.000.000,-
4.    Pemberian obat                                              =Rp 50.000.000,-  
Jumlah                                                             Rp 140.900.000,-





Rabu, 01 Mei 2013

makalah demam tyfoid

MAKALAH DEMAM TYFOID 


BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

Demam tifoid adalah infeksi akut pada saluran pencernaan yang disebabkan oleh Salmonella typhi. Terdapat tiga bioserotipe yaitu Salmonella paratyphi A, B ( Salmonella schottmuelleri), dan C (Salmonella hirschefildii). Demam tifoid merupakan penyakit endemik yang termasuk dalam masalah kesehatan di negara berkembang.  Di indonesia demam tifoid dapat ditemukan sepanjang tahun dengan insidens tertinggi pada daerah endemik. Terdapat dua sumber penularan s.typhi yaitu pasien dengan demam tifoid dan, yang lebih sering karier. Di daerah endemik, transmisi terjadi melalui air yang tercemar S. Typhi sedangkan di daerah nonendemik , makanan yang tercemar oleh karier merupakan sumber penularan tersering.
Besarnya angka pasti kasus demam tifoid di Dunia, sangat sulit ditentukan karena penyakit ini dikenal mempunyai gejala dengan spektrum klinis yang sangat luas. Data World Health Organization (WHO) tahun 2009, memperkirakan terdapat sekitar 17 juta kasus demam tifoid di seluruh dunia dengan insidensi 600.000 kasus kematian tiap tahun. Insidens rate demam tifoid di Asia Selatan dan Tenggara termasuk China pada tahun 2010 rata-rata 1.000 per 100.000 penduduk per tahun. Insidens rate demam tifoid tertinggi di Papua New Guinea sekitar 1.208 per 100.000 penduduk per tahun. Insidens rate di Indonesia masih tinggi yaitu 358 per 100.000 penduduk pedesaan dan 810 per 100.000 penduduk perkotaan per tahun dengan rata-rata kasus per tahun 600.000-1.500.000 penderita. Angka kematian demam tifoid di Indonesia masih tinggi dengan CFR sebesar 10% (Nainggolan, R, 2011).
Berdasarkan laporan Ditjen Pelayanan Medis Depkes RI, pada tahun 2008, demam tifoid menempati urutan kedua dari 10 penyakit terbanyak pasien rawat inap di rumah sakit di Indonesia dengan jumlah kasus 81.116 dengan proporsi 3,15%, urutan pertama ditempati oleh diare dengan jumlah kasus 193.856 dengan proporsi 7,52%, urutan ketiga ditempati oleh DBD dengan jumlah kasus 77.539 dengan proporsi 3,01% (Depkes RI, 2009).
Berdasarkan penelitian Cyrus H. Simanjuntak., di Paseh (Jawa Barat) tahun 2009, insidens rate demam tifoid pada masyarakat di daerah semi urban adalah 357,6 per 100.000 penduduk per tahun. Insiden demam tifoid bervariasi di tiap daerah dan biasanya terkait dengan sanitasi lingkungan; di daerah Jawa Barat, terdapat 157 kasus per 100.000 penduduk sedangkan di daerah urban di temukan 760-810 per 100.000 penduduk. Perbedaan insiden di perkotaan berhubungan erat dengan penyediaan air bersih yang belum memadai serta sanitasi lingkungan dengan pembuangan sampah yang kurang memenuhi sarat kesehatan lingkungan (Simanjuntak, C.H, 2009).

Beberapa faktor penyebab demam tifoid masih terus menjadi masalah kesehatan penting di negara berkembang meliputi pula keterlambatan penegakan diagnosis pasti. Penegakan diagnosis demam tifoid saat ini dilakukan secara klinis dan melalui pemeriksaan laboratorium. Diagnosis demam tifoid secara klinis seringkali tidak tepat karena tidak ditemukannya gejala klinis spesifik atau didapatkan gejala yang sama pada beberapa penyakit lain pada anak, terutama pada minggu pertama sakit. Hal ini menunjukkan perlunya pemeriksaan penunjang laboratorium untuk konfirmasi penegakan diagnosis demam tifoid (Simanjuntak, C.H, 2009).
Berdasarkan data yang terdapat di pada medical record Di Rumah Sakit Rajawali Bandung ruang Rafei tercatat angka insiden penderita demam thyfoid yang dirawat selama tiga bulan terakhir yaitu pada bulan Juli sampai bulan Oktober 2012 adalah 17 orang pasien dimana terdapat 5 kasus pada bulan Juli, 2 kasus pada bulan Agustus, dan 10 kasus pada bulan September. Demam tifoid dapat menimbulkan komplikasi yang dapat mengakibatkan mortalitas (kematian), yaitu sekitar 25% penderita demam tifoid mengalami perdarahan, jika terlambat tertangani dapat terjadi mortalitas (kematian) sekitar 10-32 % bahkan ada yang melaporkan sampai 80%, sedangkan mortalitas pada miokarditis akibat demam tifoid sekitar 1–5 %, dan tifoid pun dapat mengakibatkan tifoid toksin yang dapat menyebabkan kematian tetapi jarang sekali komplikasi ini terjadi.
Dari data diatas nampak bahwa angka insiden penyakit demam tifoid cukup tinggi dan merupakan penyakit yang dapat menimbulkan kompliksi pada organ pencernaan. Kardiovaskuler, pernapasan, tulang, ginjal dan hematolik serta gangguan neuropsikiatrik sampai dengan menyebabkan kematian bila tidak ditangani dengan seksama. Berdasarkan hal tersebut maka peran perawat sangat penting dalam aspek promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Oleh karena itu, mengingat kompleksnya masalah yang terjadi pada klien dengan penyakit demam tifoid maka penulis tertarik untuk merawat klien dengan judul Asuhan keperawatan Klien dengan Demam tifoid di ruang Rafei RS. Rajawali Bandung tahun 2012.

B.     RumusanMasalah
berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah tersebut diatas, maka dapat dirumuskan pertanyaan sebagai berikut:
1.    Apakah yang dimaksud dengan typoid?
2.    Apakah penyebab typoid?
3.    Bagaimanakah  potofisiologi typoid?
4.    Bagaimanakah manifestasi klinik typoid?
5.    Bagaimanakah komplikasi typoid?
6.    Bagaimanakah pencegahan demam tifoid?
C.    Tujuan
a.    Tujuan Umum
Untuk mengetahui penyakit typoid
b.    Tujuan Khusus
1.    Untuk mengetahui pengertian typoid
2.    Untuk mengetahui penyebab typoid
3.    Untuk mengetahui patofisioplogi typoid
4.    Untuk mengetahui Jalur Masuk Kuman Penyebab Typus
5.    Untuk mengetahui manifestasi klinik typoid
6.    Untuk mengetahui komplikasi typoid
7.    Untuk mengetahui pencegahan demam tifoid
D.    Manfaat
Untuk memberikan informasi kepada semua pihak terutama kepada penyusun.

BAB II
PEMBAHASAN


A.    Pengertian Typoid
 Typhoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi salmonella Thypi. Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh faeses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella. ( Liswidyawati Rahayu, 2010:50)
 Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella Thypi. Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella thypi dan salmonella para thypi A,B,C, sinonim dari penyakit ini adalah Typhoid dan paratyphoid abdominalis,
 Typhoid adalah penyakit infeksi pada usus halus, typhoid disebut juga paratyphoid fever, enteric fever, typhus dan para typhus abdominalis.
Typhoid adalah suatu penyakit pada usus yang menimbulkan gejala-gejala sistemik yang disebabkan oleh salmonella typhosa, salmonella type A.B.C. penularan terjadi secara pecal, oral melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi
Dari beberapa pengertian diatasis dapat disimpulkan sebagai berikut, Typhoid adalah suatu penyakit infeksi usus halus yang disebabkan oleh salmonella type A. B dan C yang dapat menular melalui oral, fecal, makanan dan minuman yang terkontaminasi.
B.    Etiologi
Salmonella thyposa, basil gram negative yang bergerak dengan bulu getar, tidak bersepora mempunyai sekurang-kurangnya tiga macam antigen yaitu:
1.    antigen O (somatic, terdiri darizat komplekliopolisakarida)
2.    antigen H(flagella)
3.    antigen V1 dan protein membrane hialin.
4.    Salmonella parathypi A
5.    salmonella parathypi B
6.    Salmonella parathypi C
7.    Faces dan Urin dari penderita thypus (Rahmad Juwono, 1996).
    Demam typhoid timbul akibat dari infeksi oleh bakteri golongan Salmonella yang memasuki tubuh penderita melalui saluran pencernaan. Penularan S. Typhi terjadi melalui mulut oleh makanan yang tercemar. Sebagian kuman akan dimusnahkan dalam lambung oelh asam lambung. Sebagian lagi msuk keusus halus, mencapai jaringan lemfe dan berkembang biak. Kuman-kuman selanjutnya masuk ke jaringan beberapa organ tubuh, terutama limpa,usus dan kandung empedu. Demam pada typhus disebabkan karena S, tyhpi dan endotoksinnya merangsang sintesis dan pelepasan zat pirogen (menimbulkan panas) pada jaringan yang meradang.
    Pada masa penyembuhan, pada penderita masih mengandung Salmonella spp didalam kandung empedu atau di dalam ginjal. Sebanyak 5% penderita demam tifoid kelak akan menjadi karier sementara, sedang 2 % yang lain akan menjadi karier yang menahun. Sebagian besar dari karier tersebut merupakan karier intestinal (intestinal type) sedang yang lain termasuk urinary type. Kekambuhan yang yang ringan pada karier demam tifoid,terutama pada karier jenis intestinal,sukar diketahui karena gejala dan keluhannya tidak jelas.
C.    Gejalah
Setelah 7-14 hari tanpa keluhan atau gejala, dapat muncul keluhan atau gejala yang bervariasi mulai dari yang ringan dengan demam yang tidak tinggi, malaise, dan batuk kering sampai dengan gejala yang berat dengan demam yang berangsur makin tinggi setiap harinya, rasa tidak nyaman di perut, serta beraneka ragam keluhan lainnya.
Gejala yang biasanya dijumpai adalah demam sore hari dengan serangkaian keluhan klinis, seperti anoreksia, mialgia, nyeri abdomen, dan obstipasi. Dapat disertai dengan lidah kotor, nyeri tekan perut, dan pembengkakan pada stadium lebih lanjut dari hati atau limpa atau kedua-duanya 1,2 Pada anak, diaresering dijumpai pada awal gejala yang baru, kemudian dilanjutkan dengan konstipasi. Konstipasi pada permulaan sering dijumpai pada orang dewasa. Walaupun tidak selalu konsisten, bradikardi relatif saat demam tinggi dapat dijadikan indikator demam tifoid.1,2 Pada sekitar 25% dari kasus, ruam makular atau makulo papular (rose spots) mulai terlihat pada hari ke 7-10, terutama pada orang berkulit putih, dan terlihat pada dada bagian bawah dan abdomen pada hari ke 10-15 serta menetap selama 2-3 hari.
Sekitar 10-15% dari pasien akan mengalami komplikasi, terutama pada yang sudah sakit selama lebih dari 2 minggu. 1,7 Komplikasi yang sering dijumpai adalah reaktif hepatitis, perdarahan gastrointestinal, perforasi usus, ensefaopati tifosa, serta gangguan pada sistem tubuh lainnya mengingat penyebaran kuman adalah secara hematogen.Bila tidak terdapat komplikasi, gejala klinis akan mengalami perbaikan dalam waktu 2-4 minggu.
D.    Jalur Masuk Kuman Penyebab Typus
    Demam tifoid adalah penyakit yang penyebarannya melalui saluran cerna (mulut,esofagus, lambung, usus 12 jari, usus halus, usus besar, dstnya). S typhi masuk ketubuh manusia bersama bahan makanan atau minuman yang tercemar. Cara penyebarannya melalui muntahan, urin, dan kotoran dari penderita yang kemudiansecara pasif terbawa oleh lalat (kaki-kaki lalat). Lalat itu mengontaminasi makanan,minuman, sayuran, maupun buah-buahan segar. Saat kuman masuk ke saluran pencernaan manusia, sebagian kuman mati oleh asam lambung dan sebagian kumanmasuk ke usus halus.Dari usus halus itulah kuman beraksi sehingga bisa ” menjebol” usus halus. Setelah berhasil melampaui usus halus, kuman masuk ke kelenjar getah bening, ke pembuluhdarah, dan ke seluruh tubuh (terutama pada organ hati, empedu, dan lain-lain). Jika demikian keadaannya, kotoran dan air seni penderita bisa mengandung kuman S typhi yang siap menginfeksi manusia lain melalui makanan atau pun minuman yangdicemari. Pada penderita yang tergolong carrier (pengidap kuman ini namun tidak menampakkan gejala sakit), kuman Salmonella bisa ada terus menerus di kotoran danair seni sampai bertahun-tahun. S. thypi hanya berumah di dalam tubuh manusia.
    Oleh kerana itu, demam tifoid sering ditemui di tempat-tempat di mana penduduknya kurang mengamalkan membasuh tangan manakala airnya mungkin tercemar dengansisa kumbahan.Sekali bakteria S. thypi dimakan atau diminum, ia akan membahagi dan merebak kedalam saluran darah dan badan akan bertindak balas dengan menunjukkan beberapagejala seperti demam. Pembuangan najis di merata-rata tempat dan hinggapan lalat(lipas dan tikus) yang akan menyebabkan demam tifoid.

E.    Patofisiologi
 Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5 F yaitu Food (makanan), Fingers (jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly (lalat), dan melalui Feses.
Feses dan muntah pada penderita typhoid dapat menularkan kuman salmonella thypi kepada orang lain. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat, dimana lalat akan hinggap dimakanan yang akan dikonsumsi oleh orang yang sehat. Apabila orang tersebut kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci tangan dan makanan yang tercemar kuman salmonella thypi masuk ke tubuh orang yang sehat melalui mulut. Kemudian kuman masuk ke dalam lambung, sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus bagian distal dan mencapai jaringan limpoid. Di dalam jaringan limpoid ini kuman berkembang biak, lalu masuk ke aliran darah dan mencapai sel-sel retikuloendotelial
Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian melepaskan kuman ke dalam sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia, kuman selanjutnya masuk limpa, usus halus dan kandung empedu.
Semula disangka demam dan gejala toksemia pada typhoid disebabkan oleh endotoksemia. Tetapi berdasarkan penelitian eksperimental disimpulkan bahwa endotoksemia bukan merupakan penyebab utama demam pada typhoid. Endotoksemia berperan pada patogenesis typhoid, karena membantu proses inflamasi lokal pada usus halus. Demam disebabkan karena salmonella thypi dan endotoksinnya merangsang sintetis dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang.
F.    Diagnosis
Diagnosis dini demam tifoid dan pemberian terapi yang tepat bermanfaat untuk mendapatkan hasil yang cepat dan optimal sehingga dapat mencegah terjadinya komplikasi.
 Pengetahuan mengenai gambaran klinis penyakit sangat penting untuk membantu mendeteksi dini penyakit ini. Pada kasus-kasus tertentu, dibutuhkan pemeriksaan tambahan dari laboratorium untuk membantu menegakkan diagnosis.
Gambaran darah tepi pada permulaan penyakit dapat berbeda dengan pemeriksaan pada keadaan penyakit yang lanjut. Pada permulaan penyakit, dapat dijumpai pergeseran hitung jenis sel darah putih ke kiri, sedangkan pada stadium lanjut terjadi pergeseran darah tepi ke kanan (limfositosis relatif ). Ciri lain yang sering ditemukan pada gambaran darah tepi adalah aneosinofilia (menghilangnya eoinofil).
Diagnosis pasti demam tifoid berdasarkan pemeriksaan laboratorium didasarkan pada 3 prinsip, yaitu:
1.    Isolasi bakteri
2.    Deteksi antigen mikroba
3.    Titrasi antibodi terhadap organisme penyebab
Kultur darah merupakan gold standard metode diagnostik dan hasilnya positif pada 60-80% dari pasien, bila darah yang tersedia cukup (darah yang diperlukan 15 mL untuk pasien dewasa). Untuk daerah endemik dimana sering terjadi penggunaan antibiotik yang tinggi, sensitivitas kultur darah rendah (hanya 10-20% kuman saja yang terdeteksi).
Peran pemeriksaan Widal (untuk mendeteksi antibodi terhadap antigen Salmonella typhi) masih kontroversial. Biasanya antibodi antigen O dijumpai pada hari 6-8 dan antibodi terhadap antigen H dijumpai pada hari 10-12 setelah sakit.9 Pada orang yang telah sembuh, antibodi O masih tetap dapat dijumpai setelah 4-6 bulan dan antibodi H setelah 10-12 bulan.8 Karena itu, Widal bukanlah pemeriksaan untuk menentukan kesembuhan penyakit.8 Diagnosis didasarkan atas kenaikan titer sebanyak 4 kali pada dua pengambilan berselang beberapa hari atau bila klinis disertai hasil pemeriksaan titer Widal di atas rata-rata titer orang sehat setempat.
Pemeriksaan Tubex dapat mendeteksi antibodi IgM. Hasil pemeriksaan yang positif menunjukkan adanya infeksi terhadap Salmonella.
Antigen yang dipakai pada pemeriksaan ini adalah O9 dan hanya dijumpai pada Salmonella serogroup. Pemeriksaan lain adalah dengan Typhidot yang dapat mendeteksi IgM dan IgG. Terdeteksinya IgM menunjukkan fase akut demam tifoid, sedangkan terdeteksinya IgG dan IgM menunjukkan demam tifoid akut pada fase pertengahan. Antibodi IgG dapat menetap selama 2 tahun setelah infeksi, oleh karena itu, tidak dapat untuk membedakan antara kasus akut dan kasus dalam masa penyembuhan.
Yang lebih baru lagi adalah Typhidot M yang hanya digunakan untuk mendeteksi IgM saja. Typhidot M memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang lebih tinggi dibandingkan Typhidot. Pemeriksaan ini dapat menggantikan Widal, tetapi tetap harus disertai gambaran klinis sesuai yang telah dikemukakan sebelumnya.
G.    Manifestasi klinik
Masa tunas 7-14 (rata-rata 3 – 30) hari, selama inkubasi ditemukan gejala  prodromal (gejala awal tumbuhnya penyakit/gejala yang tidak khas) :
1.    Perasaan tidak enak badan
2.    Lesu
3.    Nyeri kepala
4.    Pusing
5.    Diare
6.    Anoreksia
7.    Batuk
8.    Nyeri otot
a.    Menyusul gejala klinis yang lain
1.    Demam, demam berlangsung 3 minggu
2.    Minggu I : Demam remiten, biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat pada sore dan malam hari
3.    Minggu II : Demam terus
4.    Minggu III : Demam mulai turun secara berangsur – angsur
b.    Gangguan Pada Saluran Pencernaan
1.    Lidah kotor yaitu ditutupi selaput kecoklatan kotor, ujung dan tepi kemerahan, jarang disertai tremor
2.    Hati dan limpa membesar yang nyeri pada perabaan
3.    Terdapat konstipasi, diare
c.    GangguanKesadaran
1.    Kesadaranyaituapatis–somnolen
2.    Gejala lain “ROSEOLA” (bintik-bintik kemerahan karena emboli hasil dalam kapiler kulit) (Rahmad Juwono, 1996).
H.    Komplikasi
1.    Komplikasi intestinal
2.    Perdarahanusus
3.    Perporasiusus
4.    Iliusparalitik

I.    Pencegahan Demam Typoid
Pada taraf masyarakat luas, pencegahan terbaik terhadap demam tifoid adalah sanitasi yang baik. Penularan  penyakit harus dikenali dan dicegah agar tidak menangani pengolahan dan penanganan pangan.
    Bagi perorangan, vaksin tifoid efekktif untuk menurunkan kemungkinan timbulnya penyakit. Telah terbukti bahwa beberapa siapan vaksin tifoid yang berbeda-beda dapat melindungi 70-90% resipien, sebagian bergantung pada derajat kontak mereka kemudian dengan sumber penyakit tersebut.
    Imunisasi tifoid secara rutin tidak lagi dianjurkan. Imunisasi hanya dianjurkan bila seseorang tyelah berhubungan dengan kasus demam tifoid yang diketahui masyarakat, atau bila seseorang akan mengunjungi suatu daerah yang di jangkiti endemic demam tifoid.
    Selain salmonella typhi, spesies salmonella yang lain kadang-kadang dapat juga menyebabkan penyakit asal air, seperti pada perjangkitan tahun 1966 di riverside, California, yang melibatkan kurang lebih 20.000 kasus.
Strategi pencegahan yang dipakai adalah untuk selalu menyediakan makanan dan minuman yang tidak terkontaminasi, higiene perorangan terutama menyangkut kebersihan tangan dan lingkungan, sanitasi yang baik, dan tersedianya air bersih sehari-hari. Strategi pencegahan ini menjadi penting seiring dengan munculnya kasusresistensi. Selain strategi di atas, dikembangkan pula vaksinasi terutama untuk para pendatang dari negara maju ke daerah yang endemik demam tifoid. Vaksin-vaksin yang sudah ada yaitu:1,2

Vaksin Vi Polysaccharide Vaksin ini diberikan pada anak dengan usia di atas 2 tahun dengan dinjeksikan secara subkutan atau intra-muskuler. Vaksin ini efektif selama 3 tahun dan direkomendasikan untuk revaksinasi setiap 3 tahun. Vaksin inimemberikanefikasiperlindungansebesar70-80%. Vaksin oral ini tersedia dalam sediaan salut enterik dan cair yang diberikan pada anak usia 6 tahun ke atas. Vaksin diberikan 3 dosis yang masing-masing diselang 2 hari. Antibiotik dihindari 7 hari sebelum dan sesudah vaksinasi. Vaksin ini efektif selama 3 tahun dan memberikan efikasi perlindungan 67-82%. VaksinVi-conjugate Vaksin ini diberikan pada anak usia 2-5 tahun di Vietnam dan memberikan efikasi perlindungan 91,1% selama 27 bulan setelah vaksinasi. Efikasi vaksin ini menetap selama 46 bulan dengan efikasi perlindungan sebesar 89%.
J.    Terapi Demam Typoid
Terapi pada demam tifoid adalah untuk mencapai keadaan bebas demam dan gejala, mencegah komplikasi, dan menghindari kematian Yang juga tidak kalah penting adalah eradikasi total bakteri untuk mencegah kekambuhan dan keadaan carrier.
Pemilihan antibiotik tergantung pada pola sensitivitas isolat Salmonella typhi setempat. Munculnya galur Salmonella typhi yang resisten terhadap banyak antibiotik (kelompok MDR) dapat mengurangi pilihan antibiotik yang akan diberikan. Terdapat 2 kategori resistensi antibiotik yaitu resisten terhadap antibiotik kelompok chloramphenicol, ampicillin, dan trimethoprimsulfamethoxazole (kelompok MDR) dan resisten terhadap antibiotik fluoroquinolone. Nalidixic acid resistant Salmonella typhi (NARST) merupakan petanda berkurangnya sensitivitas terhadap fluoroquinolone. Terapi antibiotik yang diberikan untuk demam tifoid tanpa komplikasi berdasarkan WHO tahun 2003.
Antibiotik golongan fluoroquinolone (ciprofloxacin, ofloxacin, dan pefloxacin) merupakan terapi yang efektif untuk demam tifoid yang disebabkan isolat tidak resisten terhadap fluoroquinolone dengan angka kesembuhan klinis sebesar  98%, waktu penurunan demam 4 hari, dan angka kekambuhan dan fecal carrier kurang dari2%.
Fluoroquinolone memiliki penetrasi ke jaringan yang sangat baik, dapat membunuh S. typhi intraseluler di dalam monosit/makrofag, serta mencapai kadar yang tinggi dalam kandung empedu dibandingkan antibiotik lain.
Berbagai studi telah dilakukan untuk menilai efektivitas fluoroquinolone dan salah satu luoroquinolone yang saat ini telah diteliti dan memiliki efektivitas yang baik adalah levofloxacin. Studi komparatif, acak, dan tersamar tunggal telah dilakukan untuk levofloxacin terhadap obat standar ciprofloxacin untuk terapi demam tifoid tanpa komplikasi. Levofloxacin diberikan dengan dosis 500 mg, 1 kali sehari dan ciprofloxacin diberikan dengan dosis 500 mg, 2 kali sehari masing-masing selama 7 hari.
Kesimpulan dari studi ini adalah bahwa pada saat ini levofloxacin lebih bermanfaat dibandingkan ciprofloxacin dalam hal waktu penurunan demam, hasil mikrobiologi dan secara bermakna memiliki efek samping yang lebih sedikit dibandingkan ciprofloxacin.
Selain itu, pernah juga dilakukan studi terbuka di lingkungan FKUI mengenai efikasi dan keamanan levofloxacin pada terapi demam tifoid tanpa komplikasi. Levofloxacin diberikan dengan dosis 500 mg, 1 kali sehari selama 7 hari. Efikasi klinis yang dijumpai pada studi ini adalah 100% dengan efek samping yang minimal. Dari studi ini juga terdapat tabel perbandingan rata-rata waktu penurunan demam di antara berbagai jenis fluoroquinolone yang beredar di Indonesia di mana penurunan demam pada levofloxacin paling cepat, yaitu 2,4 hari.
Sebuah meta-analisis yang dipublikasikan pada tahun 2009 menyimpulkan bahwa pada demam enterik dewasa, fluoroquinolone lebih baik dibandingkan chloramphenicol untuk mencegah kekambuhan.
Namun, fluoroquinolone tidak diberikan pada anak-anak karena dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan dan kerusakan sendi.
Chloramphenicol sudah sejak lama digunakan dan menjadi terapi standar pada demam tifoid namun kekurangan dari chloramphenicol adalah angka kekambuhan yang tinggi (5-7%), angka terjadinya carrier juga tinggi, dan toksis pada sumsum tulang.
Azithromycin dan cefixime memiliki angka kesembuhan klinis lebih dari 90% dengan waktu penurunan demam 5-7 hari, durasi pemberiannya lama (14 hari) dan angka kekambuhan serta fecal carrier terjadi pada kurang dari 4%.
Pasien dengan muntah yang menetap, diare berat, distensi abdomen, atau kesadaran menurun memerlukan rawat inap dan pasien dengan gejala klinis tersebut diterapi sebagai pasien demam tifoid yang berat. Terapi antibiotik yang diberikan pada demam tifoid berat menurut WHO tahun 2003.  Walaupun di tabel ini tertera cefotaxime untuk terapi demam tifoid tetapi sayangnya di Indonesia sampai saat ini tidak terdapat laporan keberhasilan terapi demam tifoid dengan cefotaxime. Selain pemberian antibiotik, penderita perlu istirahat total serta terapi suportif. Yang diberikan antara lain cairan untuk mengkoreksi ketidakseimbangan cairan dan elektrolit dan antipiretik. Nutrisi yang adekuat melalui TPN dilanjutkan dengan diet makanan yang lembut dan mudah dicerna secepat keadaan mengizinkan.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Typhoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi salmonella Thypi. Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh faeses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella. ( Liswidyawati Rahayu, 2010:50)
 Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella Thypi. Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella thypi dan salmonella para thypi A,B,C, sinonim dari penyakit ini adalah Typhoid dan paratyphoid abdominalis.
Salmonella thyposa, basil gram negative yang bergerak dengan bulu getar, tidak bersepora mempunyai sekurang-kurangnya tiga macam antigen yaitu:
1.    antigen O (somatic, terdiri darizat komplekliopolisakarida)
2.    antigen H(flagella)
3.    antigen V1 dan protein membrane hialin.
4.    Salmonella parathypi A
5.    salmonella parathypi B
6.    Salmonella parathypi C
7.    Faces dan Urin dari penderita thypus (Rahmad Juwono, 1996).
Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5 F yaitu Food (makanan), Fingers (jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly (lalat), dan melalui Feses.
Pada taraf masyarakat luas, pencegahan terbaik terhadap demam tifoid adalah sanitasi yang baik. Penularan  penyakit harus dikenali dan dicegah agar tidak menangani pengolahan dan penanganan pangan.
Bagi perorangan, vaksin tifoid efekktif untuk menurunkan kemungkinan timbulnya penyakit. Telah terbukti bahwa beberapa siapan vaksin tifoid yang berbeda-beda dapat melindungi 70-90% resipien, sebagian bergantung pada derajat kontak mereka kemudian dengan sumber penyakit tersebut.
    Imunisasi tifoid secara rutin tidak lagi dianjurkan. Imunisasi hanya dianjurkan bila seseorang tyelah berhubungan dengan kasus demam tifoid yang diketahui masyarakat, atau bila seseorang akan mengunjungi suatu daerah yang di jangkiti endemic demam tifoid.
B.    Saran
Agar kita terhindar dari Typoid, hendaknya kita memperhatikan cara pencegahan penyakit typoid tersebut diatas.
Untuk tenaga kesehatan, hendaknya memperhatikan setiap pasien yang datang berobat kerumah sakit atau Puskesmas.


DAFTAR PUSTAKA

Rahayu Liswidyawati,S.Si, Waspada Wabah Penyakit Panduan Untuk Orang Awam, Nuansa, Bandung: 2010.

Prof. Kelly Health,dkk, 73 Penyakit Yang Penting Diketahui, Palman, Yogyakarta: 2009.

Typhoid fever. Surgery in Africa-Monthly Review [Internet]. 2006 Feb 11 [cited 2011 Mar 3 ]. Available from: http://www.ptolemy.ca/members/archives/2006/typhoid_fever.htm

Bhan MK, Bahl R, Bhatnagar S. Typhoid fever and paratyphoid fever. Lancet 2005; 366: 749-62.

Pohan HT. Management of resistant Salmonella infection. Paper presented at: 12th Jakarta Antimicrobial Update; 2011 April 16-17; Jakarta, Indonesia





 











NB: mudah-mudahan dengan adanya makalah ini, dapat memberikan informasi bagi pembaca,,....


SISTEM SURVAILANS ISPA
A.    Pengertian ISPA
Istilah ISPA mengandung tiga unsur yaitu infeksi, saluran pernapasan dan akut. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit. Adapun saluran pernapasan adalah organ dimulai dari hidung sampai alveoli beserta organ adneksa seperti sinus-sinus, rongga telinga dan pleura. Istilah ISPA secara anatomis mencakup saluran pernapasan bagian bawah (termasuk jaringan paru-paru) dan organ adneksanya saluran pernapasan. Sedangkan infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan ISPA, proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari (Depkes RI, 2002).
Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli) biasanya disebabkan oleh invasi kuman bakteri, yang ditandai oleh gejala klinis batuk, disertai adanya nafas cepat ataupun tarikan dinding dada bagian bawah/kedalam (Depkes RI, 2002).




B.    Epidemiologi
1.    Distribusi dan Frekwensi ISPA
Penyakit ISPA adalah penyakit yang dapat menyerang semua kelompok usia dari bayi, anak-anak dan sampai orang tua. Menurut WHO 1981, bahwa satu dari tiga penyebab kematian anak dibawah lima tahun adalah ISPA dengan pneumonia sebesar 75% dari semua jumlah kematian. Data CBS-UNICEF juga mengungkapkan bahwa pneumonia menyebabkan 28% kematian anak di dunia (Zairil, 2000).
Penelitian yang dilakukan di Klaten tahun 1996 menemukan bahwa sebagian besar kasus ISPA terjadi pada kelompok umur 7 – 12 bulan (65,23%) dan sebagian besar kasus terjadi pada bayi laki-laki (73, 45 %). (Dewi, 1996). ISPA merupakan pembunuh utama bayi dan balita di Indonesia. Sebagian besar kematian tersebut diakibatkan oleh ISPA pneumonia, namun masyarakat masih awam dengan gangguan ini. Penderita cepat meninggal akibat pneumonia berat dan sering tidak tertolong. Lambatnya pertolongan ini disebabkan oleh ketidaktahuan masyarakat tentang gangguan ini (DepKes RI., 2000).
2.    Determinan ISPA
Terjadinya infeksi saluran pernapasan pada anak balita disamping adanya bibit penyakit, juga dipengaruhi oleh faktor anak itu sendiri, seperti anak yang belum mendapat imunisasi campak dan kontak dengan asap dapur, serta kondisi perumahan yang ditempatinya. Secara umum faktor-faktor tersebut dikelompokkan menjadi 3 bagian yaitu :
a.    Bibit Penyakit (Agent)
ISPA disebabkan oleh berbagai infectious agent yang terdiri dari 300 lebih jenis virus, bakteri, ricketsia. Bakteri penyebab ISPA antara lain adalah dari genus Streptococcus, Stafilococcus, Pneumococcus, Haemofilus, Bordetella, dan Corynebacterium. Virus penyebab ISPA antara lain, golongan Paramyksovirus termasuk didalamnya virus Influenza, Parainfluenza, dan virus campak, adenovirus, Coronavirus, Picornavirus, Herpesvirus dan lain-lain.
Pneumonia umumnya disebabkan oleh bakteri. Di negara berkembang yang tersering sebagai penyebab pneumonia pada anak ialah Streptococcus pneumonia dan Haemofilus influenza. Sedangkan di negara maju, dewasa ini pneumonia pada anak umumnya disebabkan oleh virus.
b.    Pejamu (Host)
Banyak faktor yang mempengaruhi seseorang terserang bibit penyakit, terutama faktor yang ada pada dirinya sendiri seperti :
1.    Umur
Terjadinya ISPA terutama pneumonia pada bayi dan pada anak balita dipengaruhi oleh faktor usia anak. Bayi yang berumur kurang dari 2 bulan mempunyai resiko yang lebih tinggi untuk terkena pneumonia dibandingkan dengan anak umur 2 bulan sampai 5 tahun (Depkes RI., 1996).
Hasil analisis faktor resiko membuktikan bahwa umur merupakan salah satu faktor resiko penyebab terjadinya kematian pada balita yang sedang menderitapneumonia. Semakin tua usia balita yang sedang menderita pneumonia, semakin kecil resiko meninggal akibat pneumonia dibandingkan balita yang berusia muda (Djaja S,1999). Insidens ISPA paling tinggi terdapat pada bayi dibawah satu tahun dan insidens menurun dengan bertambahnya umur (Kartasamita, 2000).
Hasil penelitian Sukar dkk (1996) didapatkan bahwa anak yang berumur 1-2 tahun lebih peka 5 kali terkena ISPA dibandingkan dengan umur 5 tahun.
2.     Jenis Kelamin
Menurut buku pedoman program pemberantasan penyakit ISPA untuk penanggulangan pneumonia pada balita (1996), anak jenis kelamin laki-laki mempunyai resiko yang lebih tinggi untuk terkena ISPA dibandingkan dengan anak perempuan (Depkes RI., 1996).
Penelitian yang dilakukan oleh Dewi dkk (1996), didapatkan hasil bahwa proporsi kasus ISPA-pneumonia menurut jenis kelamin tidak sama, yaitu laki-laki 59% dan perempuan 41%, terutama pada anak usia muda. Hasil Survei Demografi & Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 1997, menunjukkan adanya perbedaan prevalensi 2 minggu pada balita dengan batuk dan napas cepat (yang merupakan ciri khas pneumonia) antara anak laki-laki dengan anak perempuan, dimana prevalensi untuk anak laki-laki adalah 9,4% sedangkan perempuan 8,5% (Depkes RI., 1997).
3.    Status Gizi
Keadaan gizi buruk muncul sebagai faktor resiko yang penting untuk ISPA menurut Martin yang dikutip oleh Djaja (1999), membuktikan adanya hubungan antara gizi buruk dengan infeksi paru sehingga anak-anak yang bergizi buruk sering mendapat pneumonia. Beberapa penelitian terdahulu juga menunjukkan bahwa malnutrisi merupakan faktor resiko penting untuk ISPA. Anak yang menderita malnutrisi berat dan kronis lebih sering terkena ISPA dibandingkan anak dengan berat badan normal.
Anak balita yang mengkonsumsi makanan yang tidak cukup baik dapat mengakibatkan daya tahan tubuhnya melemah yang akan mudah diserang penyakit infeksi.
Penelitian yang dilakukan oleh Dewi dkk (1996), didapatkan hasil bahwa status gizi kurang pada anak balita mempunyai resiko untuk terkena ISPA 2,5 kali lebih besar dibandingkan dengan anak yang bergizi baik. Dalam penelitian ini proporsi anak yang bergizi kurang lebih banyak pada kasus (41,03%) dari pada pembanding (25,64%).
4.    Berat Badan Lahir
Berat badan lahir ditetapkan sebagai suatu berat lahir kurang dari 2500 gram. Bayi dengan Berat Lahir Rendah (BBLR) akan meningkatkan resiko kesakitan dan kematian karena bayi rentan terhadap kondisi-kondisi infeksi saluran pernapasan bagian bawah. Ibu yang sedang hamil harus mendapatkan asupan makanan yang cukup dengan gizi seimbang, kekurangan asupan gizi pada saat hamil dapat menyebabkan bayi yang dilahirkan berat badannya rendah. Penyakit anemia defisiensi zat besi pada ibu yang tengah hamil juga dapat menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah atau bayi lahir prematur (Sulistyowati (1999).
tatus gizi ibu pada waktu pembuahan dan selama hamil dapat mempengaruhi pertumbuhan janin yang sedang dikandung. Menurut Thomson (1959) yang diikutip Pudjiadi (2000) membuktikan bahwa berat badan lahir bayi naik dan insiden BBLR menurun bila kandungan energi diet ibu bertambah. Jika ibu hamil menderita anemia berat, resiko morbiditas maupun mortalitas bagi ibu dan bayinya meninggi, kemungkinan melahirkan bayi BBLR dan prematur lebih besar (Pudjiadi, 2000). Bayi dengan berat lahir rendah mempunyai angka kematian lebih tinggi dari pada bayi dengan berat lebih dari 2500 gram saat lahir selama tahun pertama kehidupannya.
ISPA adalah penyebab terbesar kematian akibat infeksi pada bayi yang baru lahir dengan berat rendah, bila dibandingkan dengan bayi yang beratnya diatas 2500 gram (Tuminah, S., 1999).
5.    Status ASI dan Makanan Tambahan
ASI eksklusif adalah ASI yang diberikan pada bayi tanpa tambahan cairan lain (seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih), dan tanpa makanan tambahan (seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi dan tim). Pemberian ASI secara eksklusif ini dianjurkan untuk jangka waktu sampai 6 bulan.
Setelah bayi berumur 6 bulan, bayi mulai diberikan makanan pendamping secara bertahap dan bervariasi, dari mulai bentuk bubur cair ke bentuk bubur kental, sari buah, buah segar, makanan lumat, makanan lembek, dan akhirnya makanan padat. Menyusukan bayi harus selalu dianjurkan bila bayi dan ibunya ada dalam keadaan sehat dan tidak terdapat kelainan-kelainan yang tidak memungkinkan untuk menyusukan, jika memungkinkan ASI diberi sampai 2 tahun (Roesli, 2001).
Dari penelitian-penelitian yang dilakukan sepuluh tahun terakhir ini menunjukkan bahwa ASI kaya akan faktor antibodi untuk melawan infeksi-infeksi bakteri dan virus. Terutama selama minggu pertama (4 sampai 6 hari) payudara akan menghasilkan kolostrum, yaitu ASI awal yang mengandung zat kekebalan (imunoglobin, komplemen, lisozim, laktoferin, dan sel-sel leukosit) yang sangat penting untuk melindungi bayi dari infeksi. Penelitian di beberapa negara sedang berkembang menunjukkan bahwa ASI melindungi bayi terhadap infeksi saluran pernapasan berat. Angka kematian kasus secara berarti lebih tinggi pada anak yang telah disapih daripada anak yang masih diberi ASI (Tuminah, S., 1999).
Menurut Roesli (2001) yang mengutip pendapat Cunningham dan Howwie (1990) bahwa kematian akibat penyakit saluran pernapasan 2 – 6 kali lebih banyak pada bayi yang diberi susu formula daripada bayi yang mendapat ASI. Penelitian Gani (2004), menunjukkan bahwa anak balita yang menderita ISPA 5,3 kali tidak mendapatkan ASI eksklusif dibandingkan dengan anak balita yang tidak menderita ISPA.
Bila ASI cukup bayi tidak perlu diberikan makanan tambahan dengan makanan lain sampai usia 4 bulan atau bahkan 6 bulan. Namun bila ternyata bayi menangis karena lapar, dapat diberikan makan tambahan sejak kira-kira umur 2 bulan. Sejak 2 bulan dapat diberikan buah-buahan (pisang) atau biskuit, sedangkan pemberian makanan lumat sampai lembek (bubur susu) pada usia 3-4 bulan sesuai keperluan bayi masing-masing. Bayi akan lapar dan menangis terus bila ASI kurang memuaskan. Untuk mengawasi pertumbuhan, bayi perlu ditimbang secara berkala. Pada bulan ke empat biasanya mulai pemberian makanan padat bayi yang pertama, yaitu makanan lumat misalnya; bubur susu yang dapat dibuat dari tepung, susu dan gula (Roesli, 2001).

6.    Status Imunisasi
Imunisasi berarti memberi kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu. Setiap anak harus mendapatkan imunisasi dasar terhadap 7 penyakit utama sebelum usia 1 tahun yaitu imunisasi BCG, DPT, polio, campak dan hepatitis B. (Roesli, 2001). Imunisasi adalah cara untuk menimbulkan kekebalan terhadap berbagai penyakit. Anak yang belum pernah diimunisasi campak lebih berisiko terhadap terjadinya kematian karena pneumonia, terutama pada balita yang sedang menderita pneumonia (Djaja, S., 1999).
Imunisasi yang tidak memadai merupakan faktor risiko yang dapat meningkatkan insidens ISPA, sehingga faktor anak yang diimunisasi sangat menentukan dalam tingginya angka insidens ISPA (Depkes RI., 1996).
Menurut The World Health Report 2005, angka kematian balita di Indonesia sebesar 46 per 1000 kelahiran hidup, penyebab utama kematian pada anak balita adalah penyakit infeksi saluran napasan akut, diare, penyakit yang ditularkan binatang dan penyakit-penyakit yang bisa dicegah melalui vaksinasi . UNICEF menyebutkan bahwa 27 juta anak balita dan 40 juta ibu hamil di seluruh dunia masih belum mendapatkan layanan imunisasi rutin. Akibat penyakit yang dapat dicegah oleh vaksin ini diperkirakan menyebabkan lebih dari dua juta kematian tiap tahun, termasuk 1,4 juta anak balita yang meninggal karena tidak divaksin. Di Indonesia 2.400 anak meninggal setiap hari termasuk yang meninggal karena sebab-sebab yang seharusnya dapat dicegah dengan vaksin. Misalnya tuberculosis, pertusis, difteri dan tetanus (Francais, 2007). Penelitian yang dilakukan Dewi dkk (1996), diketahui bahwa ketidakpatuhan imunisasi (imunisasi tidak lengkap) mempengaruhi berkembangnya ISPA pada anak balita. Jumlah anak pada penelitian ini yang imunisasi tidak lengkap pada kasus 10,25% dan kontrol 5,13%.
7.    Vitamin A
Pada anak-anak yang kekurangan vitamin A sering ditemukan berbagai macam infeksi, namun asosiasi langsung antara kekurangan vitamin A dan infeksi tidak begitu jelas (Pudjiadi, 2000). Vitamin A mulai menarik perhatian para ilmuwan setelah beberapa laporan penelitian oleh Somar dkk mengenai pentingnya vitamin A. Sejak itu beberapa penelitian dilakukan untuk mengetahui efek suplementasi vitamin A terhadap morbiditas, mortalitas dan lamanya ISPA, akan tetapi hasilnya masih saling bertentangan (Zairil, 2000).
Sampai saat ini satu hal mengenai suplementasi vitamin A yang diterima secara luas yang juga direkomendasikan oleh WHO adalah untuk memberikan vitamin A pada penderita campak, didaerah dimana angka kematian akibat penyakit campak (CFR) lebih dari 1%. Hasil penelitian prospektif yang pernah dilakukan menunjukkan tidak adanya perbedaan bermakna pada insiden dan derajat ISPA diantara anak yang mendapat vitamin A, juga tidak didapatkan perbedaan ISPA sebelum dan setelah pemberian vitamin A, hanya didapatkan lama ISPA agak lebih panjang pada anak yang tidak mendapat vitamin A (Kartasasmita, 2000).
3.    Lingkungan (environment)
Faktor lingkungan memegang peranan yang cukup penting dalam menentukan terjadinya proses interaksi antara pejamu dengan unsur penyebab dalam proses terjadinya penyakit. Secara garis besarnya lingkungan terdiri dari lingkungan fisik, biologis dan sosial. Keadaan fisik sekitar manusia berpengaruh terhadap manusia baik secara langsung maupun tidak terhadap lingkungan-lingkungan biologis dan lingkungan sosial manusia. Lingkungan fisik (termasuk unsur kimia) meliputi udara, kelembaban, air dan pencemaran udara. Berkaitan dengan ISPA, adalah tergolong air bornediasease karena salah satu penularannya melalui udara yang tercemar dan masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernapasan, maka udara secara epidemiologi mempunyai peranan yang besar pada transmisi penyakit infeksi saluran pernapasan. Salah satu gangguan yang mungkin disebabkan oleh pencemaran udara dalam ruangan (indoor) adalah infeksi saluran pernapasan akut. ISPA dapat meliputi bagian atas saja dan atau bahkan bagian bawah seperti laryngitis, tracheobronchitis, bronchitis dan pnemonia (Depkes RI, 1993).
Secara garis besarnya, kualitas udara dalam ruangan dipengaruhi oleh asap dalam ruangan yang bersumber dari perokok, penggunaan bahan bakar kayu / arang / minyak tanah dan penggunaan obat nyamuk bakar. Disamping itu ditentukan oleh ventilasi, tata ruangan dan kepadatan penghuninya.
a.    Asap Dalam Ruangan
Pencemaran udara dalam rumah terjadi terutama karena aktivitas penghuninya, antara lain ; penggunaan bahan bakar biomasa untuk memasak maupun memanaskan ruangan, asap dari sumber penerangan yang menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakarnya, asap rokok, penggunaan insektisida semprot maupun bakar. Disamping itu ditentukan juga oleh ventilasi, penggunaan bahan bangunan sintetis berupa cat dan asbes (Anwar, A., 1992). Penggunaan bahan bakar biomasa seperti kayu bakar untuk memasak, arang dan minyak tanah muncul sebagai faktor resiko terhadap terjadinya infeksi saluran pernapasan. Saat ini sebagian masyarakat pedesaan masih menggunakan bahan bakar biomasa untuk memasak (Charles dkk, 1996). Ditambah lagi dengan kebiasaan ibu yang membawa bayi/anak balitanya di dapur yang penuh asap sambil memasak akan mempunyai resiko yang lebih besar untuk terkena ISPA dibandingkan dengan ibu yang tidak membawa bayi/anak balitanya didapur (Sukar dkk., 1997). Dengan bahan bakar minyak tanah baik untuk memasak maupun sumber penerangan memberikan resiko terkena ISPA pada balita 3,8 kali lebih besar dibandingkan dengan bahan bakar gas (Soesanto, dkk, 2000). Keadaan dapur yang penuh dan lembab juga merupakan faktor resiko terjadinya infeksi pernapasan. (Charles, dkk.,1996) Rokok pada dasarnya merupakan pabrik bahan bakar kimia. Satu batang rokok dibakar akan mengeluarkan sekitar 4000 bahan kimia seperti nikotin, karbon monoksida, nitrogen oksida, hiydrogen cyanida, amoniak, acrolein, artcresor, peryline dan lain-lain. Secara umum bahan ini dapat dibagi menjadi 2 golongan besar, yaitu komponen gas dan komponen padat atau partikel, sedangkan komponen padat atau partikel dibagi menjadi nikotin dan tar. Bila rokok dibakar maka asapnya akan berterbangan disekitar perokok. Asap yang berterbangan itu mengandung bahan yang berbahaya dan bila dihisap oleh orang yang berada disekitar si perokok, maka orang itu juga akan menghisap bahan kimia berbahaya didalam dirinya walau ia sendiri tidak merokok. Anak balita misalnya akan lebih berbahaya dibanding orang dewasa karena daya tahan tubuhnya masih rendah (Aditama, T.Y., 1996).
Menurut Riyadina (1995), bahwa pada anak-anak paparan asap rokok (sidestream smoke) dapat menimbulkan gangguan pernapasan terutama mempererat timbulnya infeksi saluran pernapasan akut dan gangguan fungsi paru-paru pada waktu dewasanya nanti. Paparan asap rokok memperberat timbulnya ISPA, karena dari 1 batang rokok yang dinyalakan akan menghasilkan asap sampingan selama sekitar 10 menit, sementara asap utamanya hanya akan dikeluarkan pada waktu rokok itu dihisap dan biasanya hanya kurang dari 1 menit. Walaupun asap sampingan dikeluarkan dahulu ke udara bebas sebelum dihisap perokok pasif, tetapi karena kadar bahan berbahayanya lebih tinggi dari pada asap utamanya, maka perokok pasif tetap menerima akibat buruk dari kebiasaan merokok orang sekitarnya (Aditama, T. Y., 1996). Di negara maju, anak-anak yang orang tuanya merokok dalam rumah didapatkan memiliki suatu peningkatan resiko bronkitis dan pnemonia jika dibandingkan dengan anak-anak yang orang tuanya tidak merokok (Tuminah, 1999).
b.    Ventilasi
Ventilasi rumah mempunyai banyak fungsi. Fungsi yang pertama adalah menjaga agar aliran udara dalam rumah tetap segar sehingga keseimbangan O2 tetap terjaga, karena kurangnya ventilasi menyebabkan kurangnya O2 yang berarti kadar CO2 menjadi racun Fungsi kedua adalah untuk membebaskan udara ruangan dari bakteri-bakteri, terutama bakteri patogen dan menjaga agar rumah selalu tetap dalam kelembaban yang optimum (Notoatmodjo, 2007). Pergantian udara bersih untuk orang dewasa adalah 33 m3/orang/jam, dengan kelembaban sekitar 60% optimum. Untuk memperoleh kenyaman udara seperti dimaksud diatas diperlukan adanya ventilasi yang baik. Luas lubang ventilasi insidentil (dapat buka tutup) minimum 5% dari luas lantai ruangan. Jumlah keduanya adalah 10% dari luas lantai ruangan (Sanropie, D., 1989).
Udara yang bersih merupakan komponen utama didalam rumah dan sangat diperlukan oleh manusia untuk hidup secara sehat. Sirkulasi udara berkaitan dengan masalah ventilasi. Sebuah penelitian menunjukkan hubungan penyakit saluran pernapasan dengan kondisi ventilasi. Sebab itu kondisi ventilasi dapat dijadikan indikator rumah sehat (Achmadi, U.F., 1991).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Dewi (1996) diketahui bahwa rumah yang berventilasi buruk lebih banyak anggota keluarganya yang menderita ISPA dibandingkan dengan rumah yang ventilasinya memenuhi syarat kesehatan.
c.    Tata Ruang dan Kepadatan Hunian
Setiap rumah harus mempunyai bagian ruangan yang sesuai fungsinya. Penentuan bentuk, ukuran dan jumlah ruangan perlu memperhatikan standar minimal jumlah ruangan. Sebuah rumah tinggal harus mempunyai ruangan yaitu kamar tidur, ruang tamu, ruang makan, dapur, kamar mandi dan kakus. Hasil dari beberapa penelitian telah membuktikan adanya hubungan antara kesehatan lingkungan dalam rumah dengan kejadian kesakitan. Studi terhadap kondisi rumah menunjukkan hubungan yang tinggi antara koloni bakteri dan kepadatan penghuni per meter persegi, sehingga adanya efek sinergi yang diciptakan dimana sumber pencemar mempunyai potensi menekan reaksi kekebalan, bersamaan dengan terjadinya peningkatan bakteri patogen dengan kepadatan penghuni pada setiap keluarga. Dengan demikian kuman yang umumnya sebagai penyebab penyakit menular saluran pernapasan terdapat makin banyak, bila jumlah penghuni semakin banyak jumlahnya. Jadi ukuran rumah yang kecil dengan jumlah penghuni yang padat serta jumlah kamar yang sedikit akan memperbesar kemungkinan penularan penyakit melalui droplet kontak langsung (Poerno, K., 1983). Demikian halnya dengan Achmadi (1991) yang melaporkan bahwa anak yang tinggal dirumah yang padat (<10 m2 / orang) akan mendapat resiko ISPA sebesar 1,75 kali dibandingkan anak yang tinggal dirumah yang tidak padat. Luas lantai bangunan rumah sehat harus cukup untuk penghuni di dalamnya, artinya luas lantai bangunan tersebut harus disesuaikan dengan jumlah penghuninya. Luas bangunan yang tidak sebanding dengan jumlah penghuninya akan menyebabkan perjubelan (overcrowded). Luas bangunan yang optimum adalah apabila dapat menyediakan 2,5 – 3 m2 untuk setiap anggota keluarga (Notoatmodjo, 2007). Untuk menilai kepadatan penghuni dalam rumah, konsep dari Fakultas Tehnik Universita Indonesia (FT UI) menggunakan luas rumah per penghuni, yang dibedakan dalam 5 kategori yaitu ≤ 3,9 m2 / orang, 4-5 m 2 / orang, 5-6,9 m2/ orang, 7-8 m2/ orang, dan ≥ 9 m2/ orang (FT UI., 1983).
d.     Status Ekonomi dan Kependidikan
Keterbatasan kesempatan untuk memperoleh pendidikan merupakan faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kesehatan, serta upaya pencegahan penyakit. Pada kelompok masyarakat dengan tingkat pendidikan yang rendah pada umumnya status ekonominya rendah pula. Mereka sulit untuk menyerap informasi mengenai kesehatan dalam hal penularan dan cara pencegahannya. Pendidikan yang rendah menyebabkan masyarakat tidak tahu cara untuk memilih makanan yang bergizi dan pengadaan sarana sanitasi yang diperlukan (Soewasti, dkk., 1997).
Tingkat pendidikan ibu yang rendah merupakan faktor resiko yang meningkatkan kematian ISPA terutama pnemonia. Kekurangpahaman orang tua terhadap pnemonia juga menyebabkan keterlambatan mereka mambawa anak mereka yang sakit pada tenaga kesehatan. Mereka beranggapan bahwa bayi/anak balita mereka hanya menderita batuk-batuk biasa, yang sebenarnya merupakan tanda awal pnemonia. Orang tua hanya memberikan obat batuk tradisional yang tidak memecahkan masalah (Tuminah, S., 1999).
Dari hasil penelitian yang dilakukan Djaya (1999), ibu dengan pendidikan lebih tinggi akan lebih banyak membawakan anak berobat ke fasilitas kesehatan, sedangkan ibu dengan pendidikan rendah lebih banyak mengobati sendiri maupun berobat ke dukun ketika anaknya sakit.
C.    Arah dan Kebijakan P2 ISPA
Pelaksanaan pemberantasan penyakit ISPA ditujukan pada kelompok usia, yaitu bayi ( 0 - <1 tahun ) dan anak balita ( 1- <5 tahun ) dengan fokus penanggulangan pada penyakit pnemonia (Depkes RI,2002).
1.    Kebijakan
Untuk mencapai tujuan program pemberatasan penyakit ISPA balita maka dirumuskan kebijakan sebagai berikut :
a.    Melaksanakan promosi penanggulangan pnemonia balita sehingga masyarakat, mitra kerja terkait dan pengambil keputusan mendukung pelaksanaan penanggulangan pnemonia balita.
b.    Melaksanakan penemuan penderita melalui saran kesehatan dasar (pelayanan kesehatan di desa, Puskesmas Pembantu, Puskesmas dan Sarana Rawat Jalan Rumah Sakit) dibantu oleh kegiatan Posyandu dan Kader Posyandu.
c.    Melaksanakan tatalaksana standard penderita ISPA dengan deteksi dini, pengobatan yang tepat dan segera, pencegahan komplikasi dan rujukan ke sarana kesehatan yang lebih memadai.
d.    Melaksanakan surveilans kesakitan dan kematian pnemonia balita serta faktor
e.    resikonya termasuk faktor resiko lingkungan dan kependudukan.
2.    Strategi
Rumusan umum strategi pemberantasan penyakit ISPA adalah sebagai berikut:
a.    Promosi penanggulangan pnemonia balita melalui advokasi, bina suasana dan gerakan masyarakat.
b.    Penurunan angka kesakitan dilakukan dengan upaya pencegahan atau penanggulangan faktor resiko melalui kerjasama lintas program dan lintas sektor, seperti melalui kerjasama dengan program imunisasi, program bina kesehatan balita, program bina gizi masarakat dan program penyehatan lingkungan pemukiman.
c.    Peningkatan penemuan melalui upaya peningkatan prilaku masyarakat dalam pencaharian pengobatan yang tepat.
d.    Melaksanakan tatalaksana kasus melalui pendekatan Manejemen Terpadu Balita sakit (MTBS) dan audit kasus untuk peningkatan kualitas tatalaksana kasus ISPA.
e.    Peningkatan sistem surveilans ISPA melalui kegiatan surveilans rutin, autopsi verbal dan pengembangan informasi kesehatan serta audit manejemen program.
3.    Kegiatan Pokok P2 ISPA
Dalam mencapai sasaran dan tujuan pemberantasan penyakit ISPA, maka Strategi Pemberantasan Penyakit ISPA dijabarkan dalam 8 kegiatan pokok yaitu promosi penanggulangan pnemonia balita, kemitraan, peningkatan penemuan kasus, peningkatan kualitas tatalaksana kasus ISPA, peningkatan kualitas sumber daya, surveilans ISPA, pemantauan dan evaluasi dan pengembangan program ISPA. Dalam pelaksanaannya kegiatan P2ISPA mengacu kepada pendekatan Manajemen Pemberantasan Penyakit Menular Berbasis Wilayah atau dengan kata lain diarahkan menanggulangi secara komprehensif faktor-faktor yang berhubungan dengan ksakitan dan kematian balita termasuk faktor resiko lingkungan, faktor resiko kependudukan dan penanganan kasus yang dilakukan secara terpadu dengan mitra kerja terkait yang didukung oleh surveilans yang baik serta tercemin dalam perencanaan dan penganggaran kesehatan secara terpadu (P2KT). Secara rinci kegiatan pokok ISPA dijabarkan sebgai berikut:
4.    Promosi Penanggulangan Pnemonia Balita
Promisi pemberantasan penyakit ISPA di Indonesia mencakup kegiatan advokasi, bina suasana dan gerakan masyarakat. Tujuan yang diharapkan dari kegiatan promosi balita secara umum adalah meningkatnya pengetahuan, sikap dan tindakan masyarakat dalam upaya dalam penanggulangan pnemonia balita. Sasaran promosi dalam P2 ISPA mencakup sasaran primer (ibu balita dan keluarganya), sasaran sekunder (petugas kesehatan dan petugas lintas program serta lintas sektor), dan sasaran tersier (pengambil keputusan). Pesan pokok, metode dan media yang digunakan sesuai dengan sasaran.
5.    Kemitraan
Merupakan faktor penting untuk menunjang keberhasilan program. Pembangunan kemitraan dalam program P2 ISPA diarahkan untuk meningkatkan peran serta masyarakat, peran serta lintas program dan lintas sektor terkait serta peran pengambil keputusan termasuk penyandang dana. Dengan demikian pembangunan kemitraan diharapkan pendekatan pelaksanaan program pemberantasan penyakit ISPA khususnya pnemonia dapat terlaksana secara terpadu dan kompherensif. Dengan kata lain intervensi pemberantasan penyakit ISPA tidak hanya tertuju pada penderita saja, tetapi juga terhadap faktor resiko (lingkungan dan kependudukan) dan faktor lain yang berpengaruh melalui dukungan peran aktif sektor lain yang berkompeten.
6.     Peningkatan Penemuan dan Tatalaksana Kasus
Kegiatan ini merupakan kegiatan terpenting, karena keberhasilan upaya penurunan kematian pnemonia pada balita ditentukan oleh keberhasilan upaya penemuan dan tatalaksana penderita ini. Dalam kebijakan dan strategi Program P2 ISPA maka penemuan dan tatalaksana penderita ini dilaksanakan di rumah tangga dan masyarakat (keluarga, kader dan posyandu), di tingkat pelayanan kesehatan swasta (praktek dokter, poliklinik swasta, RS swasta). Dengan demikian yang melaksanakan kegiatan secara langsung adalah tenaga kesehatan di sarana-sarana kesehatan tersebut dan kader posyandu di masyarakat. Adapun prosedur penemuan dan tatalaksana penderita ISPA di masing-masing sarana/tingkatan mengacu pada tatalaksana standar yang tetapkan. Sedangkan tatalaksana kasus ISPA dilaksanakan melalui pendekatan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) disarana kesehatan dasar. Disamping itu perlu dilakukan audit kasus dalam upaya peningkatan kualitas tatalaksana kasus yang dilaksanakan dengan koordinasi tingkat kabupaten/kota.
7.    Peningkatan Kualitas Sumber Daya
a.    Sumber Daya Manusia (SDM)
Sumber Daya Manusia yang terlibat dalam program P2 ISPA meliputi kader, petugas kesehatan yang memberikan tatalaksana ISPA di sarana pelayanan kesehatan (Polindes, Pustu, Puskesmas, RS, Poliklinik), pengelola program ISPA di puskesmas, kabupaten/kota, provinsi dan pusat. Upaya peningkatan kualitas SDM P2 ISPA dilakukan di berbagai jenjang melalui kegiatan pelatihan, setiap pelatihan yang dilakukan perlu ditindaklanjuti dengan supervisi dan monitoring serta pembinaan di lapangan. Selanjutnya pelaksanaan pelatihan secara terpadu dengan program lain perlu dikembangkan, terutama pelatihan menyangkut aspek manajemen atau pengelola program P2 ISPA dilakukan pula melalui kegiatan magang, asistensi tatalaksana oleh dokter ahli, studi banding, seminar dan workshop sesuai dengan kebutuhan.
b.    Logistik
Dukungan logistik sangat diperlukan dalam menunjang pelaksanaan program P2 ISPA. Aspek logistik Pemberantasan Penyakit ISPA mencakup peralatan, bahan dan sarana yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan. Sampai saat ini logistik kegiatan distandarisasi, dari logistik untuk kegiatan penemuan dan tatalaksana penderita dan logistik untuk kegiatan komunikasi dan penyebaran informasi. Untuk kegiatan penemuan dan tatalaksana penderita mencakup obat dan alat bantu hitung pernapasan (soundtimer). Untuk kegiatan komunikasi dan penyebaran informasi, logistik yang telah disediakan program meliputi media cetak dan elektronik.
8.    Surveilans ISPA
Untuk melaksanakan kegiatan pencegahan, pemberantasan dan penanggulangan penyakit termasuk ISPA secara efektif dan efisien, diperlukan data dasar (baseline) dan data program yang lengkap dan akurat. Upaya dalam mendapatkan data atau informasi tersebut diatas dilakukan melalui kegiatan surveilans epidemiologi ISPA yang aktif dengan diferivikasi oleh survey atau penelitian yang sesuai. Surveilans epidemiologi ISPA diarahkan untuk mendapatkan data dan informasi yang dapat digunakan sebagai landasan dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan program pemberantasan ISPA secara efektif dan efisien serta mampu mengantifikasi kecenderungan-kecenderungan yang bakal muncul. Data dan informasi dimaksud meliputi data dan informasi kesakitan dan kematian pnemonia, sumber penularan, faktor resiko yang berhubungan dengan pnemonia (faktor resiko lingkungan dan kependudukan) dan data yang berhubungan dengan kinerja program. Untuk itu mulai tahun 2002 dikembangkan kegiatan autopsi verbal kematian balita akibat pnemonia dan audit kasus pnemonia. Dalam pelaksanaanya di lapangan, kegiatan surveilans dapat disesuaikan dengan situasi dan kebutuhan setempat, baik mekanisme kerja maupun bentuk instrumennya. Namun demikian secara umum pelaksanaan surveilans Program P2 ISPA mengikuti langkah-langkah surveilans epidemiologi pada umumnya, sebagaimana diuraikan berikut:
a.    Tujuan Surveilans ISPA
Menyediakan informasi tentang situasi dan besarnya masalah penyakit ISPA khususnya kejadian pnemonia balita dan kematian balita akibat pnemonia di masyarakat beserta faktor resikonya dan informasi lain yang diperlukan bagi upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit ISPA secara efektif sehingga angka kesakitan dan kematian balita akibat pnemonia dapat diturunkan sesuai tujuan pemberantasan penyakit ISPA.
b.    Kegiatan
1.    Pengumpulan data
Data penyakit ISPA termasuk pnemonia balita dikumpulkan di sarana kesehatan tingkat pertama (rawat jalan rumah sakit, Puskesmas, Pustu dan Posyandu, serta pelayanan kesehatan swasta) dengan menggunakan formulir, kartu atau buku khusus. Selanjutnya kasus pnemonia dari sarana tersebut dilaporkan ke puskesmas yang menangani wilayah kerja dari sarana kesehatan yang bersangkutan, secara aktif (melaporkan sendiri) maupun pasif (puskesmas menjemput laporan dari sarana kesehatan di wilayah kerjanya) dengan menggunakan instrumen standar yang dibuat oleh puskesmas. Puskesmas selanjutnya meneruskan laporan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Untuk laporan kasus pnemonia dari rumah sakit, laporan langsung ke Dinas Kesehatan (Subdin P2M).
2.    Pengolahan dan Analisa Data
Data yang telah terkumpul, baik dari institusi sendiri maupun dari luar selanjutnya dilakukan pengolahan dan analisa. Pengolahan dan analisa data dilaksanakan baik oleh puskesmas, Kabupaten/kota maupun Propinsi.
3.    Penyajian Data Umpan Balik
Sebagai bahan atau dasar bagi kepentingan pelaksanaan kegiatan atau perbaikan pelaksanaan kegiatan, hasil kerja survailans ISPA perlu disajikan dan disebarluaskan atau diumpanbalikan kepada pihak-pihak yang memerlukannya secara teratur, baik kalangan internal maupun eksternal.
4.    Peningkatan Jaringan Informasi
Jaringan informasi antara Kabupaten/Kota, Provinsi dan pusat sangat diperlukan untuk membangun sistem informasi kesehatan yang handal sehingga mampu meningkatkan koordinasi dan keterpaduan pelaksanaannya pemberantasan penyakit ISPA antar berbagai jenjang dari mulai perencanaan sampai dengan evaluasi program.
9.    Pemantauan dan Evaluasi
Kegiatan pokok ini terdiri dari dua kegiatan penting, yaitu pemantauan (monitoring) dan penilaian (evaluasi).
a.    Pemantauan
Pemantauan Pemberantasan Penyakit ISPA (monitoring) dimaksudkan untuk memantau secara teratur kegiatan dan pelaksanaan program agar dapat diketahui apakah kegiatan program dilaksanakan sesuai dengan yang telah direncanakan dan digariskan oleh kebijaksanaan program. Pelaksanaan pemantauan Pemberantasan Penyakit ISPA dapat memanfaatkan kegiatan supervisi dan bimbingan tehnis, Pencatatan Pelaporan Pemberantasan Penyakit ISPA, dan Pemantauan program P2M&PL di Kabupaten/kota.
b.    Evaluasi dilakukan untuk menilai apakah pencapaian hasil kegiatan telah memenuhi target yang diharapkan, mengidentifikasi masalah dan hambatan yang dihadapi serta menyusun langkah-langkah perbaikan selanjutnya termasuk perencanaan dan penganggaran. Kegiatan evaluasi dilaksanakan di berbagai jenjang administrasi kesehatan, baik ditingkat pusat, provinsi maupun Kabupaten/Kota.
10.    Peningkatan Manajemen Program
Aspek manajemen program P2 ISPA yang masih memerlukan perhatian terus ditingkatkan diantaranya aspek perencanaan, pembiayaan,dan administrsi. Aspek manajemen tersebut diatas merupakan beban kerja terbesar untuk unit yang mengelola Pemberantasan Penyakit ISPA baik di tingkat pusat, provinsi maupun Kabupaten/Kota. Kegiatan ini juga dilaksanakan di berbagai tingkat administrasi kesehatan. Peningkatan manajemen program pada aspek perencanaan dilakukan melalui penerapan perencanaan dan penganggaran kesehatan terpadu (P2KT) dalam perencanaan kegiatan program P2 ISPA. Penerapan P2KT dalam pelaksanaan program P2ISPA akan efektif bila didukung kinerja surveilans yang mampu memberikan informasi yang lengkap dan akurat sehingga menghasilkan perencanaan program P2 ISPA berdasarkan fakta (evidence based palanning). alam meningkatkan manajemen pembiayaan, diupayakan penggalian potensi sumber biaya masyarakat, swasta, organisasi non pemerintah, dan lembaga-lembaga donor, mengingat kemampuan pemerintah dalam penyediaan biaya untuk program cukup terbatas. Pembiayaan dipusat terutama bersumber pada APBN dengan sumber dana tambahan dari sumber dana lain seperti dana kerjasama Pemerintah RI dengan organisasi internasional, dana bantuan pinjaman luar negeri. Di provinsi pembiayaan terutama bersumber dari APBN dan Dana Alokasi Umum (DAU) provinsi disamping sumber dana lain. Begitu pula di tingkat Kabupaten/Kota sebagian besar masih bertumpu pada APBN disamping DAU Kabupaten/Kota, sedangkan potensi sumber dana dari masyarakat atau swasta belum teralokasi dengan baik. Untuk itu dalam mewujudkan pembiayaan program P2ISPA yang memadai di berbagai jenjang administrasi kesehatan, perlu diupayakan secara terus-menerus penggalian potensi sumber biaya non pemerintah.


11.    Pengembangan Program
Dalam upaya pencapaian tujuan pemberantasan penyakit ISPA khususnya pnemonia, perlu dilakukan pengembangan program sesuai dengan tuntutan perkembangan di masyarakat. Pengembangan program P2 ISPA dilakukan diantaranya melalui kegiatan penelitian, uji coba konsep-konsep intervensi baru seperti pendekatan tatalaksana penderita ISPA, pencegahan dan penanggulangan faktor resiko baik dilingkungan maupun kependudukan, peningkatan kemitraan, peningkatan manajemen dan sebagainya serta kegiatan-kegiatan ilmiah lainnya seperti pertemuan kajian program, seminar, workshop dan sebagainya.